Jumat, 15 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Direktur Hotel Escofera Didakwa Lakukan Penggelapan

11 Januari 2019, 08: 46: 40 WIB | editor : I Putu Suyatra

Direktur Hotel Escofera Didakwa Lakukan Penggelapan

Ilustrasi (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Lantaran dituduh merugikan perusahaan, Direktur PT Selancar Property Service (Hotel Escofera), Dimitri Maslennikov,51, harus duduk di kursi pesakitan. Mulai Kamis kemarin (10/1), pria asal Rusia itu menjalani sidang pertamanya di Pengadilan Negeri Denpasar. Dia didakwa melakukan penggelapan. Kerugiannya diperkirakan mencapai Rp 1,6 miliar lebih.

Seperti terungkap dalam dakwaan kesatu yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Gede Dewa Anom Rai dan timnya di hadapan majelis hakim yang dipimpin Hakim I Made Pasek. Dalam dakwaan alternatif pertama ini, perbuatan Dimitri tersebut sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 374 KUHP juncto Pasal 64 KUHP.

"Bahwa terdakwa dengan sengaja dan melawan hukum memiliki suatu barang berupa uang sebesar Rp 1.651.941.258 yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain tetapi yang ada dalam kekuasaan terdakwa bukan karena kejahatan melainkan karena kekuasaan baik tetap atau sementara waktu," tegas jaksa.

Sedangkan untuk dakwaan keduanya, Dimitri diduga melakukan penggelapan sebagaimana ketentuan Pasal 372 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Di kesempatan yang sama, jaksa juga menguraikan awal mula perkara tersebut. Jaksa menyebutkan bahwa PT Selancar Property Service yang beralamat di Jalan Batu Mejan, Banjar Padang Linjong, Canggu, Kuta Utara, Badung, merupakan perusahaaan penanaman modal asing (PMA).

Kegiatan perusahaan yang dipimpin terdakwa bergerak di bidang jasa manajemen hotel dengan jaringan internasional. Perusahaan itu juga bergerak dalam pengelolaan perumahan maupun gedung perkantoran. 

Dalam akta pendirian, terdakwa bukan orang satu-satunya yang memiliki saham di perusahaan tersebut. Masih ada dua orang lainnya yang menaruh saham lebih di perusahaan itu. Mereka antara lain Lily Sri Rahayu Lubis dan Grigory Brodsky.

Dalam akta tersebut juga ditetapkan juga bahwa terdakwa yang punya 200 lembar saham sebagai direktur. Sementara komisarisnya dijabat Lily Sri Rahayu Lubis dengan kepemilikan saham sebanyak 500 lembar.

Dalam perjalanannya, tugas terdakwa sebagai direktur bukannya mendatangkan untung. Malah merugikan perusahaan. Karena sejak April 2011 sampai Desember 2016, uang sewa kamar hotel justru digelapkan terdakwa dengan tidak menyerahkannya ke bagian keuangan. Nilainya Rp 928 juta lebih yang dipakai untuk kepentingan pribadinya.

"Setelah dilakukan perhitungan jumlah tamu yang menginap di Hotel Escofera dan uang sewa kamar yang lansung diterima terdakwa sejak 13 April 2011 sampai Desember 2016 sebesar Rp.928.461.508," ungkap Jaksa Anom. 

Selain itu, terdakwa juga mengambil uang dari rekening perusahaan melebihi kebutuhan yang diajukan ke bagian keuangan. Uang tersebut dipakai juga untuk kepentingan pribadi terdakwa. "Di luar kepentingan perusahaan. Nilainya sebesar Rp.723.488.750," beber jaksa.

Perbuatan terdakwa itu kemudian terungkap setelah pihak perusahaan melakukan audit. Berdasarkan audit yang dilakukan tim auditor, perusahaan tersebut mengalami kerugian sebesar  Rp 1.651.450.258.

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia