Rabu, 21 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

Rumput Indigofera untuk Peningkatan Populasi Sapi

02 Maret 2019, 08: 02: 55 WIB | editor : I Putu Suyatra

Rumput Indigofera untuk Peningkatan Populasi Sapi

WAJIB NAIK: Salah satu peternakan di Bangli. Populasi sapi Bali di daerah ini wajib naik di tahun 2019 ini. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli berencana mengembangkan rumput indigofera mulai pertengahan 2019 ini. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan populasi sapi Bali, termasuk menjaga kestabilan kualitas daging sapi.

Dinas PKP Bangli juga berupaya menekan biaya produksi ternak, akibat sistem penyediaan pakan yang hanya mengandalkan pakan konsentrat. Sebab pertumbuhan peternakan sapi, juga berkenaan dengan pakan sapi.

Kepala Dinas PKP Bangli, I Wayan Sukartana mengatakan, pengembangan indigofera akan dilakukan di wilayah Bangli utara atau wilayah dataran tinggi. Saat ini tengah dilakukan pengajuan bantuan pengadaan bibit indigofera di Balai Besar Veteriner (BBVet) Bali.

Dari sekian kelompok peternak, baru beberapa kelompok yang mendapat bantuan bibit indigofera oleh Dinas PKP Bangli. "Rumput itu berbentuk semak belukar, kecil-kecil. Kandungan proteinnya tinggi bisa mempercepat pertumbuhan sapi termasuk kualitasnya," jelas Sukartana, Jumat (1/3) kemarin.

Berdasarkan data yang diperoleh Bali Express (Jawa Pos Group), kandungan protein dalam indigofera sangat tinggi, antara 25 sampai 31 persen. Total Digestible Nutrient (TDN), rumus kadar energi ternak, minimal 70 persen dengan tingkat kecernaan bahan kering 75-78 persen.

Menurut Sukartana, indigofera mudah dibudidayakan dan dapat tumbuh dengan baik hingga ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Oleh sebab itu, pihaknya menyelaraskan program ini dengan model sistem pertanian terintegrasi. "Di mana ada tanaman, diwajibkan beternak, utamanya beternak sapi Bali," imbaunya.

Selain itu, kata Sukartana, budidaya indigofera menjadi momen peralihan penggunaan rumput gajah sebagai pakan sapi. Selain nilai proteinnya kalah dengan indigofera, Dinas PKP berupaya menggeser penggunaan rumput gajah yang selama ini dinilai merusak.

"Masyarakat banyak mempertahankan rumput gajah. Mereka menanam di pinggir jalan, kan itu bisa merusak konstruksi jalan," katanya seraya mengatakan, indigofera tahan terhadap kekeringan, memiliki perakaran dalam dan dapat mempertahankan kesuburan.

Terkait populasi sapi, Dinas PKP mencatat, jumlah populasi sapi Bali di Bangli pada tahun 2018 mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya, atau bertambah 2.240 ekor. Pada 2018, jumlah populasi sapi Bali mencapai 66.994 ekor. Sedangkan pada 2017 sebanyak 64.754 ekor. Angka ini belum seberapa jika dibandingkan data dari 2014-2016. Pada 2014, jumlah sapi Bali di Bangli terdata sebanyak 75.164 ekor. Angka itu turun drastis sekitar 8.170 ekor.

Sukartana berharap, dengan dibudidayakannya indigofera, berimbas pada populasi sapi di Bangli. Angka target yang mencapai 9.134 ekor bisa merangkak naik di 2019 ini.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia