Kamis, 20 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Kolom

Seberapa Berbahayakah Radikalisme Agama?

Oleh: Rusmin Nuryadin*

02 Maret 2019, 15: 54: 09 WIB | editor : I Putu Suyatra

Seberapa Berbahayakah Radikalisme Agama?

Ilustrasi (ISTIMEWA)

Share this      

TENTU masyarakat Indonesia sudah tidak asing dengan istilah radikal, terlebih akhir – akhir ini kita sering mendengar istilah gerakan radikal atau ceramah radikal di negeri ini. Yang paling santer terdengar adalah gerakan radikal yang berkaitan erat dengan kelompok militan Islam.

Sebelum membahas lebih lanjut, tak ada salahnya jiga kita memahami terlebih dahulu ama arti dari radikal. Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia ‘Radikal’ memiliki arti amat keras menuntut perubahan (undang – undang pemerintahan) dan maju dalam berpikir atau bertindak. Sementara itu ‘Radikalisme’ adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis dan sikap ekstrem dalam aliran politik.

Dari hal ini bisa diketahui bahwa sikap radikal akan mendorong perilaku individu untuk membela secara mati – matian mengenai suatu kepercayaan, keyakinan, agama atau ideologi yang dianutnya.

Radikalisme agama sendiri sejatinya sudah ada sejak abad 16 – 19 M. Dua agama yang paling utama mengakarinya ialah antara Islam dan Kristen yang saling berebut kejayaan di masa itu.

Namun fenomena akan adanya radikalisme agama tak hanya menjalar pada agama Islam atau Kristen saja. Sebagaimana yang ditulis oleh Karen Armstrong dalam bukunya the battle for God (2000), radikalisme juga ada dalam Hindu dan Yahudi. Bahkan fakta terbaru memperlihatkan adanya radikalisme dalam pengikut Budha.

Hal ini tentu memilukan, tapi memang sepatutnya diakui bahwa agama yang paling berhasil dirusak oleh radikalisme adalah Islam. Sebab bukan hal yang mustahil bila saat ini banyak orang yang menyangka bahwa radikalisme adalah bagian dari ajaran Islam. Padahal kenyataannya tidaklah seperti itu.

Perspektif itu muncul jelas bukan tanpa sebab. Sebagaimana sebuah iklan yang mengandung unsur propaganda bermunculan di berbagai media, maka lambat laun akan mempengaruhi pola pikir masyarakat juga. Itulah yang terjadi pada Islam.

Dimana gerakan kelompok – kelompok radikal Islam selalu diwartakan berbagai media di dunia tanpa celah. Bahkan tak jarang akan menjadi berita utama.

Kelompok radikal Islam di Indonesia sendiri yang pertama kali menyita perhatian ialah kelompok yang didalangi Abu Bakar Ba’asyir, kelompok tersebutlah yang bertanggungjawab pada Bom Bali I dan II.

Sementara kelompok yang menjadi sorotan di berbagai belahan dunia adalah gerakan militan ISIS. Bahkan kini ISIS telah tersebar sampai ke berbagai penjuru dan berhasil menguasai satu kota negara tetangga, yakni kota Marawi, Filiphina. Tak heran bila kemudaian masyarakat Indonesia, bahkan dunia mempersepsikan bahwa radikalisme telah menjadi bagian dalam Islam.

Padahal sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya, radikalisme bukan hanya merambat dan menyebabkan perpecahan di tubuh Islam, tapi juga di agama lain, hanya saja framing media telah berhasil memunculkan opini massa bahwa Islam begitu lekat dengan radikalisme.

Gerakan Radikalisme juga ada dalam agama Hindu, di India yang mayoritas penduduknya memeluk agama Hindu. Perseteruan agama di negara ini pun telah terjadi sejak lama. Dua agama yang saling berseteru adalah Hindu dan Islam. Sebab itu Pakistan yang mayoritas penduduknya beragama Islam akhirnya memutuskan untuk memisahkan diri dari India.

Namun ternyata pemisahan dua negara tersebut juga tidak secara signifikan mengurangi ketegangan agama di sana.

Pernah muncul berita saat itu bahwa seorang pria Muslim berusia 50 tahun di sebuah desa India utara dibunuh oleh sebuah kelompok pada senin malam karena rumor bahwa keluarganya telah menyimpan dan mengonsumsi daging sapi di rumah, tentu kita tahu bahwa dalam agama Hindu Sapi merupakan hewan yang sakral.

Sedikitnya dua kelompok seperti Rashtavadi Pratap Sena dan Smadhan Sena, disalahkan secara luas karena ledakan tiba – tiba dalam insiden ketegangan agama di daerah Dadri, yang jaraknya hampir 50 Km dari Ibukota India, New Delhi.

Jika berkaca pada beberapa tahun yang lalu, tentu kita sudah mendengar berita tentang penderitaan warga Muslim Rohingya di Myanmar. Warga Rakhine yang mayoritas beragama Islam tidak ahanya diusir dari tempat tinggalnya, tapi juga dipersekusi oleh kelompok radikal Budha yang dipimpin oleh kelompok radikal Budha bernama Ashin Wirathu. Kelompok tersebut menamai dirinya 696.

Dalam agama Yahudi, perihal akan fakta tersebut tentu tak perlu dijelaskan berjilid – jilid. Hal ini dikarenakan seluruh dunia telah mengetahui bagaimana Israel yang merupakan negara Yahudi sudah menginvasi Palestina sejak lama. Penutupan kawasan Masjidil Aqsa yang beberapa waktu lalu terjadi jelas merupakan bentuk tindak radikalisme yang dilakukan oleh Israel. Bisa dikatakan Israel adalah cerminan besar bagaimana gerakan radikal dalam tubuh Yahudi benar terjadi.

Buku sejarah nusantara telah mencatatkan sejarah kelam yang terjadi. Konflik di berbagai wilayah yang mengatasnamakan suku dan agama, seperti konflik antara Islam dan Kristen di Poso, tentunya dapat menjadi pembelajaran bahwa siapapun tak ingin hidup di tengah ketegangan, desing peluru dan pedang yang berdarah.

Radikalisme tentu bukanlah salah satu ciri orang beragama, agama apapun tentu mengajarkan cinta kasih dan perdamaian, bukan perang ataupun kebencian.

Jihad yang sesungguhnya bukanlah jihad dengan mengangkat senjata, tapi kesungguhan dalam beribadah dan terus menebarkan kebaikan bagi seluruh umat manusia. (*)

*) Penulis adalah pemerhati masalah sosial politik

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia