Jumat, 24 May 2019
baliexpress
icon featured
Features
Sate Babi Bu Ison di Banjar Muncan, Kapal

Rasa Juara, Pedas Manisnya Bikin Pelanggan Ketagihan

20 Januari 2019, 20: 34: 56 WIB | editor : I Putu Suyatra

Rasa Juara, Pedas Manisnya Bikin Pelanggan Ketagihan

KEWALAHAN: Ketut Widia, penjual sate babi di Kapal kualahan melayani pembeli. Seribu tusuk sate yang dijual bisa ludes sampai pukul 14.00. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, MENGWI - Masyarakat Bali sudah tak asing dengan rasa dan tekstur olahan daging babi. Selain dapat dijadikan makanan khas seperti lawar, pepes, babi guling, daging babi tentu dapat diolah menjadi sate pelecing.

Warung sate babi "Bu Ison" adalah sekian banyak warung sate yang boleh dibilang punya cita rasa yang konsisten. Saking konsisten, pelanggan pun tak pernah kecewa dibuatnya.

Setiap hari, ada saja pelanggan yang antri memenuhi tempat duduk yang disediakan pemilik warung. Warungnya yang beralamat di Banjar Muncan, Desa Kapal, Mengwi, selalu banjir pembeli. Bahkan ada empat sampai tujuh mobil menepi untuk turun menikmati seporsi sate babi "Bu Ison".

Adalah Ketut Widia, 60, dan istrinya Ni Made Sarni, 56 yang mengelola warung sate itu. Selama kurang lebih 20 tahun, pasangan suami istri asal Banjar Tegalkawan, Pemecutan Kelod, Denpasar Barat itu bertahan berjualan sate.

Meski dahulu sempat mengalami berbagai halangan, namun semangatnya menekuni bisnis kuliner tak pernah kendor. Berkat konsistensinya itu, langganan pun bertambah.

Ketut Widia mengaku, semula berjualan secara berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Saat itu, pelanggan belum sebanyak sekarang. Tapi ketika ia memutuskan berjualan tetap di Banjar Muncan Kapal, pelanggan makin beragam.

Tak hanya warga lokal, wisatawan dari China juga tertarik mencicipi masakan hasil racikan tangan Ketut Widia. "Ada beberapa jadi langganan ke sini. Yang menarik bagi mereka kan masakan rasa pedas manis," katanya.

Memang, cita rasa sate babi Ketut Widia bisa dikatakan juara. Dengan harga Rp 15 ribu, pembeli bisa menikmati satu porsi sate babi dengan tipat, lengkap dengan sambal pedas manis, plus air minum. Ia juga mengakui, tekstur ketika dimasak tetap lembut dan alot, tidak keras dan bumbu meresap. "Itu yang diakui tamu luar," imbuhnya.

Awal jualan, Widia mengaku pelanggan hanya beberapa orang saja. Sejak enam tahun terakhir ini pelanggan makin ramai. "Buktinya jualan mulai jam 10 (pagi), bisa habis jam 2 sudah pulang," demikian tutur Ketut Widia kepada koran ini.

Ketika koran ini menyambangi, Ketut Widia hampir tak bisa diwawancarai. Saking sibuknya, ia harus melayani belasan pembeli yang sudah antri di tempat berukuran 5x4 meter itu. Tangannya dengan cepat mengibas-ngibas kipas sambil memilah sate yang sudah matang. Dia mengaku, sekitar seribu tusuk bisa ludes pada jam makan siang.

Saking banyak pembeli, istrinya yang bertugas menyiapkan dagangan di rumah malah ikut turun tangan. Anaknya yang bekerja di salah satu perusahaan swasta ikut membantu tatkala pembeli menumpuk di akhir pekan.

Salah seorang pembeli, Putu Rudia, mengaku tak pernah kapok. Saking suka dengan rasanya, ia memilih membeli sate Bu Ison apabila ada upacara agama. "Beli sate di sini untuk tamu kalau ada upacara di rumah. Seperti kemarin keponakan menikah, beli sate di sini 500 tusuk untuk resepsi," ucapnya. 

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia