Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese
Gong Dewa di Banjar Wani

Ada Sejak 1930an, Hanya Iringi Upacara Dewa Yadnya

17 Februari 2019, 20: 42: 21 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ada Sejak 1930an, Hanya Iringi Upacara Dewa Yadnya

KLASIK: Gong Dewa di Banjar Wani, Desa Gadungan, Tabanan yang hanya dimainkan untuk upacara dewa yadnya. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, TABANAN - Pada umumnya gamelan yang dimiliki sebuah desa pakraman di Bali bisa digunakan untuk mengiringi upacara Panca Yadnya, mulai dewa yadnya, rsi yadnya, manusa yadnya, pitra yadnya, hingga bhuta yadnya. Tanpa alunan gong, suatu upakara atau yadnya pun dirasa tak lengkap.

Tapi beda dengan seperangkat gamelan yang ada di Banjar Wani, Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan. Karena seperangkat gamelan tersebut ternyata hanya digunakan untuk upacara dewa yadnya saja. Tidak hanya itu, banyak pula yang mengatakan, jika alunan suara yang dihasilkan gamelan ini terdengar aneh. Inilah yang akhirnya memunculkan nama bagi seperangkat gamelan tersebut biasa disebut dengan Gong Dewa. Bahkan menurut warga, upacara dewa yadnya mereka tidak akan lengkap, jika tidak diiringi dengan Gong Dewa itu.

Berbeda dengan perangkat gamelan pada umumnya, yang bisa digunakan saat upacara apa saja. Gong Dewa ini juga termasuk gong sakral yang tidak bisa dimainkan sembarang orang, dan para penabuhnya pun kebanyakan dimainkan secara turun-temurun.

Kelian Adat Banjar Wani, I Ketut Parwa menuturkan, keberadaan Gong Dewa ini sudah ada sekitar tahun 1930an. Dimana saat itu sebanyak 17 orang warga Desa Gadungan yang berasal dari berbagai banjar berniat untuk bisa mempunyai seperangkat gamelan. Setelah mengumpulkan dana sedikit demi sedikit, 17 orang warga yang awalnya tergabung dalam Sekaa Nandur (kelompok pembajak sawah) akhirnya membeli seperangkat gong.

“Menurut cerita tetua kami terdahulu, gong ini dulu tempatnya berpindah-pindah alias bukan di Banjar Wani, tetapi sempat di Banjar Batur, dan di banjar lainnya sesuai tempat tinggal ke-17 orang itu. Sampai akhirnya terakhir berada di Banjar Wani,” ujarnya.

Selain hanya dimainkan saat upacara dewa yadnya, ketika piodalan berlangsung di Pura Desa, gong ini juga harus dimainkan di utama mandala. Bahkan ketika dimainkan, perangkat gamelan ini juga pantang diletakkan di tanah. Sehingga biasanya untuk tempat gamelan ini telah disediakan bale khusus.

Dia menceritakan, pernah pula suatu ketika Gong Dewa ini digunakan untuk mengiringi upacara pitra yadnya. Hasilnya ketika gamelan dimainkan, alunan suara yang dihasilkan tidak dinamis, hingga membuat acara yang berlangsung menghadapi kendala. “Percaya tidak percaya, itu memang pernah terjadi, suara gong menjadi mesradukan, dan acara warga itu menemui kendala sampai banyak yang kerauhan,” tuturnya.

Terkait dengan jumlah gending yang dibawakan tatkala Gong Dewa ini mengiringi suatu upacara dewa yadnya. Disebutkan, secara umum sejak awal hingga akhir upacara, gamelan ini bisa memainkan 8 sampai 10 gending. Deretan gending itu seperti Pamungkah, Pengundang Taksu, Selulung, Tabuh Enak, Bias Membah, dan lainnya. Kemudian telur atau pun buah dari Sesayut Gong yang dihaturkan sebelum Gong Dewa dimainkan, juga sering kali diminta masyarakat yang anaknya belum lancar berbicara.

Untuk seperangkat gamelan ini, sekilas memang tak jauh beda dengan perangkat gong umumnya, meski memang terbilang sederhana alias bukan gong gede yang perangkatnya lengkap. Sebab satu barung gamelan ini hanya terdiri dari dua buah Reong, dua buah Jublag, dua buah Gangse kecil, empat buah Ceng-Ceng, Kempli, Kempur, Tawa-Tawa, dan dua buah Gong. “Perangkatnya bisa dikatakan sedikit, tetapi alunan musik yang dihasilkan seperti gong gede. Sehingga banyak yang bilang suaranya aneh dan laras suaranya Selendro,” imbuhnya.

Warga yang bisa memainkan Gong Dewa ini juga bukan sembarang orang, karena dianggap memiliki keunikan dan cara tersendiri untuk memainkannya. Maka tak heran Sekaa Gong Suci yang kini biasa memainkan Gong Dewa, terdiri dari warga yang sudah lanjut usia. Sebab generasi muda yang ingin belajar, mengaku kesulitan dalam memainkan gong tersebut. Saat ini saja sekaa tersebut hanya terdiri dari 14 orang, sehingga masih kurang tiga orang lagi karena kesibukan. “Yang memainkan saat ini juga merupakan keturunan dari 17 orang yang dulu membeli gong ini. Jadi sudah ada sekitar 4 sampai 5 generasi,” lanjut pria yang juga Kelian Sekaa Gong Suci tersebut.

Disamping itu, kayu jenis Teep yang digunakan pada gamelan juga tidak pernah diganti hingga saat ini. Tak ayal saat melihat perangkat gamelan ini, kita pasti akan tahu jika gamelan tersebut sudah ada sejak dulu, lantaran bentuknya yang klasik. Bahkan menurut tim dari Provinsi Bali yang dulu pernah mendata, gong yang umurnya sudah lama hanya ada tiga di Tabanan, salah satunya adalah Gong Dewa ini. Keunikan dan nilai sejarah inilah, yang membuat Sekaa Gong Suci beberapa kali tampil di Gedung Kesenian I Ketut Maria Tabanan. Sayangnya perhatian dari pemerintah masih minim, terutama untuk pembinaan sekaa ataupun perawatan gamelan.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia