Rabu, 19 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Kolom

Waspada Hoax di Pemilu 2019

Oleh: Arief Rahmat

03 Maret 2019, 09: 47: 29 WIB | editor : I Putu Suyatra

Waspada Hoax di Pemilu 2019

Ilustrasi (ISTIMEWA)

Share this      

Kabar bohong yang umum dikenal dengan istilah hoax, sangat berisiko memecah persatuan, bahkan sampai bisa memicu perselisihan antar kelompok atau golongan yang berujung pada kehancuran sebuah bangsa dan negara.

Hoax diciptakan oleh orang atau sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan tertentu. Hoax disebarkan oleh orang atau sekelompok orang yang sengaja (mengetahui) dan tidak sengaja (tidak mengetahui/awam). Sengaja atau tidak, konsekuensi hukumnya adalah sama.

Sejarah, Perkembangan dan Akibat Hoax

Sejak zaman dahulu, hoax atau kabar bohong sudah sering terjadi dan dipergunakan untuk sebuah kepentingan tertentu. Sebagai contoh, Perang Dunia II berawal dari hoax tentang militer Polandia yang memulai menyerang Jerman.

Faktanya, militer Polandia tidak memulai menyerang negara Jerman dan pelaku propaganda hoax yang menyulut konflik ternyata militer Jerman sendiri.

Fakta dampak buruk akibat hoax terbaru yang menyebabkan porak porandanya sebuah negara adalah konflik yang terjadi di negara Suriah sampai Menlu RI menghimbau WNI tidak ke Suriah.

Ancaman hoax bagi persatuan bangsa bukan main-main. Bangsa Indonesia harus belajar dari 2 contoh peristiwa kelam diatas. Salah satu founding fathers Indonesia, Ir. Soekarno, pernah berpesan kepada seluruh rakyat Indonesia, untuk jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jas Merah).

Perkembangan Hoax telah merambah berbagai macam tema yang beraneka ragam, mulai dari ujaran kebencian, penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, perbuatan tidak menyenangkan, memprovokasi, menghasut, dan penyebaran berita bohong.

Akibat hoax yang terkecil adalah perselisihan, dan akibat hoax yang terbesar adalah disintegrasi bangsa berujung kehancuran negara.

Tips Terhindar dari Hoax

Saat ini kita berada di zaman generasi milenial yang mana arus informasi digital tersebar dengan cepat, maka sebagai netizen, kita harus selektif dengan melakukan cek dan validasi terhadap setiap kabar yang diterima.

Cek merupakan langkah melihat siapa pembuat konten (narasumber maupun media penerbit konten), darimana sumber data konten, dan membandingkan dengan referensi dari sumber lain.

Validasi merupakan langkah memastikan bahwa konten informasi yang didapat telah sesuai dengan yang sebenarnya. Validasi biasanya berupa konfirmasi kepada narasumber.

Cek dan validasi sebuah berita, kabar, dan informasi saat ini sangat mudah. Selain bisa menggunakan laman pencarian Google, netizen yang kritis bisa menggunakan media sosial untuk langsung bertanya ke narasumber maupun penerbit konten tersebut.

Waspada Hoax di Pemilu 2019

Di tahun 2019, yang merupakan tahun politik, masyarakat Indonesia bersiap memeriahkan pesta demokrasi 5 tahunan dengan melaksanakan Pemilu 2019. Selain memilih Capres-Cawapres, masyarakat Indonesia akan memilih wakil rakyat untuk DPD RI, DPR RI (Nasional), DPRD Tingkat 1 (Provinsi) dan Tingkat II (Kabupaten/Kota).

Dinamika politik dengan eskalasi yang terus meningkat berpotensi dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk meraih keuntungan melalui jalan menciptakan dan menyebarluaskan hoax.

Sebagai warga negara Indonesia yang nasionalis dan berintegritas, kita harus berpegang pada ideologi bangsa Indonesia, yaitu Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang artinya walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu.

Indonesia selain dikaruniai Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, juga dianugerahi kondisi demografi yang heterogen (beraneka ragam latar belakang Suku, Agama, Ras dan Golongan).

Oleh karena itu, sangat rugi jika Bangsa dan Negara Indonesia yang kaya SDA, SDM, dan gemah ripah loh jinawi harus terpecah belah akibat hoax.

Mari kita bersama-sama Melawan Hoax Demi Suksesnya Pemilu 2019 yang Damai, Berkualitas dan Bermartabat Serta Terwujudnya Keberlanjutan Pembangunan Nasional.

Melawan Hoax

Jika kabar, berita, dan informasi yang anda terima diragukan kebenarannya, maka jangan sebarluaskan ulang konten tersebut. Selain bisa berakibat fatal, hal tersebut berpotensi menyeret pelaku penyebar hoax ke ranah pidana.

Peraturan Perundangan di Indonesia mengenai penyebaran kabar bohong:

Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

Pasal 28

(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik.

(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Ketentuan Pidana pelanggaran Pasal 28 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) adalah :

Pasal 45 ayat 2

(2) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) atau ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). (*)

(bx/ima/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia