Selasa, 18 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Kolom
LOLOHIN MALU

Menunggu Pergub Takilan Puyung

Oleh: Made Adnyana Ole

12 Januari 2019, 06: 00: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Menunggu Pergub Takilan Puyung

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

SETELAH peraturan tentang pembatasan penggunaan plastik sekali pakai, kini saya menunggu peraturan gubernur tentang takilan. Namanya Pergub Takilan, yakni peraturan ringan yang terasa berat: membiasakan diri ke mana-mana membawa takilan.

Apa itu takilan? Kamus di situs BASAbali Wiki menyebut takilan itu bungkusan makanan dengan upih (pelepah pohon pinang) serta diikat. Sebagai generasi kuno, saya kenal benda semacam itu. Upih dikuliti, didapatlah lembaran cukup lentur seperti kain. Lembaran itu bisa ditekuk, dilipat atau digulung,dengan mudah untuk membungkus makanan sebagai bekal ke mana pun kita pergi.  

Ada juga lembar upih dipakai membungkus daging cincang (daging untuk bahan urutan/sosis Bali), yang kemudian disimpan di atas tungku dapur atau langatan. Benda berisi daging itu di desa saya disebut bebontot. Inilah salah satu menu tradisional dengan rasa dahsyat di sekitar Hari Galungan di masa lalu, selain tentu saja urutan, lawar, dan be genyol.  

Soal takilan, kini benda itu punah. Jika pun ada, mungkin status sosialnya sudah meningkat jadi benda kerajinan di dunia pariwisata, difungsikan sebagai benda mewah di hotel mewah, atau sekadar dipamerkan jadi benda dulu kala yang antik, nyentrik dan eksotik. Nasibnya sama dengan wadah tradisional lain semacam dungki (wadah untuk ikan) dan bangsung (keranjang untuk babi). Benda itu kerap ditemukan di hotel mewah dengan fungsi yang berbeda, misalnya dungki untuk kantong tisu di toilet dan bangsung untuk mengurung lampu taman.   

Tapi sebagai ujaran kata, takilan tak pernah punah. Coba tanya Widi Widiana, penyanyi pop Bali yang ngetop sejak era 1990-an. Ia punya lagu berjudul Selimpuk Takilan Puyung. Selimpuk atau selimpukan, atau di daerah lain biasa disebut selimputan, artinya tersandung. Jadi, selimpuk takilan puyung bisa diterjemahkan menjadi “tersandung bungkusan kosong”. Artinya lagi, sudah jatuh karena tersandung, eh, bungkusannya kosong lagi. Maksudnya, ya, benar-benar sial.

Lagu itu berkisah tentang cinta remaja masa kini, tentang cinta yang tak sesuai harapan. Tapi mendengar judulnya saya seperti membayangkan kisah cinta remaja di pedesaan pada masa-masa di bawah tahun 1980-an.  Di zaman kini mana ada orang selimpuk takilan puyung? Takilan sudah tak ada lagi. Bahkan takilan yang paling puyung sekali pun. Yang ada kini, ya, selimpuk tas kresek kosong atau selimpuk tas plastik rombeng. Atau lebih sial dan keterlaluan, bisa selimpuk kantong plastik jumbo bekas pembungkus kulkas tiga pintu atau bekas pembungkus spring bed.        

Saya suka lagu Widi Widiana itu bukan karena aransemen atau musikalnya, meski saya sangat suka lagunya yang lain semisal Sesapi Putih dan Sekadi Keset. Saya suka lagu Selimpuk Takilan Puyung hanya gara-gara judulnya memuat kata takilan. Kata takilan memang seperti ahli sihir di kepala saya dan menyihir saya untuk terus mengingatnya sejak kanak-kanak. Saya selalu tertarik menggunakan kata takilan, dan selalu suka mendengar kata itu diucapkan oleh orang-orang, bahkan di zaman modern ketika takilan sudah tak ada yang benar-benar tahu seperti apa bentuknya.

Pada saat pujawali di Pura Besakih misalnya, usai sembahyang, saya senang sekali mendengar ketika seseorang berujar,“Ayo bukak takilane!” Maksudnya membuka bekal makanan. Dan jangan dibayangkan yang dibuka adalah takilan berupa upih yang diikat tali. Yang dibuka adalah tas plastik berisi sejumlah kotak styrofoam, dan dari dalam kotak menyembullah nasi goreng, ayam betutu, atau ayam geprek.

Pernah suatu kali saya menemukan seorang pegawai laki-laki yang setiap pagi selalu menenteng tas plastik ke kantornya. Teman-teman kantornya menyambut dengan ucapan nada satir. “Wah, pegawai teladan nih, setiap hari bawa takilan ke kantor!” Yang dibawa si pegawai tentu bukan takilan dalam arti sebenarnya, melainkan makanan berbungkus tas kresek untuk bekal makan siang agar ia tak perlu lagi istirahat pulang ke rumah. Tapi teman-temannya menyebut tas itu takilan.

Saya pernah mendengar sebuah lelucon pada pementasan wayang kulit. Punakawan Sangut kerap berucap bahwa saudaranya, I Delem, ke mana-mana membawa takilan. Kata Sangut, “Nyaman raga ento ideh-ideh ngaba takilan, jange di baongne!” “Saudara saya itu ke mana-mana membawa bungkusan, ditaruh di lehernya!” Penonton wayang pun tertawa briag-briag, karena paham jika Sangut sedang mengejek fisik I Delem yang lehernya gondong alias gondok.

Itu cukup membuktikan takilan masih cukup populer, hanya barangnya saja sudah moksah digerus zaman. Maka, ketika Gubernur Bali mengeluarkan pergub pembatasan plastik sekali pakai, saya berimajinasi untuk menunggu pergub susulan: Pergub Takilan Puyung.

Imajinasinya seperti ini: Setelah plastik dibatasi, banyak orang Bali kembali menggunakan bahan alami, misalnya membungkus makanan dengan daun pisang, belanja ke pasar membawa penarak, dan membawa bekal ke mana-mana dengan menggunakan takilan. Mungkin gerak hidup akan jadi lebih lambat, karena bahan-bahan alami itu tak bisa didapat atau dibuat dengan cepat sebagaimana mendapatkan tas plastik sekali pakai.

Dengan begitu, mungkin orang jadi malas ke pasar setiap hari. Lalu mereka akan membagi waktu, misalnya ke pasar tiga hari sekali. Dan mereka akan ingat kembali hari-hari pasaran di pasar desa yang dulu memang dibuka tiga hari sekali sesuai perhitungan tri wara, yakni pasah, beteng dan kajeng. Hari di luar pasaran bisa digunakan untuk konsentrasi bekerja.       

Lalu, orang kembali giat menanam pisang, selain memanen buahnya, juga bisa memanfaatkan daunnya. Orang kembali menanam pinang agar bisa mendapat upih untuk takilan. Mungkin orang akan menahan godaan membabat pohon bambu di belakang rumah agar keranjang dan penarak diproduksi dengan cepat. Hari-hari memang terasa lambat. Tapi bukankah karena terdesak hidup cepat maka kita terbiasa menggunakan bahan-bahan instan yang bisa didapat dengan mudah, seperti plastik sekali pakai?    

Pergub Takilan Puyung isinya semacam aturan penggunaan penarak untuk ke pasar. Atau penggunaan kisa (semacam tas dari anyaman daun kelapa) untuk membawa banten ke pura. Karena penggunaan kisa untuk membawa ayam pun kini jarang dilakukan. Lihatlah, ayam untuk ke tajen pun kini dibawa dengan tas plastik yang di sejumlah bagiannya dilubangi sulutan rokok, agar ayam bisa menghirup udara dan tak pingsan sebelum diadu di arena.

Karena namanya Pergub Takilan Puyung, tentu diatur juga soal kewajiban orang bawa takilan jika bepergian ke pura atau sekadar tamasya ke tempat wisata. Takilan itu bisa saja diisi bekal makanan dari rumah seperti saur, telur rebus dan tipat. Jika tak sempat memasak, bisa juga membawa takilan puyung. Bukan untuk membuat orang selimpuk seperti lagu Widi Widiana,tapi sebagai wadah jika ingin menikmati ayam goreng KFC. Bukankah menarik jika ayam KFC dibungkus dengan takilan? Bisa-bisa itu jadi daya tarik wisata. (*)

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia