Minggu, 21 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Features
Di Balik Pengungkapan Kasus Prabangsa (1)

Sebelum Pelaku Tertangkap, Roh Prabangsa Dipanggil Pakai Sarana Pisau

30 Januari 2019, 20: 02: 55 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sebelum Pelaku Tertangkap, Roh Prabangsa Dipanggil Pakai Sarana Pisau

BERCERITA: Made Rai Warsa menceritakan perjuangan pengungkapan kasus pembunuh Prabangsa melalui jalur niskala. (SURPA ADISASTRA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Pengungkapan kasus pembunuhan jurnalis koran Radar Bali (Jawa Pos Group), AA Gede Bagus Narendra Prabangsa 2009 lalu tak mudah. Tak hanya aparat kepolisian yang memeras otak dan menggencarkan strategi. Seluruh jurnalis, khususnya awak media Jawa Pos Group juga ‘ogah’ berpangku tangan. Berbagai upaya ditempuh. Salah satunya, melalui jalan niskala. Seperti apa?

Pulau Bali terkenal karena keindahan alam dan keunikan tradisi budayanya. Berbagai tampilan yang dikagumi banyak wisatawan tersebut hanya berupa perwujudan atau sekala. Di balik itu ada sisi yang disebut niskala. Sebuah sisi yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang tertentu. Jika diandaikan alam Bali adalah tubuh manusia, maka sisi niskala adalah hal-hal yang lebih halus. Ada konsep-konsep pemikiran yang kemudian bertransformasi menjadi nilai kepercayaan. Karena tak berwujud, hal ini cenderung dikait-kaitkan dengan alam gaib. Perpaduan sekala-niskala yang bersinergi ini kemudian membangkitkan sebuah istilah ‘taksu’. Taksu inilah yang dipercaya membuat Bali bisa berbinar.

Berkaitan dengan hal tersebut, berbagai hal di Bali kerap dibahas dari dua sisi, yakni sekala dan niskala. Misalnya orang sakit. Tak sembuh-sembuh melalui jalan medis, maka ditempuh jalan magis. Demikian pula pengungkapan kasus kematian Prabangsa yang saat itu berjalan cukup lama. Tak hanya mengandalkan kinerja kepolisian, jajaran media Radar Bali kala itu juga mencoba jalan niskala. Cerita ini belum pernah terungkap ke publik.

“Saat itu kami mempercayakan kepada pihak kepolisian untuk leluasa mengungkap kejadian itu, tapi kami juga melakukan itu (menempuh jalan niskala, Red),” ungkap Direktur Bali Express (Jawa Pos Group), Made Rai Warsa yang saat peristiwa tengah duduk sebagai Pemimpin Redaksi Radar Bali, Rabu (29/1).

Lebih spesifik, cara niskala yang ditempuh tak hanya memohon petunjuk Hyang Kuasa melalui persembahyangan. Salah satu cara niskala lain yang ditempuh adalah menanyakan kepada penekun spiritual. Tak hanya satu orang, saat itu Rai Warsa dibantu sejumlah pihak, mendatangi tiga penekun spiritual. Salah satunya adalah penekun spiritual kepercayaan Nyoman Sudiantara alias Punglik.  “Hampir ketiganya mengarah ke situ (pelaku), tapi ada satu yang pas. Saya banyak berterima kasih kepada Pak Nyoman Sudiantara,” ujarnya.

Pria asal Payangan, Gianyar ini melanjutkan, satu orang tersebut dikenal sebagai paranormal yang tinggal di sekitaran Jalan Gatot Subroto (Gatsu), Denpasar. Penekun spiritual asal Lombok yang biasa dipanggil ‘Cece’ tersebut saat itu dikatakan sangat sederhana. “Orangnya saat itu sudah tua, tempat tinggalnya sederhana,” ingatnya.

Perempuan tersebut kemudian membantu Rai Warsa untuk mencoba menerawang pelaku dalam kasus pembunuhan Prabangsa. Uniknya, Rai Warsa diajak ke kuburan Prabangsa di Bangli. “Sebelum ke kuburan, mungkin menurut kepercayaannya dia, kami diminta mencari pisau, kembang dan sebagainya. Itu harus kami cari di pasar,” terangnya.

Pada hari yang ditentukan,  akhirnya sore hari mereka berangkat ke Bangli. Sesampainya di kuburan, Cece meminta Rai Warsa untuk memanggil roh mendiang Prabangsa. “Memanggil roh memakai pisau itu. Pisau itu ditancapkan di kuburannya dia (Prabangsa), panggil rohnya,” ucapnya.

Apa yang kemudian terjadi? Rai Warsa mengaku saat itu tidak melihat apapun. Ia hanya menuruti petunjuk yang diberikan Cece. “Saya tidak lihat apa-apa. Saya ndak ngerti. Cuma saya disuruh itu, saya lakukan. Akhirnya kan yang menangkap ‘sinyal’ itu si Cece,” jelasnya seraya mengatakan ritual tersebut tidak berisi fenomena trance atau karauhan.

Cece tersebut, lanjut pria kelahiran 5 Juli 1967 ini, sempat menanyakan apa yang dirasakan Rai Warsa. Rai Warsa pun mengatakan apa adanya. Ia tak merasakan apa-apa. “Akhirnya dia yang menjelaskan saat itu, santai, dalam waktu dekat ketemu orangnya. Ketemu gimana, Ce? Ini saya tangkap bahwa pelakunya rambutnya pirang. Mungkin tidak lama lagi ini kasus ini akan terungkap,” ujarnya menirukan perkataan Cece.

Akhirnya, berselang tiga minggu kemudian, kasus tersebut menurut Rai Warsa benar-benar terungkap. “Ya, sekitar tiga mingguanlah (terungkap),” tandasnya. 

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia