Jumat, 19 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Features
Luh Dersi, Ibunda Selebgram Bali

Kini Semua Panggil Memek, Terkesan Video Rasa yang Dulu Pernah Ada

25 Januari 2019, 21: 25: 54 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kini Semua Panggil Memek, Terkesan Video Rasa yang Dulu Pernah Ada

NATURAL: Luh Darsi dan Gede Suweca saat ditemui di kediamannya, Jalan Teratai, Kelurahan Banyuasri, Singaraja. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Masih ingat dengan video pendek berjudul ‘Kopi Rasa yang Dulu Pernah Ada’? Video kocak itu dibintangi oleh Luh Dersi, 70 dan Gede Suweca, 84. Keduanya adalah orang tua kandung Kadek Puja Astawa, Selebgram Bali sekaligus videografer yang karyanya selalu segar dan layak dinanti. Kendati usia kedua orang tuanya sudah sepuh, namun penampilannya di setiap video berdurasi pendek tetap natural, menjiwai dan kocak. Bagaimana kisahnya?

Dersi :“Kakne payu ngae kopi?”

Suweca: “Payuu..be ngae kopi,”

Dersi    : “Kopi rasa ape gaenang ne be abaange jak kadek?”

Suweca: “Rasa yang dulu pernah ada. Nah yen sing ade, rasa bertepuk sebelah tangan gaenang”

Dersi    : “Sing taen enduk jelemane to,”

Seperti itulah naskah video pendek berjudul ‘Kopi Rasa yang Dulu Pernah Ada’. Video ini merupakan salah satu dari belasan video pendek yang sudah dibintangi Luh Dersi bersama suaminya, Gede Suweca.

Wanita kelahiran Desa Sidem Bunut, Bangli tahun 1949 silam ini wajahnya kian akrab di mata netizen. Bagaimana tidak, lewat garapan video anak keduanya itu, Luh Dersi kerap tampil memikat yang membuat netizen tertawa terpingkal-pingkal.

Saat Bali Express (Jawa Pos Group) bertandang ke kediamannya, Kamis siang (24/1), di Jalan Teratai V, Kelurahan Banyuasri, Luh Dersi tengah sibuk membuat jajanan tradisonal khas Bali. Ia didampingi suaminya Gede Suweca. Maklum saja, Ibu tiga anak ini adalah pedagang jajanan tradisional di Pasar Banyuasri, Kecamatan Buleleng sejak puluhan tahun lalu.

Nenek sembilan cucu yang akrab disapa Jro Dersi ini pun memulai ceritanya. Menurutnya peran Puja Astawa sangat besar dalam mengarahkan dirinya bersama sang suami untuk membuat video pendek. Tema yang diangkat pun seputar persoalan yang ringan-ringan saja dalam kehidupan berumah tangga.

Seperti perilaku anak muda yang sering mabuk, pergaulan remaja, anak yang jarang pulang saat di rantauan dan lupa sembahyang, hingga hubungan menantu dengan mertua yang kerap dirasakan semua orang.

Bahkan, sejak November 2017 lalu, sudah belasan video yang ia bintangi bersama dengan anaknya.“Awalnya kan ada gempa tahun lalu. Nah setelah gempa itu Kadek (Puja Astawa, Red)  meminta dirinya untuk membuat video pendek. Dari sanalah sering membuat video,” jelasnya.

Lalu apakah tidak canggung saat shooting? Jro Dersi mengaku sedikitpun tidak canggung. Apalagi pengamalannya sebagai seniman Arja dan Joged saat masih berusia 16 tahun membuat dirinya santai ketika berhadapan dengan kamera.

“Dulu saat masih muda di kampung Sidem Bunut pernah menjadi pemain Arja dan penari Joged. Jadi tidak canggung, biasa-biasa saja. Apalagi sama anak (Puja Astawa, Red). Cuma dikasi tahu naskahnya sama Kadek. Harus ngomong apa di video dia yang ngasi tahu, spontan saja” tuturnya.

Rupanya, ide kreatif sang anak untuk membuat video pendek membuatnya kerap menerima pesanan pembuatan video dari berbagai instansi dengan tujuan untuk endorse. Seperti instansi pemerintahan, hotel, sekolah, Bank, hingga e-Parkir di Tabanan.

Sebut saja seperti video berjudul ‘Ngajak Orang Tua Nginep di Hotel Terasa Mau Perang’. Video berdurasi 2 menit 42 detik itu menceritakan usaha seorang anak yang diperankan Puja Astawa untuk membujuk sang Ibu yang diperankan Jro Dersi agar mau menginap di hotel.

Dalam cerita itu, Puja Astawa melalui telepon berusaha mati-matian mengajak sang ibu yang kolot itu untuk menginap di hotel mewah. Namun apa daya, sang Ibu dengan beragam alasan yang kocak bersikeras menolak ajakan anaknya untuk menginap di hotel.

Jro Darsi menyebut video itu dibuatnya di Desa Datah, Kecamatan Abang, Karangasem yang merupakan kampung halaman suaminya, Gede Suweca. Video itu dibuat atas dasar permintaan dari salah satu hotel di kawasan Seminyak, Badung.

“Itu (video, Red) di kampung Datah buatnya. Kebetulan saat sembahyang di kampung, dan anak-anak pulang. Diajaklah buat video sama si Puja. Itu juga spontan saja. Katanya video atas permintaan hotel,” bebernya.

Dari belasan video pendek yang ia bintangi, justru ada sebuah video yang membuatnya sulit dilupakan. Yakni video yang mengisahkan masa lalu sang Suami Gede Suweca, yang sempat menikah hingga tiga kali. Sebab, di pernikahan yang ketiga kalinya dengan dirinya itulah baru dikaruniai tiga anak.

“Video itu yang paling sulit dilupakan. Karena itu mengisahkan suami saya punya tiga istri. Dan saya istri yang ketiga, dan memiliki tiga anak,” akunya seraya tertawa.

Wajah yang familiar di media sosial itu pula rupanya membuat dirinya kian dikenal saat berjualan di pasar. Tak jarang para pelanggannya minta berswafoto ketia berbelanja. Bahkan tidak sedikit pula pembeli yang bertanya tentang eksistensinya dalam membintangi vedio pendek.

“Sekarang semua pembeli panggil saya memek, kalau dulu mereka panggil Ibu. Karena di video si Puja kan panggil saya memek. Banyak juga yang minta foto. Ya Astungkara secara tidak langsung pembelinya juga bertambah,” tuturnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kadek Puja Astawa menilai jika sang Ibu memang sangat natural dalam membawakan setiap cerita dalam video pendek. Terlebih tema yang diangkat dalam cerita video itu adalah persoalan sehari-hari yang kadang tabu untuk dibicarakan secara formal.

Namun jika dikemas dengan santai dan humor maka pesan akan lebih mudah diterima. “Ketika seorang ibu berbicara dengan anak kandungnya dia akan membawakan dialog dengan alami. Saya sebagai sutradaranya hanya memberikan narasinya, sesuai dengan media yang dilakukannya setiap hari. Jadi tidak ada bedanya seperti apa yang dialaminya setiap hari,” ujar Puja.

Untuk membuat satu buah video berdurasi pendek bersama kedua orang tuanya, Puja tak menampik jika memang membutuhkan waktu yang lumayan lama. Sebab, ketika shooting harus di take berulang-ulang.

“Ya kita harus tahu diri saat shooting sama orang tua. Kalau mereka capek ya istirahat dulu. Kalau sudah ada mood baru dilanjutin lagi,” singkatnya. 

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia