Minggu, 08 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Features
Tradisi Ngerebeg Desa Pakraman Kubutambahan

Digelar Lima Tahun Sekali, Gunakan Godel Luwe untuk Menolak Bala

05 Februari 2019, 19: 55: 59 WIB | editor : Hakim Dwi Saputra

Tradisi Ngerebeg Desa Pakraman Kubutambahan

TIAP LIMA TAHUN: Krama Desa Kubutambahan saat menggelar tradisi ngerebeg pada Selasa (5/2). (PUTU MARDIKA)

Share this      

Sederet bencana yang terjadi beberapa tahun terakhir membuat krama Desa Kubutambahan menggelar Tradisi Ngerebeg. Upacara yang ditujukan untuk para Bhuta Yadnya ini digelar saban lima tahun sekali. Konon tradisi yang menggunakan sarana utama berupa godel luwe (anak sapi betina, Red) dilaksanakan untuk menetralisir pengaruh negatif bhuta kala sehingga terhindar dari bencana alam dan penyakit.

I Putu Mardika, Kubutambahan

 Selasa (5/2) sore Krama Desa Kubutambahan tumpah ruah. Mereka berkumpul di Pura Dalem Purwa Desa Kubutambahan sejak pukul 13.00 Wita untuk mengikuti upacara Ngerebeg. Sebelum upacara inti dimulai, seluruh krama wajib melaksanakan persembahyangan di Pura Dalem Purwa, Desa/Kecamatan Kubutambahan untuk memohon keselamatan.

 Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) di lokasi, setiap krama lanang (laki,Red) yang datang wajib membawa sudukan, tombak dan keris. Sudukan ini terbuat dari batang bambu yang diruncingkan berukuran sekitar 1,5 meter. Sarana sudukan, tombak dan keris ini sebagai simbol senjata yang nantinya digunakan untuk menusuk godel luwe yang disimbolkan sebagai Bhuta Kala sebelum dilarung ke laut.

 Seusai sembahyang, sekira pukul 15.30 Wita krama langsung bergerak dengan berjalan kaki menuju Pura Segara, Desa Pakraman Kubutambahan. Krama berjalan secara beriringan sembari membawa sudukan. Pun demikian dengan sarana berupa godel luwe juga ikut diarak ke Pura Segara.

 Sesampai di depan Pura Segara, krama kembali menggelar persembahyangan sebelum melakukan bhakti ngerebeg. Persembahyangan persis dilangsungkan di tepi pantai Dusun Kubuanyar Desa Kubutambahan dengan sejumlah sarana banten. Kendati hujan rintik-rintik, namun tidak mengurangi kekusyukan krama saat sembahyang.

 Tibalah acara puncak. Seusai sembahyang krama laki-laki yang membawa sudukan, tombak dan keris berkumpul mengelilingi godel luwe. Setelah Pemangku Pura Dalem mendahului menusuk godel luwe dengan keris pusaka milik Pura Dalem, selanjutnya langsung diikuti oleh seluruh krama. Mereka secara bergiliran menusukkan sudukan, keris dan tombak ke godel luwe tersebut. Konon darah dari sarana godel luwe itulah yang diyakini sebagai penolak bala dan bencana.

 Seperti yang dilakukan oleh salah seorang krama Desa Kubutambahan bernama Ketut Wijasa. Pria yang berprofesi sebagai guru ini mengaku seingatnya sudah lima kali melewati tradisi ini semasa hidupnya. Seperti biasa, seusai ngerebeg, tombak yang ujungnya berisi darah godel tersebut akan disimpan di kamar suci rumahnya.

 “Nantinya tumbaknya tidak boleh dicuci. Karena bisa dipakai untuk obat pemalinan. Caranya kalau sakit perut, akibat pemalinan ujung tombak bisa dibasuh, lalu airnya bisa diminum. Nah kami sangat meyakini karena memang sudah terbukti,” bebernya.

 Sementara itu Kelian Desa Adat Kubutambahan Jro Ketut Warkadea mengatakan tradisi yang digelar ini merujuk dari Lontar Roga Sanggara Bumi. Menurutnya, dalam situasi alam yang tidak menentu seperti adanya bencana seperti air laut naik, banjir, gempa, tsunami, angin puting beliung, kebakaran, gunung meletus, gagal panen hingga penyakit yang membuat masyarakat meninggal akibat ulah pati dan salah pati menjadi penanda agar segera tradisi ini dilaksanakan.

 Tradisi ini sebut Warkadea terakhir digelar pada tahun 2014 lalu. Bahkan tradisi ini diyakani sudah ada sejak tahun 1.700 masehi. Terlebih, Desa Kubutambahan dulu dikenal sebagai bentengnya Pulau Bali.

 “Kami menggelar setiap lima tahun. Dan itu rangkaiannya dari tilem kenem, kepitu dan tilem kawulu. Nah sekarang saat sehari setelah tilem Kawulu inilah kami menggelar tradisi ngerebeg,” beber Warkade.

 Ia menambahkan, setelah tradisi ngerebeg, godel tersebut langsung dilarung ke laut. Dengan harapan segala mara bahaya, penyakit dan kekuatan negatif dari Bhuta Kala segera dimusnahkan sehingga tidak mengganggu kehidupan manusia.

 “Kami berharap setelah ini digelar masyarakat tidak lagi dikhawatirkan oleh berbagai jenis mara bahaya yang disebabkan oleh unsur panca mahabhuta seperti angin, api, air, tanah dan gas,” ujarnya. 

(bx/dik/aim/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia