Selasa, 22 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Enjoy Bali

Batur Natural Geopark; Sisi Lain Panorama Bali

02 Maret 2019, 16: 58: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Batur Natural Geopark; Sisi Lain Panorama Bali

SEPANJANG WAKTU : Keindahan alam yang terbentang di kawasan Batur Natural Geopark bisa dinikmati mulai dari menjelang pagi hingga malam hari. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, KINTAMANI - Pariwisata Bali selama ini lekat dengan Pantai Kuta. Tanah Lot. Atau tempat-tempat wisata kawasan pesisir. Padahal bentang alam Bali juga terdiri dari beberapa dataran tinggi. Batur Natural Geopark yang terletak di Kabupaten Bangli menjadi salah satunya. Keindahannya bisa dirasakan dari menjelang pagi hingga malam hari.

BOLEH dikata Batur memberikan warna tersendiri dalam dunia pariwisata di Bali. Bahkan, Batur juga menjadi salah satu tujuan ilmiah bagi para peneliti dari beberapa penjuru dunia. Khususnya yang berkaitan dengan geologi maupun vulkanologi.

Karena itu, dalam Konferensi Geopark Kesebelas di Portugal pada 20 September 2012 silam, Batur ditetapkan sebagai situs geopark pertama di Indonesia. Dan sejak saat itu, kawasan Batur disertai dengan embel-embel geopark. Lengkapnya Batur Natural Geopark.

Sebagai tempat wisata, panorama kawasan ini menjadi daya tarik utamanya dengan Gunung Batur, gunung api aktif, sebagai titik pusatnya.

Sehingga Batur Natural Geopark tepat menjadi referensi tujuan wisata alam. Khususnya bagi mereka yang gemar dengan aktivitas wisata out door.

Untuk menjangkai kawasan ini, wisatawan bisa menempuh perjalanan dengan menggunakan sepeda motor atau mobil.

Bila berangkat dari Denpasar, wisatawan tinggal menempuh perjalanan menuju Kintamani, Bangli. Estimasi jarak tempuh sekitar 80 kilometer dari Denpasar. Atau sekitar dua jam bila mengendarai sepeda motor dengan menyusuri jalur alternatif, Ubud-Payangan.

Sejak menyandang status sebagai geopark, aktivitas wisata di kawasan Batur mengalami peningkatan signifikan. Seperti dituturkan Ketut Putra Wijaya. Seorang pengelola sebuah agrowisata di Kintamani.

“Sebagian besar yang datang melakukan wisata alam seperti mendaki gunung, mengunjungi wisata budaya di Desa Trunyan, hingga berkunjung ke beberapa agrowisata di sekitar kawasan Batur,” jelasnya.

Namun menurut Putra, kaldera Gunung Batur menjadi titik utama aktivitas wisata. Sehingga kaldera menjadi keunikan dari kawasan Batur. Terlebih, secara historis, kaldera diperkirakan terbentuk sekitar 23 ribu tahun lalu akibat aktivitas gunung yang hingga kini masih aktif.

Kaldera ini terbentuk karena runtuhnya atau merosotnya permukaan tanah dan bebatuan ke perut bumi lantaran kosongnya kantung magma di bawah gunung api. 

Kaldera Gunung Batur ini sangat unik karena memiliki beberapa kaldera di dalamnya. Di dalam kaldera pertama, terbentuk kaldera kedua yang berbentuk melingkar. Di tengah kaldera itu muncul lagi sebuah gunung aktif yang kini dikenal sebagai Gunung Batur dengan ketinggian 1.717 meter.

“Di dalam kaldera tersebut juga terdapat danau yang berbentuk bulan sabit yang panjangnya sekitar 7,5 kilometer dan lebar 2,5 kilometer. Itulah Danau Batur yang kita lihat saat ini,” ungkapnya.

Selain menikmati keindahan danau dan Gunung Batur, di kawasan geopark, pengunjung juga bisa melakukan aktivitas wisata lainnya. Di antaranya menjelajah desa-desa Bali Aga yang ada di sekeliling Danau Batur. Seperti Desa Kedisan, Buahan, Abang, Trunyan, Songan, Batur, Sukawana, dan Kintamani.

Setiap desa yang ada di kawasan kaldera memiliki keunikan tersendiri. Desa Trunyan misalnya. Desa ini memiliki kebiasaan memakamkan jenazah dengan caranya yang unik.

Di desa sini, mayat tidak dikubur dalam liang tanah, tetapi cukup diletakkan di atas tanah dan dilindungi dengan pagar bambu.

“Yang menjadi daya tarik di Desa Trunyan adalah tradisi yang berkaitan dengan kematian. Jenazah tidak mengeluarkan bau busuk meskipun hanya diletakan di atas tanah. Dan untuk mencapai desa ini, wisatawan harus menyeberangi Danau Batur dengan menggunakan boat yang dikelola oleh masyarakat lokal,” ungkapnya.

Kemudian ada juga Desa Sukawana di sisi utara Danau Batur. Di desa ini, wisatawan bisa melihat daerah pertanian yang Sebab, sebagian besar lahan di desa tersebut memang digunakan sebagai kawasan pertanian dan peternakan ayam petelur.

Berwisata ke kawasan ini, sambung Putra, belum lengkap bila tidak mengunjugi permandian air panas yang juga ada di kawasan ini.

“Setelah lelah menjelajahi kawasan kaldera Gunung Batur hingga ke desa-desa Bali Age, wisatawan bisa bersantai di Toya Devasya, sebuah kolam air panas yang ada di tepi Danau Batur,” ungkapnya.

(bx/gek/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia