Rabu, 16 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Usaba Dimel atau Aci Sri Desa Pakraman Selat

Tahun Ganjil di Pura Jurang, Tahun Genap di Pura Bale Agung

08 Februari 2019, 07: 43: 25 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tahun Ganjil di Pura Jurang, Tahun Genap di Pura Bale Agung

PROSESI: Salah satu prosesi Usaba Dimel ata Aci Sri Desa Pakraman Selat, Karangasem. (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, AMLAPURA - Sebagai desa yang masih menggunakan konsep ulu ampat sebagai dasar desa Bali Aga, Desa Selat pun tak lepas dari rangkaian prosesi dan ritual unik. Berdasarkan prasasti berangka 1103 tahun caka, tercatat tentang ragam prosesi adat yang telah dilakukan Desa Selat selama berabad-abad. Prosesi yang paling terkenal dan sampai saat ini masih dilangsungkan, yakni tradisi Usaba Dimel atau Aci Sri. Prosesi yang digelar setiap setahun sekali.

Menilik suku kata prosesi itu, Aci sendiri memiliki arti persembahan. Sedangkan Dimel atau Mel berarti subur. Sehingga Aci Dimel sendiri kerap disebut sebagai prosesi persembahan atas kesuburan yang telah dianugerahkan. Namun yang tak kalah unik, untuk prosesi Usaba Dimel atau Aci Sri ini, secara rutin digelar di dua tempat berbeda, tergantung dari tahun pelaksanaannya. Jika prosesi berlangsung di tahun genap, maka Aci selalu dilaksanakan di Pura Bale Agung. Sedangkan di tahun ganjil, seperti tahun 2019 ini, Aci akan dilaksanakan di Pura Jurang, tepatnya pada 19 Februari mendatang.

Bendesa Selat, Jero Mangku I Wayan Gede Mustika menjelaskan, ada sebuah tradisi kuno yang telah dijalani selama berabad-abad di Desa Selat. Yakni memberi tetabuan kepada bhuta atau rerancangan bhatara di Gunung Agung. Rerancangan tersebut konon akan selalu turun dan menyebarkan marabahaya di tahun ganjil. “Menurut tradisi dan kepercayaan yang telah kami jalankan selama ini, ada dua konsep keseimbangan, yaitu ke atas kepada leluhur dan Ida Bhatara. Ke bawah itu kepada mereka yang tidak terlihat. Nah di tahun genap, kami percaya Ida Bhatara turun dan memberikan limpahan anugerah. Makanya prosesi usaba di gelar di Pura Puseh atau Bale Agung. Sedangkan di tahun ganjil, kami memberikan tetabuan atau persembahan kepada rerancang agar tidak mengganggu, dan dipersembahkan di Pura Jurang,” jelasnya.

Berdasarkan prasasti yang dikeluarkan Raja Jayapangus pada 1103 Masehi, Usaba Dimel atau Aci Sri memiliki makna sebagai wujud rasa syukur masyarakat Desa Selat akan hasil panen yang berlimpah. “Wujud syukur sih intinya. Caranya kami mempersembahkan seluruh rangkaian upacara dengan hasil ternak dan hasil pertanian. Coba perhatikan seluruh sarana upakara, pasti menggunakan daun dan ternak. Tidak ada menggunakan plastik kan,” ungkapnya tersenyum.

Desa yang berada tepat di punggung Gunung Agung ini diakui juga terbilang rawan ketika terjadi erupsi. Meski begitu, dia menyatakan selama berabad-abad lamanya, prosesi ini selalu rutin digelar setiap tahun, apa pun kondisi yang terjadi. “Seperti tahun lalu, Usaba Dimel ini dilaksanakan tepat ketika erupsi mulai terjadi. Walaupun dikatakan berbahaya, sudah kewajiban kami untuk tetap menjaga wilayah Desa Selat tetap aman dan tetap subur. Larena di sini kami tidak hanya hidup sendirian. Di sini kami hidup berdampingan dengan mereka yang menjaga dan tinggal di gunung selama berabad-abad. Jika kami lalai, maka dampaknya akan dirasakan seluruh masyarakat di Bali, bukan hanya kami,” terangnya.

Lalu apa makna prosesi tetabuan yang dilakukan di Pura Jurang. Menurut Mustika, tetabuan fungsinya untuk me-nyomia-kan rerancang Ida Bhatara Gunung Agung. Agar mereka terlena dan tidak turun mengganggu manusia. “Ada batas tipis antara mereka dan kita. Agar mereka tidak mengganggu, makanya kita berikan ajeng-ajengan, beras ketan injin jangkep. Tujuannya agar mereka puas. Kalau sudah puas, kan mereka tidak susah turun gunung mengganggu kita,” ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakan, Aci Usaba Dimel yang dilaksanakan pada Sasih Kesanga, dimana rangkaian prosesinya dimulai dengan melaksanakan prosesi oncang-oncangan. “Pernah dulu tidak melakukan prosesi oncang-oncangan, akhirnya desa dilanda kekeringan. Sejak saat itu kami selalu melakukannya sesuai dresta yang ada di desa kami,” ungkapnya.

Dalam rangkaian Usaba Dimel juga dilaksanakan prosesi Ngepitu Ngerajan Panti, yang diikuti 18 banjar beserta desa adat. Dan sama dengan desa Bali Aga lainnya, Desa Selat juga memiliki 5 prajuru desa yang disebut lima prajuru desa. Mereka yang mengatur seluruh sedahan edengan. “Kelima prajuru ini perannya sangat vital. Seluruh prosesi baik tahunan maupun prosesi biasa harus dikawal dan diatur oleh mereka,” tegasnya.

“Untuk prosesi Aci Usaba Dimel pada 19 Februari mendatang. Memang lingkar siklusnya tahun ini tepat di tanggal itu,” pungkasnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia