Minggu, 21 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Kendang Mebarung Sandhi Swara Diyakini Tertua di Jembrana

18 Februari 2019, 15: 30: 00 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kendang Mebarung Sandhi Swara Diyakini Tertua di Jembrana

TERTUA: Kendang mebarung milik Sekaa Kendang Sandhi Swara di Desa Yehkuning, Jembrana diyakini memiliki umur paling tua di Bumi Makepung Jembrana. (GDE RIANTORY/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, NEGARA - Kesenian kendang mebarung merupakan salah satu kesenian khas yang ada di Kabupaten Jembrana. Namun keberadaanya kini mulai langka dan hanya tersebar di beberapa kecamatan saja, seperti Kecamatan Mendoyo yakni di Desa Penyaringan, Desa Pergung, dan Mendoyo Dauh Tukad. Lalu di Kecamatan Negara, yakni Kelurahan Lelateng, Desa Baluk, Desa Kaliakah dan Desa Tegal Badeng. Sedangkan di Kecamatan Jembrana ada di Desa Dangin Tukadaya dan Desa Yehkuning.

Salah satu sekaa kendang membarung yang hingga kini masih eksis yakni Sekaa Kendang Mebarung Sandhi Swara, Desa Yehkuning. Bahkan menurut informasi, sekaa ini memiliki kendang yang diyakini memiliki umur paling tua. Tidak itu saja, keberhasilan Sekaa Kendang Sandhi Swara dalam melakukan regenerasi penabuh, menjadikannya tetap eksis dan kerap tampil dalam pagelaran khusus hingga sekarang.

I Wayan Agus Partama yang merupakan generasi penerus keempat dari Sekaa Kendang Sandi Swara mengatakan, berdasarkan cerita turun temurun dari bapaknya (generasi ketiga), sekaligus sesepuh Sekaa Sandhi Swara, I Ketut Rude (Kiang Rude), dikatakan untuk di Yehkuning, kendang mebarung ini memiliki sejarah panjang. Dimana dari penuturan para tetuanya, diceritakan semuanya bermula pada tahun 1900, ketika ada seorang pencari burung prekutut (titiran, red) di muara Pantai Yehkuning bernama Dadong Rupa. Saat itu masyarakat sekitar yang awalnya hanya suka bermain kendang dengan ukuran kecil, memiliki ide untuk membuat kendang berukuran lebih besar. Ide itu disalurkan dengan meminta kepada Dadong Rupa untuk dicarikan kayu berukuran besar. Dadon Rupa kemudian membawakan salah satu kayu nangka berukuran besar, yang diangkut menggunakan perahu menuju ke muara Pantai Yehkuning. “Setelah itu, para sekaa demen menjemput kayu tersebut untuk diolah. Salah satunya yang ikut adalah buyut saya, Kiang Gelot (generasi pertama). Kemudian kayu tersebut dibawa ke rumah Pan Rereg untuk diolah,” terangnya saat ditemui di rumahnya di Banjar Yehkuning, Desa Yehkuning. 

Dalam proses pembuatan saat itu lanjut Agus, kayu nangka tersebut diolah selama tiga bulan, dengan peralatan tradisional. Dimana selama tiga bulan berturut-turut, 5 orang mengerjakan dari pagi hari hingga siang, lalu dilanjutkan lagi oleh 5 orang lainnya hingga sorenya. Alhasil kayu tersebut selesai dikerjakan, dan hingga kini masih tetap bertahan, alias tidak pernah diganti, serta masih utuh dan biasa digunakan untuk pentas. “Sesudah selesai lalu diiringi dengan gamelan angklung. Sehingga diberi nama kendang mebarung. Kemudian dibuatkanlah sekaa bernama Sekaa Kendang Sandhi Swara. Hingga saat ini kayunya itu masih asli, tidak pernah diganti,” ujarnya.

Meskipun kayunya disebut tidak pernah diganti, namun untuk pelengkap lainnya, seperti belulang sapi yang membungkus kedua ujungnya sudah kerap diganti. Penggantian dilakukan ketika suara yang dihasilkan dirasakan tidak sesuai. “Kalau belulang sering diganti. Karena kalau sudah jelek suaranya dan tidak bisa diolah lagi, terpaksa belulang sapi bagian depan kendang dan belakangnya diganti. Supaya suaranya tambah bagus,” jelasnya.

Secara umum pementasan kendang berukuran raksasa tersebut dikolaborasikan dengan iringan musik angklung, lengkap dengan gangsa angklung, terompong, dan kempul. Untuk bagian kayu kendang ukuran besar tersebut dibungkus menggunakan kain songket. “Untuk menghasilkan bunyi, dipukul oleh satu orang pemain kendang menggunakan panggul, yang ujungnya terbuat dari tanduk sapi. Sedangkan gagang panggul dari penyalin, agar lebih lentur,” tuturnya.

Namun tidak jarang saat pemetasan petugas pemukul kendang kadang bergantian. Mengingat untuk memukulnya dipastikan akan menguras tenaga sang pemukul . Apalagi saat irama mebarung, pemukul kendang harus memiliki tenaga yang kuat untuk beriringan dengan irama angklung. “Untuk mukulnya harus kuat dan mengikuti irama. Saat awalnya ketukan pembuka biasa saja, tapi kalau sudah mulai mebarung, ketukannya lebih kencang,” jelasnya.

Dalam memukul kendang, umumnya ada beberapa jenis ketukan, yakni gedig lima (lima kali ketukan), gedig pat (empat ketukan) dan gedig telu (tiga ketukan). Tapi sekarang yang digunakan hanya gedig pat (empat ketukan), bahkan dengan gedig telu (tiga ketukan) agar biar lebih mudah.

Sementara salah satu pengurus sekaligus pemangku Sekaa Kendang Sandhi Swara, I Ketut Jendra, saat menunjukan lokasi kendang menjelaskan, jumlah anggota sekaa yang ada sekarang ini sebanyak 36 orang. Dimana 10 diantaranya merupakan anggota yang bertugas untuk memukul kendang, dan 26 sisanya khusus memainkan seperangkat angklung, sebagai pengiring kendang mebarung. “Yang di bagian kendang memang banyak. Pas mebarung itu ganti-gantian. Karena kan tidak kuat sendiri terus memukul,” terangnya.

Untuk pemetasannya, diakui Jendra untuk Sekaa Kendang Sandhi Swara memang masih menjadi primodana dalam mengisi acara upacara keagamaan. Tidak hanya di Desa Yehkuning, namun sering melanglang buana hingga ke luar Desa Yehkuning. Bahkan saat adanya even nasional, Sekaa Kendang Sandhi Swara juga sering unjuk gigi. Selain itu, sekaa kendang ini sudah sering mengisi acara HUT Kota Negara, bahkan diutus mewakili Jembrana pada ajang PKB (Pesta Kesenian Bali).

(bx/tor/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia