Minggu, 21 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

Dodol Penglatan Tembus Pasar Oleh-Oleh Bali

03 Maret 2019, 22: 41: 31 WIB | editor : Hakim Dwi Saputra

Dodol Penglatan Tembus Pasar Oleh-Oleh Bali

SIAP KIRIM : Seorang perajin dodol Desa Penglatan memperlihatkan hasil produksinya yang sudah siap dikirim ke berbagai pasar oleh-oleh di seluruh Bali.. (I Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Produk Dodol Penglatan di Desa Penglatan, Kecamatan Buleleng semakin berkembang. Produk industri rumahan ini tidak hanya laris di pasar lokal, tetapi kini sudah tembus pasar oleh-oleh khas Bali hingga ke mancanegara. Tak pelak, nama Dodol Penglatan kian mendunia dan menjadi ikon home industry di Buleleng.

Ketut Soma Rika, salah seorang perajin Dodol Penglatan menuturkan, dodol yang sudah dikemas dibandrol Rp 30 ribu per kilogramnya. Setiap satu minggu sekali ia mengirim 30 kilogram dodol ke pasar oleh-oleh Bali. Dalam sebulan, permintaan dodol untuk pasar oleh-oleh khas Bali mencapai 120 hingga 150 kilogram.

“Kalau untuk pasar oleh–oleh, yang paling diminati adalah dodol. Meski demikian, kami tidak mengemas secara khusus agar ciri khas dodol khususnya dari Desa Penglatan tidak hilang,” tuturnya.

Pihaknya tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar lokal di kawasan Desa Pancasari, Pasar Kediri, Pasar Mengwi, dan Pasar Badung, tetapi juga kerap menerima pesanan dari wisatawan untuk  oleh-oleh. Masyarakat yang bekerja di luar negeri pun kerap membawa dodol khas Desa Penglatan untuk oleh-oleh. Hal tersebut secara tidak langsung membawa nama Kabupaten Buleleng lebih dikenal khususnya sektor home industri.

Sementara itu Perbekel Desa Penglatan Nyoman Budiasa mengatakan, hingga saat ini jumlah perajin dodol di Desa Penglatan sudah mencapai 39 pengusaha. Beberapa pelaku usaha dodol sudah mampu menembus pasar oleh-oleh Bali seperti di Denpasar, Gianyar dan Tabanan.

Menurutnya, permintaan dodol selalu mengalami peningkatan. Tidak hanya ramai saat hari raya, tetapi juga pesanan untuk mereka yang bekerja di luar negeri. 

Sejauh ini pihaknya sedang mengupayakan peningkatan kualitas produk khususnya soal kemasan agar kualitas dodol tetap baik dan menarik sampai di tangan konsumen. Dari pengalaman sebelumnya, daya tahan Dodol Penglatan bisa mencapai 90 hari atau tiga bulan.

Perajin dodol di Penglatan memiliki teknik pengolahan tersendiri, sehingga rasanya tidak bisa dIbandingkan dengan dodol di daerah lain. “Kualitas rasa tidak bisa diragukan lagi. Itu yang menjadi daya tarik konsumen,” imbuhnya.

Budiasa menambahkan, selama ini perajin dodol hanya terkendala bahan baku untuk pembungkus dodol yang terbuat dari kulit jagung. Menurutnya, persediaan kulit jagung di Bali sangat terbatas. Solusinya, perajin terpaksa mendatangkan kulit jagung dari Lombok.

Ketika ketersedian kulit jagung di Lombok membludak, perajin harus menyediakan modal lebih untuk memborong pembungkus dodol dalam jumlah besar.  “Di Bali kulit jagung sudah susah dicari. Kalau bahan baku lainnya seperti beras ketan atau gula masih tidak ada masalah,” ujarnya.

Selain kulit jagung untuk pembungkus, pihaknya juga terkendala masalah SDM. Perajin dodol kerap kewalahan melayani konsumen lantaran kurangnya tenaga kerja saat pesanan membludak. Menyiasati hal itu, perajin tak jarang melibatkan anggota keluarga atau saudaranya untuk membantu membuat dodol.

Ditanya soal permodalan, pihaknya mengaku tidak masalah. Menurut Budiasa, bertahannya perajin dodol secara turun-temurun tidak terlepas dari peran permodalan dari Lembaga Perkreditan Desa (LPD) dan juga BUMDes yang ada di Desa Penglatan.

“Pemberian kredit kepada perajin dodol dari LPD atau BUMDes hingga saat ini tidak ada kendala. Roda perekonomian terus berputar karena LPD beroperasi pagi, sementara BUMDes beroperasi siang hari,” bebernya,

Budiasa berharap para perajin dodol semakin meningkatkan kualitas produksinya agar Dodol Penglatan tetap eksis,. Tidak hanya kualitas rasa, tetapi juga kemasan agar tampil menarik dan diminati konsumen.

Pihaknya pun rutin menyelenggarakan pelatihan kepada pelaku usaha dodol baik dari segi pengemasan hingga pengelolahan yang lebih higienis. Pelatihan digelar bekerjasama dengan sejumlah universitas juga BPOM.

“Produksinya memang masih berskala rumahan, namun untuk penyaluran sudah dikoordinir oleh kelompok. Kami juga secara maksimal membantu perajin dari sisi ketersediaan bahan baku melalui BUMDes,” pungkasnya.

(bx/dik/aim/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia