Senin, 22 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Sportainment

"Climbing Wall" di Bangli Tak Terurus, Tiangnya Banyak yang Keropos

25 Februari 2019, 19: 23: 10 WIB | editor : I Putu Suyatra

"Climbing Wall" di Bangli Tak Terurus, Tiangnya Banyak yang Keropos

TAK TERAWAT: Papan panjat tebing di area Lapangan Kapten Mudita, Bangli tak pernah tersentuh. Terakhir dipakai latihan jelang Porprov Bali di Buleleng, 2015 silam. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, BANGLI - Climbing wall atau papan untuk olahraga panjat tebing, di area Lapangan Kapten Mudita, Bangli, tak terurus. Sebab, peminat olahraga itu di Kota Bangli sedikit. Sehingga tidak ada yang memanfaatkannya.

Seperti pantauan Bali Express (Jawa Pos Group), Senin (25/2) sore. Tiang-tiangnya banyak yang karatan dan nyaris keropos. Kondisinya sebagian tertutup tumbuhan rambat dan warnanya mulai kusam. Padahal, usianya kurang empat tahun. Itupun dibangun untuk latihan Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) kontingen Bangli jelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali di Buleleng, 2015 lalu.

Terkait hal tersebut, Ketua Umum KONI Bangli, Sang Kompiang Suarjaksa menyebut ada rencana untuk memindahkan papan tersebut ke sekolah-sekolah yang dianggap layak memakainya. Meski begitu, KONI Bangli masih ragu terkait kepemilikan asetnya. Belum lagi pemindahan itu butuh dana yang cukup besar.

Dia berdalih, dirinya yang baru memimpin KONI Bangli, tidak tahu-menahu soal kepemilikan atau pun hak atas pengelolaan. Sehingga saat penyerahan jabatan, tidak ada pembicaraan khusus mengenai itu. "Kami akan tanyakan dulu ke pihak panjat tebing (FPTI Bangli). Mereka juga masih off," ungkap Suarjaksa.

Sempat diadakan diskusi bersama para pengurus cabang olahraga (cabor) di Bangli. Hanya FPTI Bangli yang tak hadir. "Sekalian sih mau tanya itu (status papan)," ketusnya.

Mengapa papan tersebut jarang dipakai? Selain kondisinya membahayakan, peminat olahraga panjat tebing di Bangli tidak banyak. Peminatnya sebagian besar berasal dari Kintamani. "Itulah sebab, jarang mereka memakai karena kan jauh. Warga kota (Bangli) juga peminatnya sedikit," tukasnya. 

Sekjen KONI Bangli, Nengah Budiarsa tak menampik kondisi di lapangan. "Jadinya papan panjat tebingnya seperti pajangan saja itu sekarang. Kalau mau tahu persoalannya, kami harus tanyakan lagi ke pengurus FPTI delapan tahun lalu," katanya.

Sebab pengurus kabupaten (Pengkab) FPTI di Bangli beberapa tahun vakum. Bahkan kepengurusan baru dibentuk beberapa waktu lalu dan tinggal menunggu SK pengurus. "Kami sempat didekati pengurus di provinsi terkait hal ini. Nah, kalau pengurus baru sudah clear, nanti kami akan intruksikan segera. Apakah dikelola lagi atau bagaimana," tegas Budiarsa.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia