Kamis, 21 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Korban Tewas Longsor: Bu Guru, Kalau Hujan Besok Saya Tak Sekolah Ya

29 Januari 2019, 16: 57: 43 WIB | editor : I Putu Suyatra

Korban Tewas Longsor: Bu Guru, Kalau Hujan Besok Saya Tak Sekolah Ya

KORBAN LONGSOR: Heny, wali kelas dari korban Putu Rikasih yang sempat mendatangi rumah duka di Dusun Sangker, Desa Mengening, Kecamatan Kubutambahan, Selasa (29/1) siang. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, KUBUTAMBAHAN - Duka mendalam tidak hanya dirasakan keluarga korban longsor di Dusun Sangker, Desa Mengening, Kecamatan Kubutambahan. Tetapi juga dirasakan oleh Heny, Guru sekaligus Wali Kelas II SDN 2 Satra, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Salah satu anak didiknya, Putu Rikasih, 9 ikut menjadi korban longsor yang terjadi di Dusun Sangker, Desa Mengening, Selasa (29/1) pagi.

Heny yang datang langsung ke rumah korban Putu Rikasih tak kuasa membendung air matanya melihat jasad anak didiknya tergolek lemas bersama saudara dan kedua orang tuanya. Wajah Rikasih yang lebam akibat tertimbun material longsoran terlihat beberapa kali diusapnya.

Jerit tangis Heny kian menjadi-jadi setelah ingat pesan terakhir mendiang Putu Rikasih pada Senin (28/1) kemarin di sekolah. Ia menceritakan, korban Rikasih sempat bilang akan absen Selasa hari ini jika kondisi cuaca hujan. “Kemarin (Senin, Red) dia bilang, Bu saya tidak masuk besok (Selasa, Red) ya, kalau cuacanya hujan,” ujar Heny menirukan ucapan korban Rikasih.

Permintaan korban untuk absen pada Selasa ini pun langsung diiyakan oleh  Heny.”Iya kalau hujan mending jangan dah sekolah. Nanti kalau cuacanya sudah bagus, tidak hujan baru sekolah lagi ya. Begitu saya ngomong ke dia (korban, Red),” ujarnya kepada korban kala itu.

Di mata Heny, sosok Rikasih termasuk siswa yang periang dan rajin sekolah. Namun siapa sangka, percakapannya kemarin merupakan untuk yang terakhir kalinya. Nyawa siswi itu tak tertolong setelah tertimba material senderan yang longsor.

“Anaknya periang. Jarang murung, sekolahnya juga rajin. Tidak menyangka sekali itu yang terakhir kami bertemu,” ceritanya sembari menangis.

Firasat juga datang dari Wayan Kasih, 48, yang tak lain kakak tertua korban Ketut Budikaca. Wayan Kasih yang menikah ke wilayah Kayuamba, Bangli nampak tak percaya sang adik bersama keponakannya meninggal dalam kondisi yang mengenaskan.

Wayan Kasih menceritakan dirinya terakhir bertemu dengan korban Ketut Budikaca dan keluarga saat Hari Raya Galungan, Desember lalu. Kala itu ia pulang untuk melepas rindu sembari berhari raya.

Firasat pun mulai aneh. Korban Budikaca yang merupakan adik kedelapan sebut Wayan Kasih sejak 2 minggu semakin intens berkomunikasi melalui telpon. “Biasanya sebelumnya tidak pernah sedekat itu. dia intens nelpon nanyain kabar,” ungkapnya.

Puncaknya, saat Selasa dini hari, ketika hujan deras,  Wayan Kasih sempat bangun dari tidur lelapnya. Bahkan entah mengapa, tiba-tiba ia ingat dengan sosok adiknya, Budikaca. “Saya langsung bangun dari tidur. Ingatan sudah ada di adik (korban, Red). Ga ngerti saya. Kok tiba-tiba ingat dia, pikiran tertuju ke rumah dia, karena memang di Kayuamba juga kondisi hujan deras,” bebernya.

Kekhawatiran Wayan Kasih tergolong beralasan. Pasalnya ia termasuk orang yang sempat mengkritisi pembangunan rumah korban yang berada di bawah tebing. Sebab, menurutnya itu sangat berbahaya. Mengingat kondisi lahan yang labil dan rawan longsor.

“Sempat saya tanya saat dia membangun rumah. Kok di bawah tebing membangunnya? Tetapi dia bilang, ya mau gimana lagi, tidak ada lahan lagi,” akunya menirukan ucapan korban dengan nada lirih.

Sementara itu dari hasil visum yang dilakukan tim medis Puskesmas II Kubutambahan, terhadap keempat jasad korban, terungkap korban Ketut Budikaca mengalami lebam pada mata, dahi, dada, tangan kanan dan punggung akibat tertimbun material.

Kondisi serupa dialami istrinya Luh Sentiani yang mengalami lebam pada leher dan punggung bagian bawah. Sedangkan anak pertamanya Putu Rikasih, mengalami lebam pada wajah bagian kanan, dada atas dan punggung serta pada bagian kaki kanan dan kiri.

Kemudian anak keduanya Kadek Sutama yang masih berusia lima tahun mengalami lebampada wajah kanan, serta mengeluarkan cairan pada telinga. Kondisi lebam juga terjadi pada bagian punggung.

Diberitakan sebelumnya tebing setinggi 8 meter mengalami longsor pada Selasa (29/1) sekira pukul 04.00 Wita dini hari. Material longsoran dari tebing tersebut mengenai rumah yang dihuni Ketut Budikaca dan keluarganya.

Akibatnya, Budikaca bersama istri dan dua anaknya yang tengah tertidur pulas tak sempat menyelamatkan diri. Mereka tewas setelah tertimbun longsor.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia