Rabu, 20 Feb 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Mepeed di Kukuh, Tak Ada Jor-joran, yang Dimiliki, yang Dihaturkan

15 Januari 2019, 19: 24: 37 WIB | editor : I Putu Suyatra

Mepeed di Kukuh, Tak Ada Jor-joran, yang Dimiliki, yang Dihaturkan

MEPEED: Tradisi Mepeed di Pura Dalem Kahyangan Kedaton, Desa Pakraman Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan, Selasa (15/1). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, TABANAN - Tradisi Mapeed yang rutin digelar di Pura Dalem Kahyangan Kedaton, Desa Pakraman Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan, serangkaian dengan hari Pujawali yang jatuh pada Anggara Kliwon Medangsia, Selasa (15/1) seperti biasa selalu menjadi bidikan para photographer dari berbagai daerah yang khusus datang untuk mengabadikan momen tersebut. Disamping itu, wisatawan yang berkunjung ke DTW Alas Kedaton juga nampak antusias menyaksikan tradisi tersebut.

Tradisi mapeed ini diikuti oleh ibu-ibu PPK dari sejumlah Banjar yang ada di Desa Kukuh, mulai dari PKK Banjar Adat Menalun, PKK Banjar Adat Lodalang, PKK Amertasari, Mekarsari, Banjar Tengah, Munggal, Tatag, Pande, Dalem Kerti, Batanwani, Tegal dan hingga Denuma

Bendesa Adat Kukuh, I Gede Subawa menerangkan tradisi Mapeed ini berasal dari kata Mapaid atau Mererod yang dalam bahasa Indonesia artinya berbaris dengan menjunjung persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. “Dan tradisi Mapeed kali ini diikuti oleh 12 Desa Adat se-Desa Kukuh serangkaian dengan pujawali di Pura Kahyangan Kedaton,” ungkapnya.

Ditambahkannya, tradisi Mapeed digelar di dua Pura, yakni Pura Desa dan Pura Kahyangan Kedaton. Dimana para ibu-ibu PKK akan berbaris rapi menggunakan pakaian yang seragam dan menjunjung pajegan dengan ketinggian yang sama yakni lima tingkat sehingga akan terlihat begitu indah.

Perbekel Desa Kukuh, I Made Sugianto, menambahkan, disamping merupakan sebagai persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Mapeed merupakan wujud kebersamaan krama dan kekompakan krama Desa Kukuh. Dimana khususnya dalam menghaturkan persembahan, tidak melihat krama yang ekonominya rendah maupun tinggi, karena pajegan yang dijunjung ukurannya sama tinggi. “Apa yang dimiliki itulah yang dihaturkan krama, tidak ada istilah jor-joran. Semuanya sama,” tegasnya.

Usai Mapeed, juga dilakukan tradisi Ngerebeg yang paling dinanti anak-anak hingga orangtua. Ngerebeg merupakan ritual berlari keliling pura sebanyak tiga kali dengan membawa tombak, bandrang, umbul-umbul, tedung, dan lelontek sebelum pujawali di Pura Kahyangan Kedaton disineb. “Sementara untuk peserta anak-anak berlari membawa ranting kayu. Dimana ngerebeg bermakna gereget, suka cita karena seluruh rangkaian upacara berjalan dengan lancar,” papar Sugianto.

Saat ngerebeg berlangsung, patapakan Barong Ket Dan Barong Landung dari 5 Banjar Pakraman akan tedun dari Balai Peparuman untuk menyaksikan krama ngayah. Menurutnya setiap pujawali, maka petapakan dari 5 Banjar Pekraman akan lunga (datang,Red) ke Pura Kahyangan Kedaton dan melinggih di Balai Peparuman.

Hanya saja, para peserta ngerebeg tak berani berlari sebelum pamangku pura memercikkan tirta sebagai tanda aba-aba. Pemangku yang bertugas pun standby membawa bumbung berisi tirta untuk dipercikkan kepada peserta setiba di jaba tengah pura. Dan segala prosesi upucara harus selesai saat sandikala, sekitar pukul 18.20 wita.

“Krama pangempon memang menghindari upacara Pujawali selesai pada malam hari, karena ada pantangan untuk menyalakan api sebagai penerangan. Termasuk krama pun pantang menyalakan dupa saat bersembahyang serta pantang menggunakan kwangen. Pura ini juga tanpa penjor seperti piodalan umumnya di Bali. Sementara tamiang tak terbuat dari janur tetapi dari daun pisang emas,” lanjutnya.

Dan sebelum upacara tuntas serta pujawali disineb, para pemangku ngayah membawakan tari Kencang-kencung dan Tari Pendet. Kencang-kencung merupakan tradisi pamangku menari saling berhadap-hadapan. Satu kelompok membawa membawa tekor (piring terbuat dari daun pisang, Red), dan kelompok lainnya membawa tirta. Saat mereka bertemu di titik tengah, pamangku yang bawa tirta membagi tirta kepada pamangku lainnya yang bawa tekor. “Di Desa Kukuh ada 102 orang pemangku, dan seluruhnya akan membawakan tari Kencang-kencung sebelum pujawali disineb,” pungkasnya. 

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia