Kamis, 21 Jan 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Rangkaian Nyepi Desa, Warga Kintamani Megoak-goakan

27 Februari 2019, 07: 49: 05 WIB | editor : I Putu Suyatra

Rangkaian Nyepi Desa, Warga Kintamani Megoak-goakan

SALING TANGKAP: Anak-anak hingga dewasa ikut bermain megoak-goakan di Kintamani, Selasa (26/2). (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Megoak-goakan tak cuma ditemui di Desa Panji, Buleleng. Tradisi itu juga dapat dijumpai di Desa Adat Kintamani, Bangli jelang Hari Raya Nyepi. Di Kintamani, Megoak-goakan dilaksanakan saat Nyepi Desa.

Sejak pukul 07.00, warga Kintamani sudah memenuhi jalanan. Mereka duduk di emper garasi rumah. Mereka saling menunggu untuk berangkat menuju area terbuka di Banjar Wira Dharma, Kintamani. Jalanan menuju desa ditutup. Sekitar 4.000 warga dari 1.200 kepala keluarga (KK) di enam banjar, berjalan menuju tanah lapang, dekat dengan perkebunan warga.

Di sana, para pria dan wanita, juga anak-anak hingga remaja sudah berkumpul. Mereka mengenakan pakaian adat Bali madya dengan kaus bermacam-macam warna. Para peserta megoak-goakan membagi diri ke dalam beberapa kelompok. Terdiri atas 11 orang bahkan lebih sampai 15 orang.

Tepat pukul 08.00, kelompok pertama antara ibu-ibu dan para pria tangguh bersiap. Mereka membentuk barisan panjang, lalu saling kejar dan saling tangkap. Aturan mainnya, apabila pemimpin kelompok dapat menangkap orang yang jadi ekor kelompok lawan, maka kelompok itu menang.

Dalam tradisi yang dilakukan turun-temurun itu, megoak-goakan memiliki makna kesetiaan rakyat dengan pemimpin, dan pemimpin yang mampu mengayomi dan melindungi rakyat. Orang paling depan dalam barisan disimbolkan sebagai pemimpin, barisan tengah hingga belakang adalah rakyatnya.

Bendesa Adat Kintamani Nyoman Sukadia mengatakan, megoak-goakan dilaksanakan serangkaian dengan upacara di Pura Dalem Pingit desa setempat. Upacara ini terkait perayaan Nyepi Desa yang jatuh tiap sasih kesanga. Upacaranya disebut Muse. "Masyarakat melakukan persembahan kepada Ratu Dalem yang berstana di Pura Dalem Pingit," jelas Sukadia.

Sehari sebelumnya, dilaksanakan upacara dengan persembahan ayam merah. Setelah itu juga dihaturkan sesaji berupa sapi yang disembelih dan diolah. Upacara ini dilaksanakan di tempat yang disebut dengan Kalang Beten.

Rangkaian upacara selanjutnya, pada tengah malam dilaksanakan pangerupukan yang gunanya menyomia bhuta kala. “Setelah semua rangkaian upacara itu kita laksanakan, rangkaian pelaksanaan nyepi desa baru kita laksanakan dan dilanjutkan dengan magoak-goakan selama sehari penuh

Untuk menentukan pelaksanaan megoak-goakan, dihitung sejak purnama kesanga dan dihitung menggunakan hitungan sesuai adat di Kintamani. Rentang pelaksanaan bisa 5 sampai 10 hari sejak purnama kesanga. "Kami pun tidak bisa menjelaskannya karena ada hitungan khusus. Jadi tidak tentu," ungkap Sukadia.

Sama seperti Nyepi pada umumnya, masyarakat Kintamani juga melaksanakan Catur Brata Penyepian saat Nyepi Desa. Bahkan Brata Penyepian berlangsung tiga hari setelah piodalan di Pura Dalem Pingit "Warga tidak boleh bepergian, tidak ke kebun, tidak boleh memati-matian (memotong hewan), dan tidak boleh menjual hewan. Khusus ikut megoak-goakan saja," imbuhnya.

“Selain untuk persembahan kepada Ida Ratu Dalem dan iringannya itu, masyarakat kami yakin bila seseorang ada yang sakit, dengan ikut serta menarikan goak-goakan niscaya penyakitnya bisa sembuh,” tandasnya, sembari mengakui banyak warganya yang sudah membuktikannya. Yang mana kesembuhan ini merupakan berkah dari Ratu Dalem Pingit.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news