Jumat, 24 May 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Totok Bali Kuno, Mampu Obati Stroke hingga Kanker

31 Januari 2019, 05: 59: 02 WIB | editor : I Putu Suyatra

Totok Bali Kuno, Mampu Obati Stroke hingga Kanker

TOTOK KAYU: Nyoman Santiarsa menggunakan ranting pohon untuk media transfer energi melalui metode totok. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, BADUNG - Metode pengobatan alternatif melalui totok (mengetuk dengan jari) sudah ada sejak lama. Ragam penyakit diyakini mampu disembuhkan melalui metode ini. Tak heran, sampai sekarang metode totok pun tetap dipercaya sebagian masyarakat.

Eksisnya metode pengobatan ini, tak lepas dari metode totok yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit medis maupun nonmedis. Itu pun sudah dibuktikan oleh penekun spiritual yang juga berkecimpung di dunia pengobatan alternatif seperti Nyoman Santiarsa, 50.

Pria yang sudah menekuni ilmu pengobatan alternatif selama 30 tahun tersebut mengatakan, selama ini beragam orang dengan ragam penyakit berbahaya pernah dia tangani. Diantaranya stroke, kanker darah, kelenjar getah bening, ginjal, dan banyak lagi.

“Kalau saya berhasil menyembuhkan orang dari sakit yang diderita, seperti kanker misalnya, saya berani orbitkan. Di luar yang saya sembuhkan, artinya belum saya pernah tangani,” ucapnya ketika ditemui koran ini di kediamannya yang berada di Jalan Arwana, Nomor 1, Jimbaran, Kuta Selatan.

Santiarsa menjelaskan, metode pengobatannya dimanfaatkan dari energi alam. Dimana dirinya menggunakan media tangkai pohon atau ranting pohon untuk menyalurkan energi. Ranting itu dia temukan di area hutan Bukit Jimbaran. Namun tak disebutkan secara detail, tangkai jenis pohon apa yang dimaksud tersebut. Walaupun jika dilihat dengan seksama, tangkai pohon itu mirip seperti tangkai pohon jambu biji, dengan ukuran sekitar hampir satu meter.

Menurut Santiarsa, awalnya kayu tersebut berwarna coklat muda. Tapi karena sering digunakan untuk proses pengobatan, termasuk sering terkena minyak urut, kini warna kayu ini telah berubah menjadi coklat tua, hingga teksturnya yang bertambah halus.

Diceritakan, asal muasal kekuatan yang dimiliki pria asal Tembuku, Bangli itu diperoleh usai semedi di bawah pohon, atas sabda yang diperoleh dari mendiang ibunya. Proses meditasi itu berlangsung dari dinihari sampai bertemu pagi keesokan harinya. Saat itulah, sekujur tubuhnya bergetar. Pria berkumis itu mengaku baru menyadari kekuatan alam bersemayam dalam tubuhnya. “Pertama kali coba itu (mengobati) saat ada tamu (bule) menghampiri saya. Kebetulan lewat depan rumah. Itu mulanya tidak sengaja karena kaki bule itu terkilir. Saya sentuh beberapa kali pijat, kaki yang bengkak sembuh lewat beberapa hari,” tuturnya ketika ditemui pekan lalu.

Kejadian itu awalnya tak cukup kuat untuknya membuktikan energi dalam tubuhnya. Karena itu, untuk mengetahui seberapa besar kekuatan tersebut, Santiarsa mencoba menemui orang-orang yang menderita penyakit medis. Dengan ranting yang terbilang cukup tua, dia lalu menotok bagian tubuh yang sakit. “Saat itu saya coba obati tetangga, bagian tubuhnya ngilu. Saya obati pakai ranting itu, ternyata dia langsung enakan (membaik),” ceritanya.

Dengan hasil tersebut, pria ini mulai yakin ada energi tak kasat mata yang mengalir di tubuhnya. Santiarsa lantas memulai mempelajari berbagai metode pengobatan, mengikuti pendidikan dan latihan pengobatan alternatif, serta mengikuti seminar-seminar terkait ilmu husada. “Tujuannya, saya berusaha memanfaatkan energi yang saya miliki. Tapi tidak sebatas menggunakan energi. Ada sertifikasi buat saya agar bisa menerapkan metode ini,” kata dia.

Sementara itu, ketika ditemui beberapa waktu lalu, terlihat jika klinik tempatnya praktik ramai dikunjungi masyarakat. Bahkan dia sempat meladeni pasien dari luar Bali dengan keluhan sakit ginjal. Proses pertama yang dia lakukan, yakni mendeteksi area yang dirasakan sakit. Kemudian, secara perlahan, Santiarsa mulai menotok dengan dahan kayu berwarna coklat tua tersebut.

Tak cukup dengan metode totok, proses penyembuhan itu juga menggunakan bantuan obat-obatan herbal. Dia memanfaatkan rempah seperti cabai, jahe, lengkuas, dan bahan lainnya untuk diolah menjadi kapsul. “Pengobatan tidak bisa secara instan, itu pertama. Tapi saya yakin, saya buktikan pasien dari Mumbul (Kuta Selatan), kena penyakit kelenjar getah bening. Lewat metode yang titiang (saya) terapkan, astungkara (pasien) sembuh sampai sekarang,” tuturnya lagi.

Yang menarik, pria yang mengaku bisa berkomunikasi lewat pikiran dengan makhluk tak kasat mata itu, juga bisa meramal melalui garis tangan. Tak heran, banyak masyarakat, khususunya orang-orang dari kalangan atas yang telah mencoba, hanya untuk mengetahui garis rejeki dan karier mereka.

Bahkan ada pula yang nyeleneh dengan menanyakan sisa umur, hingga bertanya tentang jodoh. “Banyak seperti itu (minta diramal). Tapi kalau yang bertanya soal umur, saya tidak mau jawab di depan pasien. Itu menyalahi kehendak Tuhan. Tapi saya tahu, dan tidak boleh diucap karena ada etika. Palingan saya kasih tahu yang baik-baik saja, seperti rejeki, kesehatan, pekerjaan, jodoh,” pungkasnya.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia