Selasa, 22 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Features

Meski Ada Kampanye Antiplastik, Pesanan Sedotan Bambu Tetap Sepi

02 Maret 2019, 06: 43: 51 WIB | editor : I Putu Suyatra

Meski Ada Kampanye Antiplastik, Pesanan Sedotan Bambu Tetap Sepi

MINIM PRODUKSI: Sentra perajin sedotan bambu milik Putra Wisatawan di Kelurahan Kawan, Bangli. Meski sepi, Putra tetap memproduksi sedotan. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Kabupaten Bangli terkenal sebagai penghasil bambu terbesar di Bali, terutama Desa Kayubuhi. Tak pelak masyarakatnya sibuk menjadi perajin bambu. Dari kesibukan itu, lahir banyak inovasi. Sedotan bambu salah satunya.

Made Putra Wisatawan, termasuk salah seorang perajin bambu yang peka dengan tuntutan pasar. Sebab, banyak restoran maupun hotel di Bali mulai merambah produk yang satu ini. Demi penuhi tuntutan, pria asli Banjar Nyalian, Kelurahan Kawan, Kota Bangli, itu menambah aktivitasnya, dari hanya membuat perabotan, juga merambah ke produksi sedotan bambu.

Di tengah-tengah seruan antisampah plastik, Putra Wisatawan menjajakan produknya melalui media sosial (medsos). Pesanan sedotan mulai diterima sejak Januari, bersamaan diterapkannya Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 97 Tahun 2018. Meski begitu, orderan hingga kini terbilang masih minim. 

Padahal, kehadiran sedotan bambu membantu menekan timbunan sampah plastik, terutama penggunaan sedotan sekali pakai. Di sisi lain, secara ekonomis, menggunakan sedotan bambu jauh lebih hemat karena bisa digunakan berulang kali. Jika perawatannya benar, sedotan akan awet dan tentu lebih hemat secara biaya.

Ditemui di bengkel kerjanya, dirinya mengklaim satu-satunya perajin di Bangli yang memproduksi sedotan bambu. "Ya hanya saya yang buat," ujarnya. Kendati sebagai penguasa pasar, dia baru mendapat pesanan sekali saja. Saat itu, salah seorang pengusaha asal Ubud, Gianyar, memesan 600 batang.

Putra dibantu satu pekerja. Dia bisa menyelesaikan 150 hingga 200 batang sedotan. Sebab itu, pengerjaan 600 batang orderan kala itu, hanya butuh waktu selama tiga hari saja. Ukurannya bermacam-macam dari panjang 20 centimeter (cm) hingga 21,5 cm, dengan diameter kisaran 0,7 sentimeter hingga 1 cm. "Ukuran beda tapi gak masalah," ketusnya.

Tak ada yang sulit saat proses kerja. Cuma kendala yang dia hadapi hanya mencari bahan baku. Sebagai sentra penghasil bambu, tak berarti bahan baku diperoleh di Bangli. Dia justru membeli bambu kecil di Desa Belega, Gianyar. "Di Kayubihi (Bangli) cuma ada bambu basah, belum ada yang kering," kata pria yang memulai usahanya sejak 2002 itu.

Butuh waktu lama untuk melakukan pengeringan. Proses itu juga butuh tempat khusus atau lahan luas. Itu yang jadi kelemahan, mengapa Putra tidak mengambil bahan dari Kayubihi, karena harus mengeringkan bambu sendiri. "Ambil di Gianyar sudah siap pakai. Mungkin sebelum kering, dia juga ambil dari Kayubihi," sentilnya.

Di sisi lain, Pergub Nomor 97 Tahun 2018, diharapkan betul-betul diterapkan di Bangli. Sebab, kata Putra, penerapan aturan terhadap pembatasan timbulan sampah plastik sekali pakai akan berimbas ke pola hidup masyarakat. 

Masyarakat akan memerangi sampah plastik. Otomatis, segala sektor akan mengurangi penggunaan plastik dan beralih ke bahan ramah lingkungan. "Kalau sudah begitu, kan otomatis pelaku UKM (usaha kecil menengah) terbantu untuk berkembang," pungkas Putra.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia