Selasa, 25 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Polisi Temukan Kejanggalan pada Mobil Masuk Jurang di Wanagiri

08 Februari 2019, 21: 34: 55 WIB | editor : I Putu Suyatra

Polisi Temukan Kejanggalan pada Mobil Masuk Jurang di Wanagiri

SIM: SIM Kadek Rifki Cahyadi yang ditemukan di dalam dompet sopir mobil yang masuk jurang. Rifki sendiri hingga kini belum ditemukan. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SUKASADA - Sejumlah kejanggalan menyelimuti pengungkapan insiden kecelakaan yang dialami Kadek Rifki Cahyadi, 36 di kawasan Dusun Bhuana Sari, Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Kejanggalan itu terungkap dari hasil penyelidikan yang dilakukan oleh jajaran Polsek Sukasada.

Kapolsek Sukasada Kompol Nyoman Landung menjelaskan, selama melakukan penyelidikan justru pihaknya belum menemukan tanda-tanda terjadinya kecelakaan di sekitar TKP. Padahal TKP yang posisinya sebelah selatan (seberang jalan, Red) Pura Dalem Desa Pakraman Wanagiri itu terdapat banyak pepohonan.

“Sama sekali tidak ada pohon yang tumbang, atau minimal pohonnya lecet, rumputnya ada jejak ban akibat diterobos kendaraan. Jatuhnya mobil seolah lurus dan mendarat dengan mulus. Begitu juga tanda-tanda mobil melakukan pengereman di aspal di sekitar TKP, tidak kami temui,” jelasnya saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (8/2) siang.

Tak berhenti di sana. Saat kendaraan Matic Mitubishi Mirage bernopol DK 1186 OA ditemukan, justru  mobil dalam kondisi on dengan perseneleng di posisi D (drive). Kompol Landung pun berandai-andai. Jika korban Rifki ada di dalam mobil, bisa saja korban terpental keluar paling jauh lima meter di sekitar TKP.

“Mobil ditemukan di kedalaman sekitar 50 meter dari lokasi jalan raya. Sedangkan kalau danaunya itu posisinya hampir 100 meter dari tempat mobil ditemukan. Padahal di sekitar TKP penuh pepohonan. Jadi kecil kemungkinan korban langsung jatuh sampai ke danau,” jelasnya.

Kendati demikian, Kompol Landung mengaku belum berani menyimpulkan apakah Rifki Cahyadi merupakan korban laka lantas tunggal atau korban kejahatan. Terlebih, di lokasi sama sekali tidak ditemukan ceceran darah selayaknya korban kecelakaan. Atau tas korban yang berisi HP dan dompet ditemukan masih utuh di dalam kendaraan saat dievakuasi.

Hanya saja pihaknya menyayangkan sikap keluarga korban yang hingga kini kurang pro aktif dalam memberikan keterangan terhadap pihak kepolisian. Pihaknya melalui unit Reskrim Polsek Sukasada sudah berusaha beberapa kali menghubungi istri korban bernama Chyntia Dini Poernamasari, 32 melalui panggilan telepon. Tetapi justru hanya dijawab oleh ayah Rifki.

“Saat dihubungi, mertuanya yang angkat. Kata mertuanya (ayah korban, Red)  menantunya itu masih shock dan stres. Jadi belum bersedia dimintai keterangan, kalau kondisi sudah bagus baru diijinkan. Semestinya dari pihak korban juga harus pro aktif memberikan keterangan tambahan. Sehingga kami bisa ada data tambahan untuk bekerja,” pungkasnya.

Selama ini informasi yang diperoleh Polsek Sukasada justru hanya berasal dari pihak Polsek Denpasar Selatan. Sedangkan keluarga korban hingga Jumat kemarin belum sempat mendatangi Mapolsek Sukasada yang menangani TKP.

Kompol Landung menyebut, korban Rifki sempat pamit ke istrinya pada Sabtu 26 Januari sekitar pukul 21.00 Wita malam. Kepada istrinya korban mengaku hendak ke Singaraja untuk mengambil cicilan kredit. Selanjutnya sekira pukul 23.00 Wita, korban menelpon istrinya dan meminta untuk tidak menutup pintu gerbang, karena korban akan balik.

Namun hingga Minggu 27 Januari korban tak kunjung pulang ke rumah. Sehingga sang istri langsung melapor ke Polsek Denpasar Selatan, jika suaminya hilang. Di saat bersamaan istri korban juga melakukan pelacakan menggunakan GPS yang ada di mobil korban.

“Nah setelah dilacak oleh istrinya lewat GPS, maka ditemukan kendaraannya di wilayah Wanagiri. Kendaraan itu langsung kami amankan ke Mapolres Buleleng. Begitu juga tas bersama dompetnya untuk proses lidik. Sedangkan HP nya diserahkan ke Polsek Densel untuk dilidik. Jadi datanya masih sangat minim. Sehingga kami harus kerja keras melakukan penyelidikan,” imbuh Kompol Landung.

Selama dilaporkan hilang, Kompol Landung menyebut proses pencarian terus dilakukan. selain melibatkan Tim Basarnas dan BPBD Buleleng, proses pencarian juga dibantu puluhan warga setempat. Namun hasilnya masih nihil.

Semetara itu Koordinator Pos SAR Buleleng Dewa Putu Hendri Gunawan mengatakan proses pencarian dilakukan sejak Kamis (7/2) lalu. Saat itu Tim SAR Buleleng menerima informasi tembusan dari POS SAR Induk Denpasar, jika keluarga korban meminta bantuan untuk proses pencarian korban.

Proses pencarian pada Jumat (8/2) siang melibatkan enam anggota Tim SAR. Mereka juga diback up oleh tiga anggota BPBD Buleleng.Hendri menyebut dari hasil penyisiran yang dilakukan hingga kedalaman 150 meter dan radius 200 meter. Hasilnya pun masih nihil.

“Kecil kemungkinan korban jatuh ke danau. Kami sudah cari hingga kedalaman 150 meter, dimana 50 meternya lagi itu sudah Danau Buyan. Kalau ada korban, mestinya kami sudah mencium bau menyengat, apalagi korban sudah jatuh 12 hari lalu,” bebernya.

Di sisi lain, salah seorang anggota Tim SAR yang enggan namanya dikorankan menyebut pihak keluarga sudah sempat meminta bantuan secara niskala. Tak tanggung-tanggung, sudah tiga Balian (dukun, Red) yang dimintai bantuan untuk menerawang keberadaan korban.

“Kemarin (Kamis, Red) keluarga korban sempat cerita saat datang ke TKP. Katanya sudah minta bantuan secara niskala melalui Balian. Ya hasil penerawangannya beda-beda. Katanya dibilang korban masih hidup. Dibilang juga masih jalan-jalan ke Pantai. Karena petunjuk Balian itulah keluarganya ke sini (TKP, Red), mereka juga bawa pemangku dari Tabanan untuk ngulapin,” singkatnya. 

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia