Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Enam Anak di Bawah Umur Positif HIV di Bangli

22 Februari 2019, 07: 12: 04 WIB | editor : I Putu Suyatra

Enam Anak di Bawah Umur Positif HIV di Bangli

Ilustrasi (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Angka pengidap HIV atau Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Bangli rupanya cukup mengkhawatirkan. Sebab, pengidap HIV dialami orang pada usia produktif, rentang 15-50 tahun.

Berdasar data dari Dinas Kesehatan Bangli, bagian penanggulangan penyakit, total ada 424 jumlah penderita. Ini dihitung dari 2006 sampai 2018. Jumlahnya dihitung secara kumulatif, dihitung berdasar penambahan kasus dari tahun ke tahun.

Kepala Dinas Kesehatan Bangli, I Nengah Nadi menjelaskan, dari 424 kasus itu, ada enam anak di bawah 15 tahun terjangkit HIV. Mereka terjangkit HIV lantaran minimnya pengetahuan orangtua saat mengandung janin hingga proses persalinan secara normal.

Mereka kini hidup layaknya masyarakat biasa. Ada yang sudah menginjak SMP dan SD. Bahkan terdapat dua bayi baru lahir terindikasi, yang lahir dari ibu ODHA. Namun karena usia dua bayi masih di bawah 18 bulan, belum bisa dipastikan apakah bayi itu positif atau negatif.

“Kalau penyebaran lewat ibu hamil ini, ada dua kemungkinan. Jika dari awal kita tahu ibunya positif, maka kita sarankan persalinannya lewat cesar. Itu pun tidak selalu hasilnya negatif (HIV). Namun jika persalinannya lewat normal, maka anaknya pasti positif HIV,” terang Nengah Nadi, Kamis kemarin (21/2).

Lebih lanjut dijelaskan, sementara dua bayi di bawah 18 bulan itu masih memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat. Untuk sementara, anak itu diberikan obat pencegahan oleh dokter. Menginjak usia ke atas, sistem imun diperhitungkan melalui beberapa tes. Apabila diketahui positif, maka anak tersebut selanjutnya akan mengkonsumsi Antiretroviral (ARV) secara rutin.

Meski begitu, ARV belum bisa didapat di Bangli. Pelayanan berupa konsul dan tes atau Voluntary Conseling and Testing (VCT), masih bisa dinikmati di Bangli, melalui Puskesmas dan rumah sakit. ARV yang merupakan obat penekan perkembangan virus HIV dalam tubuh itu, baru bisa diperoleh di pelayanan Care Support Treatment (CST). CST hanya ada di Denpasar, Badung, Gianyar, dan Buleleng.

“Penyediaan fasilitas itu (CST) juga perlu pelatihan sejumlah petugas medis. Selain itu, pemeriksaan ini juga kembali pada kenyamanan masyarakat masing-masing yang lebih suka periksa diluar kabupaten,” kata Nadi.

Terkait jumlah penderita, Dinkes mencatat, jumlah penderita HIV/AIDS di tahun 2015 sebanyak 236 kasus. Jumlah ini bertambah di tahun 2016 sebanyak 60, hingga menjadi 296 kasus. Demikian pula pada tahun 2017, mengalami peningkatan sebanyak 54 kasus menjadi 350 kasus, dan tahun 2018 mengalami peningkatan sebanyak 74 kasus, sehingga total kumulatif kasus HIV/AIDS di Bangli mencapai 424 kasus.

Lebih lanjut dikatakan Nadi, bagi mereka yang kekebalan tubuhnya bagus, orang baru diketahui mengidap HIV 10 hingga 15 tahun ke depan. Sedangkan yang terlihat sekarang, kemunginan adalah mereka yang telah terjangkit 10 hingga 15 tahun lalu. “Itu terlihat setelah melakukan hubungan seks dengan orang yang berisiko. Kasus ini ibarat fenomena gunung es,” pungkasnya.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia