Rabu, 26 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Saat Melasti Pakraman Buleleng, Sarad Siwa Sapujagat HarusTerdepan

03 Maret 2019, 18: 30: 42 WIB | editor : I Putu Suyatra

Saat Melasti Pakraman Buleelng, Sarad Siwa Sapujagat HarusTerdepan

TERDEPAN: Sarad Pura Siwa Sapujagat harus terdepan saat digelar Melasti di Desa Pakraman Buleleng, Minggu (3/3) siang. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Sejumlah Desa Pakraman di Kabupaten Buleleng menggelar melasti pada Minggu (3/3) siang. Tak terkecuali dengan Desa Pakraman Buleleng, Kecamatan Buleleng. Puluhan Sarad dari 14 Banjar Adat melaksanakan penyucian di Pura Segara, yang berlokasi di areal Eks Pelabuhan Buleleng

Tercatat sebanyak 84 Sarad dan 16 Apilan disucikan. Dari puluhan sarad itu, dibarisan paling terdepan adalah Sarad dari Pura Siwa Sapujagat, yang berlokasi di Banjar Adat Pakraman Banjar Paketan Kelurahan Paket Agung. 

Hampir semua krama di Desa Pakraman Buleleng mengetahui jika urutan terdepan saat melasti harus Sarad dari Pura Siwa Sapujagat.Namun belum banyak yang mengetahui mengapa Sarad ini berada pada posisi terdepan.Kondisi ini pun sudah berlangsung setiap kali melaksanaan melasti. 

Kelian Pemaksan Pura Siwa Sapujagat Putu Mahendra menuturkan, dalam setiap kegiatan melasti Desa Pakraman Buleleng, Pura Siwa Sapujagat ini berada dibarisan terdepan berfungsi untuk menetralisir jalur yang akan dilalui puluhan sarad. Baik itu saat menuju Pura Segara, ataupun setelah kembali untuk menuju ke Pura atau dadia masing-masing.

“Jika dalam keseharian, Ida Bhatara Sapujagat ini diibaratkan pengawal, untuk membersihkan areal yang akan dilalui dari saat melasti aura-aura negatif. Sehingga pelaksanaan melasti berjalan dengan lancar,” ujar Mahendra, Minggu sore.  

Mahendra menuturkan, hal ini memang sudah berlangsung sejak lama dan harus dijalankan. Ia menceritakan kebiasaan itu pernah di langgarnya pada belasan tahun lalu. Dimana, setelah selesai ritual di Pura Segara, posisi Sarad Siwa Sapujagat justru tidak di depan. Beberapa Sarad saat akan kembali kemasing-masing merajan justru mendahului Pura Siwa Sapujagat. Disaat itu pula, Ida marah melalui Jro Mangku Gede.

“Saat itu langsung saja Jro Mangku Gede kami kerauhan Ida Bhatara Sapujagat dan marah. Berlari kemudian mendekati sarad yang mendahului meminta mereka untuk minggir, agar Ida Bhatara Sapujagat yang berada di barisan terdepan,” tuturnya.

Keunikan lain Pura Siwa Sapujagat ini adalah ketika krama pemaksan sedang mengalami halangan atau cuntaka karena ada kematian, Sarad dari Pura Siwa Sapujagat ini harus tetap ikut serta dalam kegiatan melasti. Hanya saja, karama yang ngiringang (mengikuti,Red) untuk itu menggotong saradnya adalah Krama Tri Datu dari Desa Desa Adat Pakraman Buleleng.

Khusus tahun ini,  kegiatan melasti Desa Adat Pakraman Buleleng berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. biasanya melasti selalu di gelar setiap Purnama Kadasa atau setelah Nyepi dilakasanakan. Namun, untuk kali ini, melasti digelar sebelum Catur Brata Penyepian.

Kelian Desa Pakraman Buleleng Nyoman Sutrisna menjelaskan, hal ini tidak terlepas dari pelaksanaan Panca Walikrama di Pura Besakih. Dalam awig-awig Desa Pakraman Adat Buleleng Pasal 80 ayat 1 beserta penjelasannya menyatakan, bahwa jika melasti bersamaan dengan rangkaian pelaksanaan Panca Walikrama di Pura Besakih maka pelaksanaan melasti yang biasanya diselenggarakan pada Purna Kedasa dimajukan pada sasih kesanga

Menurutnya, jika mengacu pada lontar Sundarigama dan lontar Aji Swamandala bahwa melasti merupakan pembersihan alam melalui  prosesi Anganyutaking malaning bumi, ngamet tirta amerta atau menghanyutkan kekotoran alam menggunakan air kehidupan.

Kelian Sutrisna mengatakan,  tujuan Melasti ini adalah  Ngiring Prawatek Dewata atau mengingatkan umat untuk meningkatkan bakti kepada Ida sanghyang Widhi Wasa. Sedangkan anganyutaken laraning jagat atau membangun kepedulian untuk mengentaskan penderitaan masyarakat. Sleanjutnya anganyutaken papa klesa atau menguatkan diri dengan membersihkan diri dari kekotoran rohani serta anganyut aken letuhan bhuwana atau bersama-sama menjaga kelestarian alam.

“Kita melasti sekarang adalah untuk membersihkan Bhuwana Alit maupun Bhuwana Agung yang ada di masing-masing desa pakramannya,” ujar Nyoman Sutrisna. 

Setibanya di Pura Segara, selanjutnya dilaksanakan angemet tirta amerta yakni mengambil air suci dari tengah laut yang dilakukan oleh krama Tridatu Desa Pakraman Buleleng. Setelah nunas tirta ribuan umat kembali ke tempat sanggah/merjan dan pura masing-masing masih dengan berjalan kaki.

Seperti diketahui ada 14 banjar adat yang ada di Desa Pakraman Buleleng. Diantaranya Banjar Adat Liligundi, Bale Agung, Banjar Paketan, Banjar Tegal, Banjar Delod Peken, Penataran, Petak, Peguyangan, Banjar Tengah, Banjar Jawa, Banjar Bali, Kaliuntu, Kampung Anyar dan Kampung Baru.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia