Jumat, 19 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Features
Di Balik Pengungkapan Kasus Prabangsa (3)

Hampir Tiap Hari Cek Perkembangan Penyelidikan ke Kapolda

01 Februari 2019, 20: 18: 00 WIB | editor : I Putu Suyatra

Hampir Tiap Hari Cek Perkembangan Penyelidikan ke Kapolda

KILAS BALIK: Direktur Radar Bali, Justim M. Herman, saat menceritakan kilas balik proses pengungkapan kasus terbunuhnya AA Gede Bagus Narendra Prabangsa. (CHAIRUL AMRI SIMABUR/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Proses pengungkapan pelaku yang membunuh jurnalis AA Gede Bagus Narendra Prabangsa sepenuhnya diserahkan kepada pihak Kepolisian. Kendati demikian, prosesnya tetap dipantau dan dikawal beberapa organisasi kewartawanan di Bali. Bahkan hampir tiap hari Kapolda Bali saat itu, Irjen Pol Teuku Ashikin Husein, dikontak untuk menanyakan perkembangan penyelidikannya.

Tidak berlebihan rasanya bila pemberian keringanan hukuman bagi I Nyoman Susrama, terpidana seumur hidup kasus pembunuhan jurnalis, AA Gede Bagus Narendra Prabangsa, seperti menyibak luka lama. Bagi keluarganya yang ditinggalkan. Juga untuk koleganya sesama jurnalis.

Terlebih di bulan ini, pada tahun ini, kasus pembunuhan Asa --- demikian kode berita Prabangsa di Harian Radar Bali tempatnya bertugas --- genap sepuluh tahun berlalu.

Kesedihan bercampur amarah kala peristiwa pembunuhan itu terungkap sontak muncul lagi. Seiring terbitnya Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 2018 yang menjadi dasar pemberian remisi perubahan hukuman bagi Susrama. Dari hukuman seumur hidup menjadi 20 tahun.

Tak ayal Direktur Radar Bali, Justim M. Herman, menyebutkan bahwa remisi yang diperoleh Susrama yang muncul akhir 2018 lalu ibarat membuka luka lama yang sedang berusaha diikhlaskan.

“Jujur peristiwa sekarang ini seperti membangkitkan memori kelam kami sepuluh tahun lalu,” kata Justin saat diwawancarai di kantornya, Senin sore (28/1).

Di tangannya saat itu ada fotokopi Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor M-03.PS.01.04 Tahun 2000. Keputusan itu menyangkut tata cara permohonan remisi bagi narapidana yang menjalani pidana seumur hidup menjadi pidana penjara sementara.

Keputusan yang diterbitkan semasa Menteri Hukum dan HAM dijabat Yusril Ihza Mahendra itu dia bolak-balik lembarannya. Karena keputusan itulah yang menjadi salah satu dasar adanya remisi perubahan hukuman dari pidana seumur hidup menjadi pidana sementara atau 20 tahun.

“Saya rasa, saat itu semuanya serba sulit. Mencari tahu apa motifnya (pembunuhan) sulit. Kenapa mereka membunuhnya, itu sudah sangat sulit,” tukasnya.

Bahkan sejak Asa dikabarkan hilang, pihaknya saat itu sudah kesulitan untuk melakukan pencarian. Sekalipun saat itu dirinya sampai mengeluarkan instruksi bagi seluruh wartawan di harian yang dipimpinnya untuk melakukan pencarian di masing-masing daerah. Paling tidak memonitor ada atau tidak kecelakaan yang korbannya Mr. X.

“Semua wartawan yang di daerah dilibatkan. Saya minta cari dan cek di polsek-polsek. Apakah ada kecelakaan dengan korban Mr. X. Ternyata tidak ada juga,” kenangnya.

Dia menuturkan, kabar hilangnya Asa atau Prabangsa dia ketahui saat istri almarhum, AA Sagung Mas Prihantini, meneleponnya. Saat itu istri almarhum menyebutkan bahwa suaminya sudah tidak pulang beberapa hari. Sejak itu, istri almarhum terus menanyakan keberadaan suaminya.

“Saya katakan, sabar dulu bu. Kami masih mencari. Saya pun tidak mengetahui dia di mana. Karena terakhir bertemu sekitar dua atau tiga hari sebelumnya. Jauh sebelum itu, saya terima kontak dari dia (almarhum). Dia bilang ke saya saat itu, bos ban saya kempes. Saya bilang, ya astaga Sa,” ujarnya.

Dalam proses pencarian, berbagai saluran informasi dimanfaatkan. Bahkan, upaya pencarian secara niskala pun tidak ketinggalan untuk dilakukan. Proses pencarian ini membuahkan banyak informasi yang perlu dipastikan kebenarannya.

Saking banyaknya informasi yang ada, cukup repot juga untuk menguji kebenarannya. “Ada yang bilang ke Buleleng. Karangasem. Nusa Penida. Sampai ke Jawa. Informasi masuk terus,” tukasnya.

Singkat cerita, almarhum akhirnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Jenazahnya dalam keadaan mengenaskan. Penemuannya di perairan Padang Bai, Karangasem. “Begitu ditemukan, yang ada dalam benak saya jelas sedih,” kenangnya.

Namun, rasa sedih itu akhirnya bercampur rasa marah saat hasil otopsi terhadap jenazah almarhum menyebutkan adanya tanda-tanda kekerasan. Hanya saja, siapa yang menjadi pelakunya masih menjadi misteri di tahap itu.

Pihaknya pun lantas menyerahkan sepenuhnya penyelidikan atas pembunuhan redaktur halaman Bali Dwipa tersebut. Sembari tetap memantau dan mengawal perkembangannya. Hingga satu persatu pelakunya terungkap dan diproses sampai persidangan. “Kami terus cek ke Kapolda (saat itu dijabat Irjen Pol Teuku Ashikin Husein). Hampir setiap hari,” ujarnya.

“Dan sekarang, you bayangkan saja, orang-orang yang melakukan perbuatan keji dan biadab kemudian diringankan hukumannya. Mau jadi apa dunia ini,” ujarnya dengan emosional.

Karenanya, dia menegaskan bahwa keringanan dalam bentuk remisi perubahan hukuman bagi Susrama itu harus dilawan. Khususnya dari perspektif profesi jurnalis.

“Ini harus dilawan. Ini tidak benar. Kita tidak ingin ada jurnalis yang mengalami hal yang sama. Ini sama saja membiarkan terjadinya pengulangan. Tidak ada efek jera,” pungkasnya. (bersambung)

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia