Selasa, 25 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Lingga Pawitra; Tempat Atasi Masalah Keturunan dan Kesehatan

28 Februari 2019, 09: 19: 29 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Lingga Pawitra; Tempat Atasi Masalah Keturunan dan Kesehatan

DUA : Ada dua palinggih yang diyakini jadi stana Ida Bhatara Mahendra dan Dewa Ayu Manik Gangga. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Selain memiliki Pura Tirta Sudhamala, Kelurahan Banyuasri, Kecamatan Buleleng, juga memiliki tempat malukat alternatif yang tak kalah menariknya. Tempat panglukatan yang terletak di Pura Lingga Pawitra ini, kian ramai dikunjungi pamedek yang memohon tamba (obat) hingga masalah keturunan.

Untuk menjangkau tempat malukat  (membersihkan diri) yang berlokasi di tepi Pantai Banyuasri, Banjar Lingga, Kelurahan Banyuasri ini,  pamedek (umat yang datang) dapat masuk melalui Jalan Lingga, Kelurahan Banyuasri.  Selanjutnya harus menyusuri jalan setapak di areal Kuburan Cina sepanjang 100 meter yang hanya bisa diakses dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda motor.

Secara fisik, tempat malukat ini sangat sederhana. Di lahan seluas tak lebih dari 20 meter persegi ini hanya terdapat dua palinggih, yakni palinggih Ida Bhatara Mahendra dan Dewa Ayu Manik Gangga.

Posisi pura yang menjorok ke tengah laut ini, rentan terkena abrasi. Agar palinggih aman dari terjangan ombak, areal pura dibentengi dengan puluhan deker yang mengelilingi areal pura.
Di areal ini juga terdapat kelebutan atau mata air yang muncul dari tanah. Mata airnya  begitu jernih dan tak pernah kering sepanjang musim. Uniknya, kendati areal pura berada menjorok ke tengah laut, namun air tersebut sedikitpun tidak terasa asin.


Menurut Jro Mangku Istri, Jero Ketut Rasmi, 57, keberadaan Parahyangan Lingga Pawitra ini tak terlepas dari peran sang suami, Almarhum Jro Nyoman Ardiartha. Awalnya sebelum dibangun pura seperti sekarang ini, tempat itu memang kerap diterjang gelombang pasang. Bahkan, air laut kerap naik hingga ke daratan Banjar Lingga hingga mengganggu permukiman warga.
Seringnya terjadi gelombang pasang membuat Jro Nyoman Ardiartha yang kala itu sudah menjadi pemangku terketuk hatinya. Mendiang, sebut Jro Rasmi, kemudian memohon kepada Hyang Baruna sebagai Dewa Penguasa Laut.


Mendiang hanya meminta agar air laut berhenti meluap dan menggenangi daratan.“Pinunasnya (permohonannya) kalau air laut tidak naik lagi, maka Bhatara Baruna akan dibuatkan palinggih seperti yang terlihat sekarang ini,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin.


Benar saja. Setelah permohonan yang dilakukan mendiang Jro Ardriartha, air laut pun tidak lagi meluap ke daratan Lingga. Akhirnya, mendiang langsung membuktikan janjinya dengan membangun dua buah palinggih sebagai pasimpangan Ida Bhatara Wisnu dan Baruna. “Sejak itu air laut tidak lagi meluap,” imbuhnya.


Lambat laun palinggih itu kian ramai didatangi pamedek dari berbagai penjuru wilayah. Mereka berduyun-duyun melakukan ritual panglukatan di pura itu. Dengan beragam permohonan, mulai dari memohon tamba, kesembuhan, keturunan hingga tirta.


Jro Rasmi menambahkan, para pamedek bukan saja datang dari penjuru wilayah di Bali. Tetapi juga ada yang nangkil dari Kalimantan, Lombok, Jakarta hingga Sumatra. Menariknya, Jro Rasmi baru tahu jika banyak permohonan pamedek terkabulkan setelah para pamedek itu memintanya untuk nganteb banten bayar kaul.


“Ini soal keyakinan saja. Kalau sudah tulus memohon, maka pamedek yang sakit, nunas keturunan sering dikabulkan. Ya misalnya dari 100 orang yang nangkil memohon, sekitar 98 orang rata-rata dikabulkan. Tiang tahu permohonan para pamedek terkabulkan. Setelah itu, mereka bayar kaul,” tuturnya.


Tak jarang pula Jro Rasmi menemukan pamedek kerap berteriak saat malukat. Hal itu terjadi bila pamedek yang dilukat mengalami sakit akibat terkena gangguan ilmu hitam. Mereka kerap merasa kesakitan dan kepanasan ketika air suci itu diguyur di badannya.
Lalu, apa sarana yang dibawa saat malukat? Wanita yang sudah dikaruniai tiga orang anak dan delapan cucu ini menyebutkan, pamedek yang nangkil untuk malukat diharapkan membawa kembang sebelas warna, ilalang, kelungah (kelapa muda) dan banten pajati.


“Kalau sakit biasanya saya sarankan agar mereka tiga kali malukat. Astungkara selama ini mereka yang nunas tamba lewat malukat selalu diberikan kesembuahan oleh beliau yang berstana di Parahyangan,” jelasnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia