Selasa, 19 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Ada Masegeh Ngelamuin di Sukawana, Kintamani, Ini Tujuannya

09 Februari 2019, 18: 21: 47 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ada Masegeh Ngelamuin di Sukawana, Kintamani, Ini Tujuannya

PROSESI: Sejumlah warga melakukan prosesi Masegeh Ngelamuin. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, KINTAMANI - Masyarakat di Desa Sukawana, Kintamani, Bangli, punya tradisi somia bhuta atau pembersihan jagat dan alam semesta secara niskala. Tradisi yang sudah berjalan berabad-abad itu, juga dilakukan untuk menjalin kerukunan umat. Prosesi itu disebut dengan Masegeh Ngelamuin.

Masegeh Ngelamuin dilaksanakan setiap tahun, setelah berakhirnya rangkaian upacara ngusaba dalem di Bale Agung Desa Sukawana. Uniknya, rangkaian upacara itu diadakan bertahap, sejak sasih keenam hingga kedasa.

Selama beberapa kurun waktu tersebut, masyarakat desa setempat akan menghaturkan aneka bahan-bahan yang akan dipakai sarana persembahan suci atau yadnya. Selama kurun waktu itu juga, tujuh ekor sapi akan disembelih.

Menurut Bendesa Adat Sukawana I Made Tresna, upacara Masegeh Ngelamuin dimaknai sebagai cara untuk membersihkan jagat atau desa dari hal-hal negatif. Upacara itu sudah jadi kewajiban masyarakat untuk selalu menghaturkan sesaji kepada Hyang Bhuta. Di samping itu, masyarakat teguh dan pantang untuk meniadakan seluruh rangkaian upacaranya.

“Tujuannya tidak lain untuk menjaga keseimbangan alam dan menjaga kesejahteraan masyarakat. Kami yakin kalau upacara itu dilakukan, maka desa kami akan kukuh, kuat seperti benteng. Masyarakat juga sejahtera,” kata Made Tresna.

Tresna menjelaskan, setelah menghaturkan beberapa sesaji, masyarakat bisa mencicipi sajian yang telah dipersembahkan itu. Mereka dapat mencicipi aneka lauk, nasi, dan dialasi daun pisang. Masyarakat duduk bersama dan secara makan bersama-sama (magibung). Warga percaya persembahan tersebut niscaya membawa berkah bagi orang yang menikmatinya.

“Tidak ada aturan, baik itu pria atau wanita boleh mengikuti. Bahkan kalau orang dari luar desa tahu ada tradisi ini, boleh ikut mencicipi. Karena sekalian meminta berkah,” imbuhnya.

Sebelumnya, ritual diawali dengan menghaturkan banten caru, dan daging sapi potongan sebagai sarana persembahannya. Upakara juga dilengkapi daging sapi yang sudah diolah, termasuk nasi beralaskan daun pisang.

Beberapa sarana seperti aneka telur juga dipakai. Semuanya dijejer beberapa meter sepanjang jalan raya. Pelaksanaannya selalu dilakukan di wilayah Banjar Kute Dalem.

Menurut cerita, kata Tresna, wilayah Banjar Kute Dalem konon sebagai gerbang alam niskala yang besar. Selain itu, Kute Dalem diyakini menjadi pusatnya benteng pertahanan secara niskala.

Dikatakan juga, warga Sukawana tidak melakukan berbagai ritual keagamaan sejak sasih jiyestha hingga mala sadha. Berbagai ritual upacara, baik dewa yadnya hingga bhuta yadnya baru dilakukan sejak masuk ke sasih kasa.

“Itu sudah dari turun-temurun. Secara tertulis dalam berbagai catatan sastra memang tidak disebutkan secara pasti. Tapi kami meyakini tradisi ini melalui keteguhan. Bahwa kepercayaan itu sudah dilakukan sejak leluhur kami beratus-ratus tahun lalu, bahkan lebih,” tegasnya.

Memasuki sasih kasa hingga sasih karo, berbagai upacara baru dilaksanakan. Hingga masuk sasih keenam, warga dari tujuh banjar adat melaksanakan tajen. Itu berentet selama 5 hari. Di waktu yang bersamaan juga dikakukan sembelih sapi.

“Sapi dipotong di pelataran Bale Agung Pura Desa di Banjar Desa. Daging yang dipotong kemudian diolah menjadi aneka sesaji, sehingga dapat dinikmati setelah dipersembahkan,” ungkapnya.

Khusus untuk upacara Masegeh Ngelamuin, magibung dilaksanakan di wilayah Banjar Kute Dalem. Ritual itu diiringi warga dari beberapa banjar. Upacara dimangku oleh Jero Kubayan Sukawana.

Tak ada akibat apapun kalau semua rangkaian tradisi itu dipantang warga. Masyarakat sudah percaya, Masegeh Ngelamuin membawa masyarakatnya dalam keadaan hidup makmur. “Karena itu kepercayaan. Boleh percaya atau tidak, tapi kami tetap teguh sampai sekarang,” pungkasnya.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia