Minggu, 16 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Dalam Sehari Jaring 185 Pelanggaran, Didominasi Kaum Milenial

12 Januari 2019, 07: 29: 36 WIB | editor : I Putu Suyatra

Dalam Sehari Jaring 185 Pelanggaran, Didominasi Kaum Milenial

PANEN : Satuan Lalu Lintas (Sat Lantas) Polres Badung panen pelanggaran lalu lintas anak di bawah umur serta masyarakat yang mengantarkan anaknya tanpa helm. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, BADUNG - Razia lalu lintas dengan sistem hunting (patroli) kian digencarkan Satuan Lalu Lintas (Sat Lantas) Polres Badung. Seperti yang dilanjutkan pada Jumat pagi (11/1) di pertigaan Jalan Gunung Sanghyang. Samping SMP Budi Utomo, Kerobokan, Kuta Utara.

Selama dua jam melakukan penertiban di kawasan ini, petugas berhasil menindak 106 pelanggar. Jenis pelanggaran didominasi tanpa SIM sebanyak 14 lembar surat tilang, tanpa SIM dan STNK sebanyak sembilan lembar surat tilang, tidak menggunakan helm sebanyak 82, dan satu pelanggaran kelengkapan.

"Kami sita 87 STNK, 10 SIM, dan sembilan roda dua. Razia ini kami lakukan dengan sasaran penindakan terhadap anak di bawah umur maupun masyarakat yang mengantarkan anaknya ke sekolah tidak membawa helm," ungkap Kasat Lantas Polres Badung Iptu Kanisius Franata di sela-sela razia.

Sementara itu, jika dipelototi anatomi usia pelanggaran lalu lintas ini justru didominasi rentang usia 41 sampai 50 tahun sebanyak 36 orang. Urutan kedua usia 31 sampai 40 tahun sebanyak 26 orang.

Disusul kemudian dengan rentang usia di bawah 17 tahun alias kaum milenial sebanyak 19 orang. Rentang usia 18 sampai 30 tahun sebanyak 15 orang. Dan di atas usia 51 tahun sebanyak 10 orang.

Sedangkan rekapitulasi data hasil penindakan dalam sehari di beberapa titik pelanggaran sebanyak sembilan pelanggar tanpa SIM, tujuh pelanggar tanpa STNK, sembilan pelanggar surat-surat, 147 pelanggar helm, empat pelanggar rambu, empat pelanggar marka, dua pelanggar APILL (alat pemberi isyarat lalu lintas) dan empat pelanggar dimensi. Sehingga dalam sehari saja sebanyak 185 penindakan pelanggaran.

Sedangkan beberapa barang bukti yang disita 135 STNK, 41 SIM, dan sembilan unit roda dua.

Adapun anatomi usia pelanggaran lalu lintas yang ditindak adalah dibawah 17 tahun sebanyak 89, usia 18 sampai 30 tahun sebanyak 47, usia 31 sampai 45 tahun sebanyak 21, usia 46 sampai 55 tahun sebanyak 15 dan diatas 55 tahun sebanyak 13.

"Banyak usia kaum melenial. Anak-anak SMP sampai dengan kuliah berarti. Padahal helm lho. Mereka ini cenderung menggampangkan atau untuk life style," ungkapnya.

Kanisius menambahkan bahwa Polres Badung akan terus mengadakan razia kendaraan. Karena melihat data yang ada yakni 600 orang rata - rata meninggal setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas di Bali. "Kami tidak mau nyawa hilang sia-sia satu atau dua orang per hari akibat pelanggaran lalu lintas," ucapnya.

Rupanya tindakan razia ini juga mendapat respon yang lumayan keras dari pelanggar. Salah satunya pasutri pelanggar yang hendak mengantarkan putrinya kelas 6 SD di SD VI Pemecutan Denpasar. Tak terima ditilang pasutri yang mengendarai Honda Beat DK 4818 AAU ini marah-marah kepada petugas.

"Kenapa yang ditilang dari barat saja. Itu....itu...itu... mereka bisa lepas. Banyak yang lewat nggak ditilang juga. Kenapa mereka nggak distop dan razia ini nggak dikasih tanda. Kasihan ini anak-anak sekolah kok nggak dikasih toleransi," ungkap pasutri tersebut.

Meski sadar dirinya melanggar namun tetap saja ngotot meminta keadilan untuk menilang pelanggar lain yang kebetulan beberapa ada yang lolos. Tak terima penjelasan salah satu petugas tilang, pasutri tersebut kemudian mendatangi Kasatlantas dan marah-marah.

Tanpa menyadari pentingnya keselamatan putrinya, sang ibu protes panjang lebar kepada Kanisius dengan alasan anaknya akan mendapat hukuman karena terlambat gara-gara ditilang. Untuk meredam emosi pasutri ini, Kanisius hingga menyuruh KBO Lantas Iptu I Putu Dadi agar mengantarkan putri pasutri ini ke sekolahnya.

Namun tawaran baik itu rupaya ditolak oleh anak tersebut. Saat putrinya ditanyai, sembari masih menangis justru mengaku tidak akan dihukum jika telah satu kali. Namun akan dihukum jika telat dua kali.

Hal senada juga disampaikan oleh salah satu pelajar yang mengaku siswi SMP 7 ini. Bahwa jika telat sekali kemungkinan hukuman yang akan didapatkannya berupa membuang sampah. Dan lebih dari dua kali akan dihukum berolahraga.

Dari data pelanggaran dan respon pelanggar lalu lintas ini, masih banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya keselamatan berkendara walapun sesederhana memakai helm saat mengantar anak-anaknya sekolah.

(bx/afi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia