Kamis, 22 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Politik

Penyandang Difabel Ikut Jadi Pelipat Surat Suara

27 Februari 2019, 22: 48: 59 WIB | editor : Hakim Dwi Saputra

Penyandang Difabel Ikut Jadi Pelipat Surat Suara

TAK MAMPU BERJALAN: Darma Laksana, 27, pria disabilitas asal Susut, Bangli yang jadi petugas lipat KPU Bangli (Agus Eka Purna Negara/Bali Express)

Share this      

BALI  EXPRESS, BANGLI – Ada sesuatu yang unik terlihat di tengah proses penyortiran dan pelipatan surat suara untuk pemilihan umum (pemilu) serentak 17 April 2019 di Bangli. Salah seorang difabel ikut bekerja sebagai buruh pelipat surat suara untuk Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bangli, Rabu (27/2). 

Meski memiliki fisik tidak sempurna, Anak Agung Darma Laksana, 27, tetap cekatan. Keterbatasan fisik sejak lahir  tidak menjadi penghambat untuk tetap bekerja. Bahkan ia terlihat gesit melipat surat suara calon legislatif DPR RI, di tengah sekumpulan orang dengan fisik normal. 

Hajatan pemilu serentak  rupanya menjadi ladang rejeki dadakan bagi pria asal Susut, Bangli tersebut. Sebab, pria bertato di kedua tangannya itu tidak memiliki pekerjaan tetap. Keseharian, anak  keluarga petani sederhana itu hanya mengurus keperluan rumah tangga dan merawat keponakannya.

Agung Darma, demikian dia disapa, sudah  sejak 18 Februari lalu bekerja sebagai buruh pelipat kartu suara. Kepa Bali Express (Jawa Pos Group), Agung Darma mengaku, menuju tempatnya bekerja di kawasan Pasar Loka Crana, dia diantar dan dijemput orangtuanya. Meski lumayan capek, dia mengaku senang bekerja. Sebab,  bisa mengisi waktu luang sekaligus pendapatan hidup.

Gung Darma mengatakan, rata-rata dua dus surat suara yang berisi 1.000 lembar berhasil dilipatnya sejak pukul 08.00 hingga 17.00 Wita. Surat suara yang sebelumnya telah disortir, dilipat dengan cara diapit dengan kakinya yang kecil. "Setelah dilipat baru dihitung, dikumpul jadi lima lembar lalu diikat karet gelang," ujar Agung dengan napas agak ngos-ngosan.

Sebagai penyandang difabel, ia menaruh harapan besar buat calon wakil rakyat dan calon presiden yang terpilih. Dia berharap para wakil rakyat dan presiden terpilih lebih memperhatikan para penyandang disabilitas.

"Saya berharap para penyandang cacat (difabel) diberi keterbukaan lapangan kerja atau diberikan modal untuk membuka usaha," pintanya  kepada calon wakil rakyat di Bangli.

Selain Agung Darma, ada 80 warga Bangli lainnya dilibatkan sebagai petugas lipat dan sortir. Mereka terbagi atas beberapa kelompok. Besaran upahnya bervariatif tergantung jenis surat suara. Mereka juga berhak diupah berdasarkan jumlah surat suara yang dilipat.

Ketua KPU Bangli Putu Pertama Pujawan menyebut, upah untuk melipat surat suara calon presiden dan wakilnya Rp 75 per lembar. Untuk surat DPD RI Rp 100 per lembar, sedangkan biaya satuan surat suara DPR RI, DPRD provinsi, dan DPRD, masing-masing dihargai Rp 150 per lembar.

Pujawan memerinci,  jika dihitung rata-rata per harinya, buruh lipat mendapat bayaran yang tergolong rendah. Sehari, buruh lipat hanya mendapat Rp 60 ribu hingga 75 ribu. "Kasihan mereka bekerja dari pagi sampai sore hanya mendapatkan segitu," katanya. 

Melihat kenyataan tersebut, KPU Bangli lantas merevisi Perunjuk Operasional Kerja (POK) terkait penambahan anggaran upah petugas buruh sebesar Rp 55 juta. Sehingga dari anggaran awal Rp 95 juta bertambah menjadi Rp 120 juta.

Dengan perubahan itu, kata Pujawan, upah mereka per hari rata-rata mencapai Rp 110 ribu hingga Rp 150 ribu. Itu tergantung jumlah lipatan yang mereka selesaikan. "Upah ini diakumulasi dan dibayarkan tiap lima hari kerja," pungkas Pujawan.

(bx/aka/aim/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia