Kamis, 14 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Pura Luhur Gonjeng

Ada Lingga Tempat Mohon Keturunan yang Terus Membesar

11 Januari 2019, 07: 40: 39 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ada Lingga Tempat Mohon Keturunan yang Terus Membesar

TERUS MEMBESAR: Lingga yang terus membesar ini diyakini sebagai tempat memohon keturunan di Pura Luhur Gonjeng, Banjar Lodalang, Kukuh, Marga, Tabanan. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, TABANAN - Salah satu pura bersejarah yang ada di Tabanan, yakni Pura Luhur Gonjeng. Pura ini berlokasi di Banjar Lodalang, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan. Keberadaan beragam jenis benda peninggalan kuno, membuat pemerintah pada tahun 2004 lalu menetapkan Pura Luhur Gonjeng sebagai cagar budaya.

Menilik status tersebut, disebutkan ada 5 jenis benda purbakala yang ditemukan di pura ini. Mulai dari lingga-yoni, arca kuno, prasasti, uang kepeng dan batu megalitik. Lingga-yoni sendiri dipercaya sebagai tempat spiritual untuk meminta sentana (anak) dan tamba (obat). Sedangkan arca kuno diyakini sebagai media untuk meminta kesaktian, sekaligus penjaga kesakralan Pura Luhur Gonjeng.

Lalu prasasti berfungsi sebagai bukti otentik tentang sejarah pura. Sedangkan uang kepeng berfungsi sebagai perlengkapan upakara, dan batu megalit berfungsi sebagai media pemujaan masyarakat Desa Kukuh dan sekitarnya.

Lokasi lingga sendiri terpisah dengan yoni. Dimana lingga terdapat di jaba tengah, tepatnya dibawah pohon don kayu sugih (daun suji, Red) yang rimbun. Sedangkan yoni berada di utama mandala, tepatnya di palinggih Luhur Kaler, dan berbentuk seperti lesung. Lingga sebagai simbol laki-laki, dan yoni sebagai simbol perempuan. Lingga dipercaya masyarakat sebagai tempat untuk memohon keturunan, dan yoni lebih dipercaya masyarakat sebagai tempat untuk memohon tamba (obat) bagi hewan peliharaan mereka.

“Dan hal itu sudah banyak dibuktikan. Bahkan oleh masyarakat di luar Lodalang,” ujar Kelian Dinas Banjar Lodalang sekaligus Kelian Pemaksan Pura Luhur Gonjeng, I Ketut Sukayadnya.

Keunikan lainnya, ukuran lingga dipercaya juga terus membesar dengan sendirinya. Dan kini tingginya sekitar 60 sentimeter. Konon, dulu ukuran lingga tersebut pendek namun terus tumbuh dengan sendirinya.

Untuk kawasan pura sendiri, sama seperti pura pada umumnya. Dimana Pura Luhur Gonjeng terdiri dari nista mandala, madya mandala dan utama mandala. Pada utama mandala terdapat 8 buah palinggih, lalu pada madya mandala terdapat 5 buah bangunan. Sementara pada nista mandala yang terletak di sisi paling timur, terdapat 3 buah pelinggih dan bangunan puwaregan (dapur).

Keunikan lain dari pura ini, yakni terdapat pada posisi palinggih yang ada di utama mandala. Dimana posisi palinggih disebut dengan nyatur. Lantaran palinggih-palinggih tersebut menghadap ke empat arah mata angin. Ada yang menghadap ke barat, selatan, timur dan utara.

Selain lingga-yoni, di pura ini juga terdapat prasasti. Sukeyadnya menyebutkan, total ada 26 lembar prasasti yang ditulis dengan aksara Bali dan berbahasa kawi. “Masing-masing lempengan berisi 3 baris tulisan yang mengisahkan perjalanan Anak Agung Anom, sampai dengan membangun Pura Luhur Gonjeng dengan disertai 60 orang pengikut,” lanjutnya.

Dikatakan, Ida Anak Agung Anom merupakan Raja Mengwi yang pada masa pemerintahannya dikenal sakti. Pada suatu hari Ida Anak Agung Anom ingin mengalahkan Sang Prabu Blambangan bersama ribuan pasukannya. Setelah mempersiapkan senjata dan kekuatan, rombongan Ida Anak Agung Anom berangkat menuju tanah Jawa. Namun ketika tiba di pinggir Sungai Yeh Dati, Ida Betara Hyang Siwa Pati murka, karena Sang Raja Mengwi bersama rombongannya tidak ingat dengan sang penguasa hutan, dan dengan sombongnya ingin menyeberangi sungai dengan kesaktian yang dimiliki.

Akibatnya, para pasukan dibuat lupa diri, dan malah bertarung sesama kawannya, hingga suasana menjadi gonjang-ganjing. Ida Anak Agung Anom marah dan duka atas situasi yang terjadi, hingga akhirnya menghunuskan keris pejenengan milik Kerajaan Mengwi berluk tiga yang bernama Ki Ganja Geni atau Ki Penglipur. Kerisitu lalu ditancapkan pada tanah. Seketika itu juga keluar asap putih, dan muncul Ida Betara Hyang Siwa Pati

Namun keris yang ditancapkan tidak bisa ditarik, dan malah mengeluarkan air yang sangat wangi. Air itu lalu diminum para pasukan, hingga perlahan pasukan sadar dan berhenti berperang. Setelah itu, Sang Raja Mengwi mendapatkan pawisik agar segera membangun palinggih di lokasi tersebut. “Maka disitu dibangun lingga Ida Betara Hyang Siwa Pati, lingga Ida Betara Hyang Amerta Buana Jati, dan Betara Hyang Giri Putri, serta pengabih-pengabih ida. Seperti lingga Ida Betara Hyang Catur Sidi Sakit atau lingganing Jatu Batu sebagai batas hutan yang saat itu dikenal angker,” tuturnya.

Selanjutnya kawasan pura itu diberi nama Pura Luhur Gonjeng. Nama Gonjeng diambil dari kata gonjang-ganjing. Sebuah situasi yang sempat terjadi ketika para pasukannya saling serang. “Saat ini Pura Luhur Gonjeng diempon pemaksan yang terdiri dari 97 KK. Namun yang tangkil menghaturkan bakti dari berbagai daerah, terutama yang pernah meminta sentana (anak) atau tamba (obat), pejabat sampai anggota dewan juga ada,” sambungnya.

Untuk uang kepeng yang berjumlah 33 biji, dan berisi tulisan cina, disimpan di gedong bersama pratima berwujud Lembu. Sedangkan peninggalan batu megalitik diletakkan di halaman luar pura, dan dibelakang batu tersebut terdapat sebuah pohon kunyit yang cukup besar dan tinggi.

Kemudian pada bagian selatan pura, terdapat beji yang biasa digunakan untuk ngebejian. Disamping itu juga terdapat sebuah gedong linggih Tapakan Ratu Gede Alit. Meskipun masih satu areal di Pura Luhur Gonjeng, uniknya memiliki hari pujawali yang berbeda. “Gedong ini linggih Tapakan Ratu Gede Alit yang konon merupakan Oka (anak, Red) dari tapakan di Pura Dalem Kahyangan Kedaton,” imbuhnya.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia