Jumat, 24 May 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Ribuan Remaja dan Anak Berubah Jadi “Wong Samar” di Tegallalang

30 Januari 2019, 20: 54: 53 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ribuan Remaja dan Anak Berubah Jadi “Wong Samar” di Tegallalang

NGEREBEG : Ratusan remaja hingga anak-anak mengikuti ngerebeg di Desa Tegallalang, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, Rabu (30/1). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, GIANYAR - Ratusan remaja dan anak-anak se-Desa Tegallalang merias seluruh tubuhnya menjadi seram menggunakan cat. Tradisi tersebut dimulai dari Pura Duur Bingin, Desa Tegallalang, Gianyar, Rabu (30/1). Mereka merias dirinya menyerupai wong samar dengan mengelilingi desa, dan sebelum memulai dilakukan tradisi magibung di pura setempat.

Bendesa Pakraman Tegallalang,  I Made Jaya Kesuma ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Grou) menjelaskan pelaksanaan ngerebeg tersebut dilakukan oleh anak-anak sampai orang dewasa. Tujuannya untuk nyanggra pujawali yang akan berlangsung di Pura Duur Bingin. "Ngerebeg ini dilakukan sehari sebelum piodalan di Pura Duur Bingin, maka diselenggarakanlah pecaruan di areal pura. Setelah itu baru prosesi ngerebeg berlangsung yang menyerupai rencangan pura di sini diyakini berupa wong samar," jelasnya.

Setelah pecaruan selesai, dilanjutkan untuk nunas pica alit. Yang berisi nasi dan lawar saja, dibungkus menggunakan daun pisang. Kesuma juga menerangkan, selesai nunas pica alit ada yang disebut dengan nunas pica ageng. Yang berisikan lawar, namun dengan porsi yang lebih banyak. Digunakan sebuah klakat dan daun pisang untuk tempatnya. Baru dilakukan magibung dengan serentak oleh peserta ngerebeg.

Selesai magibung, ia juga menjelaskan ada pelaksanaan malukat terlebih dahulu. Sambil mempersiapkan pelaksanaan tradisi ngerebeg tersebut berlangsung. Yang ia katakan berawal dari jaba pura, menuju ujung desa pakraman Tegallalang. "Terkadang melewati Obyek Wisata Ceking, ataupun melalui jalan pintas yanh menyusuri persawahan dan tegalan.  Kemudian ke barat menuju Pura Dalem Kauh desa setempat. Dalam perjalanan dengan jalan kaki di sana akan melewati persawahan dan kembali lagi ke Pura Duur Bingin," ungkapnya.

Dalam kesempatan itu Jaya Kesuma juga mengatakan jumlah yang ikut mencapai ratusan orang. Karena bukan saja yang dari daerah Desa Tegallalang saja yang ikut, namun ada juga yang ngayah ngerebeg dari desa tetangga. Bahkan ada ada pengayah yang berasal dari Desa Sangkaduan, dan  Desa Taro, Tegallalang.

Tradisi tersebut, berlangsung hanya tiga sampai empat jam saja. Dimulai dari pukul 12.00 hingga pukul 15.00 dengan cara mengelilingi desa.  Menyusuri jalan desa, jalan setapak yang ada di persawahan, dan kembali lagi ke pura untuk melakukan persembahyangan.

Dalam kesempatan itu ia juga menjelaskan saat ngerebeg hanya berhias nampaknya wong samar. Membawa sebuah penjor dari pohon enau dihiasi juga dengan bunga dan janur. Penjor tersebut diungkapkan sebagai bebaktan rencangaan tersebut saat malancaran.

Salah satu peserta ngerebeg, I Gede Manik mengaku sudah ikut tradisi tersebut sejak ia masih kecil. Setiap enam bulan dia selalu ikuti tanpa pernah absen. "Makna dari nunas pica alit itu merupakan persembahan kepada anak-anak yang ikut ngerebeg. Dikarenakan wong samar sangat menyukai anak-anak. Maka saat anak-anak sudah berkumpul di pura akan ngerebeg, semua merasakan kegembiraan. Saat mecaru juga sambil bersorak-sorak menunjukkan kebahagiaan," imbuhnya. 

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia