Selasa, 25 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Features
Kisah Keluarga Asal Tenganan di Batubulan

Dikira Keracunan, Ternyata Muntah-muntah karena Jarang Bisa Makan

22 Januari 2019, 19: 40: 08 WIB | editor : I Putu Suyatra

Dikira Keracunan, Ternyata Muntah-muntah karena Jarang Bisa Makan

GUBUK: Kondisi rumah salah satu warga Tenganan, Manggis, Karangasem yang hidupnya kurang mampu tinggal di Jalan Bumi Rahayu, Batu Aji, Batubulan Gianyar, Selasa kemarin (22/1). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Satu keluarga yang tinggal di kawasan perumahan Jalan Bumi Rahayu, Batu Aji, Batubulan, Gianyar sontak menjadi pusat perhatian warga setempat, Selasa (22/1). Pasalnya Wayan Deni Putrajaya, 9, muntah-muntah setelah diketahui makan ikan pindang. Namun setelah diperiksa ternyata lambungnya mengalami luka, lantaran jarang makan. 

Nenek Deni Putrajaya, Ni Nyoman Simpen mengatakan, cucunya itu sejak Sabtu lalu (19/1) tidak makan. Lantaran kondisi perekonomian keluarganya pas-pasan. "Saya di sini tinggal bersama suami, anak, mantu dan tiga cucu. Kami sudah biasa tidak makan karena tidak mampu beli beras," jelasnya. 

Dalam kesempatan itu, ia menerangkan bahwa aslinya mereka berasal dari Tenganan, Manggis, Karangasem dan tinggal di Batubulan di atas lahan milik seseorang warga setempat. Mereka dikasi minjam sejak tahun lalu. Sebelumnya mereka kos di Denpasar. 

Namun nasib apes dialami anaknya yang pedagang bunga pacah, dikatakan minjam uang sebesar Rp 1 juta di rentenir dan belum bisa dikembalikan olehnya. Sehingga sepeda motor yang dimiliki diambil dan rentenir tempat anaknya minjam uang sering datang menagih utang. "Saya kadang-kadang bisa kerja di proyek, itupun kalau penyakit saya tidak kumat. Karena saya mengalami kanker panyudara tapi sudah sempat dioperasi dan kaki saya masih isi pen karena patah," kata Simpen. 

Anak dan mantunya itu dikatakan hanya bekerja sebagai pedagang bunga saja. Sekarang tidak masa panen sehingga mereka sama sekali tidak ada yang bekerja. Sampai makan pun mereka tidak bisa. Namun beberapa tetangganya ada yang kasihan dan memberikan beras dan air bersih. 

"Ini listrik saya dikasi sama tetangga, air juga kadang saya minta pakai ember. Kalau di sumur airnya keruh, takut juga jika untuk minum. Untuk makan kami sama sekali sehari itu belum tentu bisa makan. Makanya cucu yang dikira keracunan ini muntah-muntah saja terus sejak dua hari lalu ternyata lambungnya luka," ungkap dia. 

Saat koran ini mendatangi rumahnya, tampak mereka tinggal di sebuah rumah yang semi permanen berukuran 5x4 meter. Bahkan lantainya pun berbahan tanah dan mereka tidur jadi satu bersama anjing peliharaannya. Begitu juga saat dilihat di dapur, tampak mereka baru masak beras yang diberikan oleh tetangganya. 

Suami Simpen sendiri yang bernama Wayan Rigig menjelaskan anaknya baru berumur sekitar 35 tahun. Saat itu dia dikatakan masih bersama istrinya masih mengurus obat anaknya yang sempat dilarikan ke rumah sakit tersebut.

"Tadi cucu saya lemes, terus anak saya sudah bingung mau minjam uang kemana. Untung tetangga ada yang bantu ngajak ke rumah sakit dan syukurnya bisa diajak pulang," imbuh pria asli Tenganan, Manggis tersebut. 

Menyadari kondisi kehidupannya yang kurang mampu ia berharap cucunya dapat diperhatikan dari pemerintah. Bahkan dua cucunya yang kelas 3 SD dan 2 SD putus sekolah, dan satunya lagi memang belum pernah sekolah. "Bagaimana mau melanjutkan sekolah dengan kondisi seperti ini," imbuh dia. 

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia