Minggu, 08 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Wayan Siki Didakwa dengan Pasal Pembunuhan Berencana

10 Januari 2019, 21: 01: 05 WIB | editor : I Putu Suyatra

Wayan Siki Didakwa dengan Pasal Pembunuhan Berencana

SIDANG: Oknum jukir, I Wayan Siki, yang jadi terdakwa pembunuhan rekannya satu profesi menjalani sidang pertama di Pengadilan Negeri Denpasar, Kamis (10/1). (CHAIRUL AMRI SIMABUR/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Kasus pembunuhan yang dilakukan oknum juru parkir atau jukir di Jalan Kapten Regug, tepatnya di depan kantor ekspedisi TIKI, pada 26 September 2018 lalu akhirnya bergulir ke persidangan. Terdakwa I Wayan Siki, 51, menjalani sidang untuk pertama kalinya di Pengadilan Negeri Denpasar, Kamis (10/1). Dalam sidang yang dipimpin Hakim I GN Putra Atmaja, terungkap bahwa terdakwanya harus berhadapan dengan ancaman hukuman yang tidak ringan. Sebab Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang membawa perkara ini ke persidangan mendakwa Siki dengan pasal pembunuhan berencana.

Itu terungkap saat JPU I Putu Oka Surya Atmaja membacakan surat dakwaan terhadap Siki yang bersifat subsideritas. Dakwaan pembunuhan berencana sebagaimana ketentuan Pasal 340 KUHP itu diterapkan jaksa dalam dakwaan primer.

Dalam dakwaan tersebut, Siki yang berasal dari Jalan Gunung Batur Nomor 7B, Banjar Kerandan, Denpasar ini diduga melakukan pembunuhan berencana dengan korbannya adalah I Ketut Pasek Mas. Korban sendiri sama-sama bekerja sebagai jukir.


“Bahwa terdakwa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain,” tegas Jaksa Oka saat menyampaikan bagian awal dakwaan primer terhadap terdakwa.

Selanjutnya pada dakwaan subsider, Siki diduga dengan sengaja melakukan pembunuhan sesuai ketentuan Pasal 338 KUHP. Serta yang lebih subsider lagi, dia diduga melakukan penganiayaan yang menyebabkan korbannya meninggal dunia sebagaimana Pasal 351 ayat (3) KUHP.

“Bahwa terdakwa melakukan penganiayaan kepada korban I Ketut Pasek Mas yang mengakibatkan korban kehilangan nyawa,” ujar jaksa saat memulai dakwaan lebih subsider.

Masih dalam uraian jaksa, perkara ini terjadi pada 26 September 2018 sekitar pukul 15.00 di halaman parkir TIKI, Jalan Kapten Regug Nomor 1. Disebutkan juga bahwa terdakwa sejatinya jukir resmi dari Perusahaan Daerah (PD) Parkir.

Sedangkan korban sendiri diterima terdakwa sebagai jukir sementara yang menggantikan terdakwa bila berhalangan. Namun dalam prosesnya, ternyata terjadi ketimpangan pembagian waktu bertugas antara korban dan terdakwa.

Sebelum peristiwa itu terjadi, pada pagi harinya sekitar pukul 08.00, terdakwa menerima SMS atau pesan singkat dari korban. Karena tidak bisa membaca, terdakwa meminta tolong kepada saksi, Daniel Adi Pe, yang kebetulan staf di TIKI.

Pesan yang dikirim korban kepada terdakwa menggunakan bahasa Bali. Bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia, salah satu penggalan pesan singkat itu berbunyi, “Yang saya dengar mungkin dalam waktu dekat lahan parkir ini akan diambil alih pecalang.”

Oleh terdakwa, informasi yang disampaikan korban itu dianggapnya mengada-ada. Terdakwa juga menilai itu hanya siasat korban untuk mengambil laih sendiri lahan parkir tersebut.

Usai mengetahui isi pesan singkat korban, sekitar pukul 11.00, terdakwa pergi ke tempat kosnya di Jalan Kalimutu untuk mengambil pisau sangkur. Tidak lama kemudian dia datang lagi ke lokasi kejadian sembari menunggu korban datang.

Sekitar pukul 14.00, korban tiba untuk bertugas. Saat itulah peristiwa berdarah itu terjadi. Korban didekati terdakwa sembari mencabut pisau sangkur yang semula diselipkan di pinggangnya. Pisau itu diayunkan ke perut korban.

Korban sendiri sempat menghindar. Tapi usahanya itu terhalang karena tangannya sudah dipegang terdakwa. Korban sendiri berulang kali ditusuk dengan pisau oleh terdakwa.

Sesuai hasil Visum et Repertum, di tubuh korban ditemukan adanya beberapa luka tusukan. Namun yang paling fatal dan diduga menjadi penyebab kematian korban adalah luka tusukan pada bagian dada. Luka di bagian itu menembus jantung, paru, dan hati korban.

Terkait isi dakwaan tersebut, Siki yang kemudian didampingi oleh kuasa hukum dari Pusat Bantuan Hukum (PBH) Peradi Denpasar mengaku tidak keberatan. Sehingga sidang kemarin dilanjutkan dengan agenda pembuktian.

Dalam agenda sidang yang kedua itu, jaksa menghadirkan dua orang saksi. Mereka antara lain Ridwan Widi Nugroho, staf TIKI yang pertama melihat peristiwa berujung maut itu. Serta Daniel Adi Pe, staf TIKI lainnya, yang dimintai tolong oleh terdakwa membaca SMS atau pesan singkat yang dikirim korban. 

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia