Rabu, 22 May 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Pura Beji Desa Sangsit

Kaya Arsitektur Unik, Menjadi Tempat Memohon Tirta Penolak Hama

02 Februari 2019, 20: 15: 14 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kaya Arsitektur Unik, Menjadi Tempat Memohon Tirta Penolak Hama

UNIK: Pura Beji di Desa Sangsit, Buleleng, yang memiliki arsitektur unik, serta corak ukiran khas Buleleng pada setiap bangunannya. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Pura Beji merupakan salah satu pura yang cukup populer di Kabupaten Buleleng. Selain sebagai destinasi wisata, pura ini tergolong unik dari sisi ukirannya yang sangat khas. Tidak itu saja, pura yang berlokasi di Desa Sangsit, Kecamatan Sawan, merupakan sungsungan krama subak Desa Sangsit untuk memohon panen yang berlimpah.

Bila dilihat dari sisi nama, kata beji sama artinya dengan “permandian” atau sumur yang merupakan sumber kesuburan. Kenyataan di areal sebelah timur Pura Beji sendiri terdapat bekas sumber mata air yang dahulu pernah berfungsi sebagai kolam. Rupanya para petani yang sangat memerlukan air untuk pengairan persawahan, sangat memuliakan sumber mata air, yang kemudian mengatur pengairan melalui subak. Tak heran, Pura Beji pun digolongkan Pura Subak, yang disungsung para petani yang tergabung dalam organinasi subak di Desa Sangsit. Terlebih di pura ini berstana Dewi Sri sebagai Dewi Kesuburan, yang memberikan kesejahteraan kepada petani.

Kelian subak yang juga pengempon Pura Beji, Gede Somanata, 67, menjelaskan, keunikan Pura Beji terletak pada arsitektur, serta gaya ukiran yang bercorak Buleleng, yakni cukilan lebar, dangkal tapi runcing. Dengan status pura yang merupakan stana Dewi Sri, maka seluruh bagian lingkungan pura dihiasi ukiran dalam bentuk tumbuh-tumbuhan yang merambat dan motif bunga.

Tumbuh-tumbuhan atau bunga yang digunakan sebagai motif ukiran di pura ini, sesungguhnya merupakan sebagai salah satu manifestasi ajaran filsafat (tatwa) agama Hindu, ditampilkan melalui simbol-simbol relief yang sakral. Motif bunga berdigestilir sulur-suluran tetumbuhan secara filosofis melambangkan kesuburan dan kemakmuran.

Bila diperhatikan secara seksama, hampir tidak ada ruang kosong di setiap arsitektur pura yang tak terjamah ukiran. Mulai dari tembok penyengker, candi bentar, paduraksa, hingga jejeran palinggih-palinggih yang ada di pura tersebut. Semua diukir dengan rinci, yang dikombinasikan dengan warna batu paras kemerahan, sehingga menambah kesan kuno.

“Semua ukirannya khas Buleleng. Sedangkan bahan ukirannya ini terbuat dari batu paras khas Dusun Abasan, yang hanya ada di Desa Sangsit. Warnanya merah sesuai warna batu padasnya,” ujar Somanata.

Seperti halnya pura-pura lainnya di Bali, bangunan pura beji ini memiliki 3 bagian yang berbeda, yakni bagian luar nisata mandala, bagian tengah madya mandala, dan pada bagian paling dalam disebut utama mandala atau yang sering disebut juga dengan jeroan.

Nah satu bangunan amat megah yang cukup menyita perhatian dengan arsitekturnya yakni candi yang menjadi batas antara nisata mandala dan madya mandala. Tak hanya candi, kemegahan arsitekturnya juga terdapat di area utama mandala. Dimana di areal utama pura itu berdiri banyak palinggih dengan arsitektur yang megah dan indah. Seperti pada palinggih Gedong Simpen, yang mencerminkan kesuburan dengan keberadaan patung Dewi Sri pada bagian atas atap. “Di utama mandala terdapat 15 palinggih. Palinggih utama itu merupakan stana Dewi Sri atau Dewa Ayu Manik Galih. Palinggih ini biasa disebut Gedong Simpen. Palinggih ini paling besar ukurannya dibandingkan dengan bangunan lainnya,” kata Somanata.

Terkait dengan keyakinan masyarakat setempat, dimana Pura Beji kerap dijadikan tempat memohon tirta untuk menghalau hama atau sebagai penolak bala. Somanata menceritakan, hal itu tak lepas dari keberadaan para petani di Desa Sangsit yang kerap dihadapkan dengan beragam jenis hama yang mengganggu tanaman padi mereka. “Biasanya hama itu sering menyerang lahan pertanian. Bahkan serangan hama itu juga datang saat hendak panen. Tapi setelah nunas tirta di Pura Beji, maka secara tidak langsung hama itu sirna dengan sendirinya. Dari sanalah masyarakat dibuat semakin yakin kalau Beliau yang bersthana di Pura Beji memberikan perlindungan,” jelas Somanata.

Selain itu, di Pura Beji juga terdapat pantangan yang harus diperhatikan krama yang akan melakukan penguburan jenazah. Krama yang melintas sembari membawa jenazah di depan Pura Beji tidak boleh membawanya dengan cara negen (memikul, red). Namun jenazah yang diusung mesti direndahkan seukuran lutut. Pantangan itu diyakini masyarakat, karena jika dilanggar, maka akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan. “Saya dengar cerita dari para tetua dulu. Tidak boleh bawa mayat posisinya diusung atau lebih tinggi. Harus direndahkan saat melintas di depan pura. Dulu ada yang seperti itu (melanggar), ternyata jenazahnya diseret kembali secara ajaib,” tuturnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, untuk pelaksanaan pujawali di Pura Beji, secara rutin dilangsung tiga kali dalam setahun. Tiga prosesi pujawali tersebut masing-masing dilangsungkan saat Purnama Sasih Kedasa atau biasa disebut ngaci, Purnama Kapat atau biasa disebut pangebekan, dan Purnama Jyestha yang biasa disebut Pengusabaan.

Saat pujawali pun seperti kata Somanata juga ada pantangan lainnya, dimana krama dilarang menghaturkan babi guling atau suku pat, dan hanya diperbolehkan menghaturkan daging ayam. “Kalau pujawali saat Purnama Jyestha, ini paling besar pujawalinya. Karena bertepatan dengan pengusabaan, dan tidak boleh menghaturkan daging babi. Tetapi cukup dengan menghaturkan daging ayam,” imbuhnya.  

Arsitektur menjadi Magnet Wisatawan

KEUNIKAN arsitektur yang luar biasa inilah menjadi magnet bagi wisatawan asing maupun domestik. Tak ayal setiap ada wisatwan yang berkunjung ke Buleleng, mereka selalu menyempatkan mampir untuk berfoto di areal Pura Beji.

“Rata-rata tamu yang ke sini pasti kagum dengan corak ukirannya. Soalnya kuno, selain itu sangat detail. Sehingga tak jarang mereka selfie dengan latar ukiran ini,” kata Somanata.

Sedangkan, bagi wisatawan domestik, lokasi ini juga menjadi jujukan untuk lokasi prewedding. “Sebulan bisa puluhan orang yang menggunakan untuk lokasi foto prewedding. Mereka menilai ukiran di Pura Beji sangat unik dan tak ada duanya. Cocok untuk mengabadikan kenangan,” imbuhnya.

Karena itulah, jika dalam kondisi high season, Pura Beji dikunjungi hingga 200 tamu asing setiap harinya. Sedangkan saat low season, rata-rata kunjungan mencapai 15 turis tiap hari. Somanata menyebut, karcis masuk ke obyek wisata ini sebesar Rp 10 ribu per orang. “Dominan tamu yang berkunjung kesini adalah tamu Eropa. Sedangkan kalau tamu domestik paling digunakan untuk lokasi foto prewedding” bebernya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia