Selasa, 26 Mar 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Polisi Selidiki CCTV, Ada Enam Orang Ingin Adopsi Bayi dalam Kardus

11 Januari 2019, 10: 08: 12 WIB | editor : I Putu Suyatra

Polisi Selidiki CCTV, Ada Enam Orang Ingin Adopsi Bayi dalam Kardus

CALON ORTU: Dayu, 46, salah seorang calon orangtua angkat menemui Niken Astuti di ruang kerjanya, Kamis (10/1) siang. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Jajaran Polsek Kota Singaraja masih melakukan penyelidikan dan pengembangan, untuk mengungkap identitas orang tua  yang membuang bayi tak berdosa berjenis kelamin laki-laki di depan Tempat Penitipan Anak (TPA) Lilahita di wilayah Kelurahan Banjar Tegal, Buleleng, pada Rabu (9/1) pagi .

Sejumlah keterangan saksi kini masih dikumpulkan pihak kepolisian. Terutama keterangan dari penemu bayi tersebut. Bahkan, pada Kamis (10/1) jajaran Unit Reskrim Polsek Kota Singaraja telah melakukan gelar perkara di Mapolsek Kota Singaraja, untuk memudahkan dalam proses penyelidikan.

"Memang ada beberapa kemungkinan saat gelar tadi. Ada keterangan warga, bilang sekitar jam setengah 5 (04.30 wita) kotak dus berisi bayi itu belum ada. Kemudian setengah jam kemudian, jam 5 pagi kotak dus berisi bayi itu sudah ada dan ditemukan," kata Kanit Reskrim Polsek Kota Singaraja, Iptu. Suseno.

Saat ini Polsek Kota Singaraja masih mengecek di sekitar lokasi apakah ada CCTV untuk memudahkan proses penyelidikan. "Kami masih lihat-lihat sekitar, mulai dari jalan Pahlawan, masuk ke jalan Parikesit apa ada CCTV disekitar. Jika ada, maka itu memudahkan kami," jelas Suseno.

Di tempat terpisah,  sejumlah calon orangtua asuh mendatangi kantor Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Buleleng. Bahkan tercatat enam calon orangtua asuh datang dan melakukan konsultasi di ruang kerja Niken Puji Astuti selaku Kepala Seksi Pelayanan Sosial Anak dan Lanjut Usia Dinas Sosial (Dinsos) Buleleng.

Niken Puji Astuti mengungkapkan proses adopsi temuan bayi laki-laki hingga saat ini belum memiliki nama itu, bakal memakan waktu cukup lama. Selain melakukan seleksi administrasi terlebih dahulu terhadap calon orangtua asuh, calon orangtua harus menjalani tes kesehatan dan tes psikologi.

“Calon orangtua harus menjalani tes kesehatan dan tes psikologi. Tes psikologi ini dapat dilakukan jika bayi sudah berumur enam bulan. Kami akan melihat chemistry dari calon keluarga yang mengadopsi. Kami ukur keseriusannya. Secara materi pun harus dipikirkan,” ungkap Niken saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (9/1).

Niken membeberkan, hingga saat ini tercatat ada enam keluarga yang melakukan konsultasi secara lisan untuk mengadopsi bayi tersebut.

“Kalau yang ingin mengadopsi banyak banget, dari berbagai daerah, ada dari Buleleng, Gianyar, bahkan Kalimantan. Kalau yang datang langsung ke kantor enam orang. Kemarin tiga orang, tadi pagi hingga siang ini, juga tiga orang," ungkapnya.

Nah, proses adopsi terkesan rumit, lantaran bayi laki-laki memiliki berat lahir 3,3 kilogram dan panjang tubuh 52 centimeter itu, sudah terekspose oleh media, bahkan saat ini sedang dalam penanganan oleh pihak kepolisian sebelum nantinya diserahkan kepada pemerintah.

"Maka dari itu, prosedur dan mekanisme proses adopsi menjadi panjang. Bayi saat ini dalam kondisi sehat, masih di RS Kerta Usadha guna proses penyelidikan pihak kepolisian," imbuhnya.

Niken menambahkan, proses adopsi bayi baru dapat diserahkan kepada orangtua angkatnya jika sudah berumur satu tahun.

"Kalau sudah selesai proses penyelidikan, Dinsos Buleleng akan menitipkan bayi yang belum diberi nama itu ke Yayasan Metta Mama dan Maggha di Jalan Gunung Lawu, Pemecutan Kelod, Denpasar Barat,” paparnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia