Rabu, 13 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Ini Penyebab Bali Terasa Sangat Gerah

11 Januari 2019, 20: 12: 19 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ini Penyebab Bali Terasa Sangat Gerah

LEBIH LAMA: Matahari tenggelam lebih lama sekitar 20 menit dari biasanya. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Suhu di Bali dan sekitarnya akhir-akhir ini terasa lebih panas. Kendati memasuki musim hujan, tapi temperaturnya mencapai 22-35 derajat Celcius. Berdasarkan data prakiraan cuaca, sejak 11-12 Januari 2019, akan terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Namun mengapa suhu permukaan bumi masih membuat gerah?

Kepala Bidang Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar Iman Fatchurochman mengatakan, fenomena panas bumi diakibatkan oleh ketebalan awan di permukaan bumi. Menurutnya, bumi saat malam hari akan mengalami pendinginan.

Bumi akan mengeluarkan suhu panas dari permukaan bumi ke udara. Sementara cuaca akan hujan, mengakibatkan awan tebal terbentuk menghalangi pelepasan suhu panas bumi.

"Sehingga kita akan merasa lebih panas. Dengan adanya awan tebal yang menghalangi panas bumi, akan membuat suhu panas. Dari sisi prakiraan, cuaca tidak esktrem," jelas Iman kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Jumat (11/1).

Iman menambahkan, cuaca panas memang dirasakan. Hal itu disebabkan karena letak matahari yang berada persis di garis khatulistiwa.

"Suhu udara tidak beda jauh dengan November dan Desember 2018 yang mencapai 22 sampai 35 derajat Celsius," imbuhnya.

Kata dia, matahari dapat dinikmati lebih lama dan akan berpengaruh terhadap suhu. Fenomena ini diakibatkan oleh letak matahari yang berada di bumi bagian selatan atau garis equator. Siklus dalam satu tahun ini disebut fenomena gerak semu matahari.

Iman menjelaskan, pada Desember 2018 hingga Maret 2019, matahari berada di bumi selatan. Apa efeknya? Matahari di bagian selatan, bumi akan dapat penyinaran matahari lebih lama dan mengalami siang lebih lama. Sedangkan bagian utara terjadi musim dingin.

"Matahari terbit normal biasanya pukul 06.05, tapi sekarang menjadi 06.20. Saat terbenam umumnya pukul 18.00 jadi 18.40 atau sampai 18.50. Itu sekitar 20 menit telat, dan bahkan jam 7 pagi saja sudah terlihat siang," tukas Iman. 

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia