Jumat, 24 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Tradisi Okokan Tolak Bala dan Netralisasi Kekuatan Negatif

02 Maret 2019, 08: 05: 54 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tradisi Okokan Tolak Bala dan Netralisasi Kekuatan Negatif

NETRAL: Sesuai fungsinya, Okokan untuk Nangkluk Merana, yang secara tidak langsung menetralisasi aura negatif daerah setempat. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, TABANAN - Kabupaten Tabanan memiliki banyak tradisi unik, bahkan tidak ada di daerah lain. Salah satunya adalah Okokan yang diyakini sebagai upaya untuk menolak bala atau yang disebut dengan Nangluk Merana.

Tradisi Okokan dilaksanakan warga Tabanan, khususnya Banjar Delod Puri, Desa Kediri, Kecamatan Kediri, Tabanan. Diyakini tradisi ini merupakan upaya untuk melakukan Nangluk Merana atau menolak bala. Bahkan, saat ini sebagian besar warga Kediri sudah memiliki Okokan di rumahnya. 

Secara tertulis memang belum ada prasasti atau lontar yang menuliskan mengenai sejarah tradisi Okokan ini. Namun, masyarakat setempat sudah mempercayai secara turun temurun bahwa tradisi ini sudah ada sejak tahun 1960. Ketika itu, warga Desa Kediri terkena serangan penyakit atau disebut kabrebehan (malapetaka). Kabrebehan ini menyerang warga dari segala usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Penyakitnya pun berbeda-beda, tanpa sebab yang pasti. Bahkan, ada warga yang meninggal dunia tiba-tiba.


Ketua Sekaa Okokan Brahma Diva Kencana, I Gusti Ngurah Adnyana, 41,  menuturkan, tradisi Okokan ini berawal dari adanya tradisi Tektekan yang dilaksanakan ketika warga Kediri mengalami kabrebehan atau terserang wabah penyakit. Saat itulah warga kemudian membunyikan suara dari beberapa alat, seperti alat pertanian, alat dapur, dan sebagainya sebagai upaya untuk menolak bala yang menyerang Desa Kediri. "Awalnya ini tradisi Tektekan, dan dilakukan bilamana ada warga yang kabrebehan (malapetaka). Desa Kediri dahulu  sempat terserang wabah penyakit, sehingga semua alat alat, seperti pertanian, dapur, dan lain sebagainya dibunyikan warga dengan cara dipukul-pukul," tutur pria  dari Banjar Delod Puri, Desa Kediri.


Seiring berjalannya waktu, lanjutnya, alat-alat yang digunakan warga Desa Kediri dan Tabanan pada umumnya, dikenal dengan nama Okokan. Di samping itu, beberapa alat Okokan ini juga meminjam ke Desa sebelah, seperti di Kecamatan Penebel, Marga, dan Baturiti. Okokan sendiri memiliki bentuk seperti kalung sapi, namun berbentuk besar, dan jika digerakkan akan menghasilkan suara merdu dan keras.  Ketika dibunyikan bersamaan, maka akan menimbulkan suara bergemuruh. Bahan yang digunakan pun juga tak sembarangan, yakni menggunakan bahan kayu Teep dan kayu Camplung karena menghasilkan suara yang keras dan merdu serta memikiki kualitas kayu yang kuat.


Pria yang akrab disapa Ajik Anggi ini, menambahkan, sejak tahun 2014 diputuskan pihak desa adat untuk melaksanakan tradisi ini setiap tahun. Yakni tepatnya mulai satu minggu menjelang Hari Raya Nyepi dan puncaknya pada  Pangrupukan atau satu hari sebelum Nyepi. Hal itu juga dilaksanakan lantaran di Desa setempat juga tidak membuat Ogoh-ogoh. Selama sepekan, tradisi Okokan ini biasanya mengelilingi Desa Kediri secara bergantian. "Dahulu tradisi ini dilaksanakan saat  ada wabah penyakit di desa, dan waktu pelaksanaannya tidak bisa ditentukan. Kini bisa dilaksanakan sebelum perayaan Hari Raya Nyepi," sambungnya.


Yang membuat Okokan semakin Mataksu ( punya daya magis) adalah hiasan tapel atau lukisan dengan wajah Boma. Boma merupakan ciri khas Okokan dimiliki Desa Kediri yang memiliki makna keangkaramurkaan atau kemarahan. Sehingga, melaksanakan tradisi ini dipercaya akan mampu menetralisasi sifat-sifat negatif yang ada di Desa Kediri. Ada yang menggunakan lukisan pada alat dan ada juga yang menggunakan tapel berwajah Bomo yang merupakan ciri khas Banjar Delod Puri. "Wajah Bomo menggambarkan  keangkaramurkaan (kemarahan) dan sifat sifat negatif. Sehingga dengan ditarikannya akan mampu mentralisasi sifat-sifat negatif dari bumi ini, khususnya Desa Kediri," papar Ajik Anggi. 


Tak hanya itu, Okokan ini juga dihiasi seperti wastra (kain)  berwarna poleng atau hitam putih. Biasanya tradisi ini dilaksanakan oleh 40 hingga 50 orang yang mengenakan pakaian khusus yang sudah ada. Kemudian, pelaksanaannya juga dikomandoi  seorang penabuh yang memainkan kleneng. Semakin cepat tempo kleneng akan diikuti oleh tempo Okokan yang juga  diiringi gamelan Baleganjur.Dikatakan Ajik Anggi, tepatnya tanggal 8 Agustus 2016 lalu dibentuklah Sekaa Okokan dengan nama Brahma Diva Kencana di bawah binaan Ketua DPRD Tabanan, I Ketut 'Boping' Suryadi. Dengan tujuan untuk tetap melestarikan budaya atau tradisi Okokan ini agar jangan sampai punah. Sampai saat ini sekaa Okokan berjumlah 96 orang, yang sebagian besar warga Banjar Delod Puri. 


Selain tampil di Desa sendiri, Okokan Brahma Diva Kencana juga kerap tampil pada event-event besar, seperti pertemuan Interpol, PKB, dan lainnya. Bahkan,  4 Agustus 2018 lalu ikut memeriahkan penyambutan Presiden Jokowi dalam acara peresmian GWK, Jimbaran. "Ke luar daerah seperti ke areal Jawa Timur, kami sering diundang," tukasnya.


Meskipun sering tampil di luar daerah, bukan berarti Sekaa Okokan Brahma Diva Kencana hanya sebatas tampil. Melainkan memiliki harapan untuk bisa menetralisasi aura negatif daerah setempat agar nantinya tidak terkena wabah, karena sesuai fungsinya Okokan untuk Nangkluk Merana.


Sebelum tampil di desa maupun luar desa atau wilayah, lanjutnya, pihaknya selalu memohon doa restu atau mapamit terhadap Sasuhunan Okokan. Jadi, bukan sekadar pentas, melainkan tetap yakin nyolahan Ida Sasuunan.  "Konsep kita tetap Nangluk Merana atau menetralisasi aura negatif dari wilayah dimana kita tampil," pungkas Ajik Anggi.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia