Jumat, 21 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Pura Kahyangan Alit Puser Bumi

Dikenal Sebagai Tempat Nunas Baos hingga Nunas Keturunan

29 Januari 2019, 13: 23: 16 WIB | editor : I Putu Suyatra

Dikenal Sebagai Tempat Nunas Baos hingga Nunas Keturunan

KUNO: Palinggih utama yakni Padma Jongkok yang pantang untuk diganti atau digeser. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, TABANAN - Bicara pura dengan segala keunikannya, memang tak terhitung jumlahnya di Bali. Satu pura unik lainnya yang menarik diungkap yakni Pura Kahyangan Alit Puser Bumi, yang terletak di utara Kabupaten Tabanan. Pura ini dikenal dan diyakini sebagai tempat untuk nunas baos atau metenung, nunas tamba hingga nunas keturunan.

Berlokasi di Banjar Bendul, Desa Jegu, Kecamatan Penebel, secara geografis pura ini memang cukup mudah dicari. Disebutkan, dulunya pura ini sebenarnya tak memiliki perbedaan dengan pura pada umumnya. Tapi semua itu berubah ketika tahun 2010 sebuah peristiwa mistis terjadi.

Jero Mangku Pura Kahyangan Alit Puser Bumi, I Wayan Latra menceritakan, ketika itu atau tepatnya saat hari Pengerupukan, ada benda seperti meteor yang jatuh dari langit di halaman Balai Banjar, yang kebetulan ada di depan rumah Jero Mangku Latra. Jatuhnya meteor itu dibarengi dengan cahaya yang sangat terang. “Karena penasaran, benda yang jatuh itu saya cari-cari, dan ketemu. Bentuknya seperti gantungan kunci, ada hidungnya, ada matanya, dan ada mulutnya,” ujarnya.

Dan setelah benda itu dipegang Jero Mangku, tiba-tiba saja tujuh orang warga setempat kerauhan dan menyampaikan benda tersebut merupakan paica dari Ida Bhatara. “Mebaoslah yang kerauhan, dan mengatakan kalau paica itu adalah utusan dari luhur, berupa sesuatu yang menyala dan berkehendak malinggih di Pura Kahyangan Luhur Puser Bumi sebagai pusatnya Pulau Bali, dan akan mengajegkan gumi Bali,” terangnya.

Awalnya dirinya tidak mempercayai hal tersebut, namun masih dalam keadaan kerauhan, warga tersebut meminta agar Jero Mangku menunggu apa yang akan terjadi, sembari meminta agar paica tersebut diletakkan pada sangku (tempat tirta, red) besar dan dicarikan pengayah. “Setelah itu saya linggihkan-lah paica itu pada sangku besar berisi tirta. Dan kini Ida malinggih dengan sebutan Ratu Wayan Sakti,” imbuhnya.

Akhirnya setelah 5 hari berlalu, tiba-tiba saja ada pemedek yang tangkil ke Pura Kahyangan Luhur Puser Bumi, dengan tujuan nunas tamba (obat, red). Hal itu membuat Jero Mangku Latra kebingungan. Karena tidak pernah ada pemedek dari jauh yang tangkil, apalagi untuk nunas tamba ke pura yang pujawalinya jatuh setiap Purnama Kedasa tersebut.

Namun dia tetap memimpin persembahyangan pemedek tersebut, dan memberikan tirta kepada pemedek itu sebagai tamba. “Lalu ada juga yang saya lukat dengan tirta tersebut, dan memang kalau kena bebaian pemedek itu langsung puntag-pantig,” sambungnya.

Sejak saat itu pemedek tak pernah surut tangkil ke Pura Kahyangan Luhur Puser Bumi hingga saat ini untuk nunas tamba, nunas baos, metenung, hingga nunas keturunan. Beruntung ada 25 orang pengayah yang dengan tulus ikhlas ngayah setiap hari. Pengayah ini terdiri dari 7 orang pengayah wanita, sisanya laki-laki, termasuk 3 orang pemangku dan pecalang. Mereka ngayah secara bergilir setiap hari, karena pemedek yang tangkil mengalir bagaikan air. Bahkan dulu diawal paica tersebut muncul, jalanan Banjar Bendul selalu dipenuhi kendaraan pemedek yang tangkil hingga terjadi kemacetan.

Biasanya Jero Mangku memulai persembahyangan setiap harinya mulai pukul 14.00 hingga 19.00. Sehingga mulai jam tersebut satu per satu pemedek datang. Mereka ada yang membawa pejati, namun diperbolehkan juga membawa canang. Karena semua kembali pada keikhlasan pemedek. “Bawa pejati bisa, bawa canang saja juga bisa, yang penting ikhlas,” lanjut Jero Mangku Latra.

Sementara itu pantauan di lokasi menunjukkan, Pura Kahyangan Luhur Puser Bumi hanya terdiri dari utama mandala dan madya mandala. Di utama mandala terdapat satu palinggih, yakni Padma Jongkok, yang merupakan palinggih utama di Pura Kahyangan Alit Puser Bumi. Padma Jongkok yang ada tampak sudah berumur, karena memang Ida Sesuhunan tidak menginginkan palinggih terus diganti maupun digeser. “Jadi palinggih Padma Jongkok ini memang sudah kuno, dan Ida ten kayun (tidak mau) diganti apalagi digeser,” tegasnya.

Kemudian pada madya mandala terdapat dua palinggih utama, yakni palinggih Dewa Ireng pada Beji, serta palinggih Dewa Gading yang berada di bawah sebuah pohon besar.

Umumnya pemedek yang tangkil, pertama-tama menghaturkan canang sari pada palinggih Dewa Ireng, Beji dan Dewa Gading lengkap dengan rarapan berupa permen. Setelah menghaturkan canang, pengayah menuntun pemedek untuk melakukan persembahyangan dipimpin Jero Mangku. Pertama persembahyangan dilakukan di palinggih Dewa Ireng. Baru kemudian di palinggih Dewa Gading. Seluruh persembahyangan cukup dilakukan satu kali langsung bunga alias tidak melakukan panca sembah. “Intinya mapekeling menyampaikan apa yang hendak dimohonkan atau apa tujuan tangkil,” lanjutnya.

Setelah itu baru pemedek melanjutkan ke utama mandala yang diawali dengan persembahyangan satu kali untuk menyampaikan tujuan kedatangan ke pura tersebut. Apabila ingin nunas baos, Jero Mangku akan menuntun pemedek untuk bertanya langsung kepada seorang pengayah perempuan yang sudah dirasuki salah satu samar yang berstana di pura tersebut. Tidak sulit untuk bertanya, karena samar yang merasuki tubuh pengayah tersebut dan diberi sebutan dewa oleh Jero Mangku itu, cukup mengerti dengan bahasa manusia sehari-hari. “Begitu pun jika ingin nunas tamba, jadi semuanya disampaikan kepada dewa, maka selanjutnya akan diberi petunjuk langsung,” paparnya.

Ditambahkan pula, pada pura tersebut memang dihuni banyak samar. Ada yang namanya Dewa Gading, Dewa Ireng, Dewa Dunggulan, Dewa Samir, Dewa Gempel, Dewa Polos, Dewa Data hingga Dewa Dati. Sehingga bukan pemandangan yang asing, apabila banyak pengayah yang tiba-tiba tidak sadarkan diri, dan bertingkah seperti anak kecil, setelah dirasuki samar tersebut.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia