Selasa, 16 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Features
“Keintiman” Koming Black Shadows dan Fat Lady

Dibelai Tiap Hari Bagaikan Istri, Dibayar Berapa pun Tak Akan Mau

06 Maret 2019, 14: 42: 29 WIB | editor : I Putu Suyatra

Dibelai Tiap Hari Bagaikan Istri, Dibayar Berapa pun Tak Akan Mau

TAK TERGANTIKAN: Nyoman Suryanatha alias Koming saat perform dengan Fat Lady beberapa hari lalu. (AYU AFRIA UE/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASR - Seperti sudah menjadi belahan jiwa, vokalis Black Shadows, Nyoman Suryanatha alias Koming kerap tampil dengan fat lady-nya. Bahkan, sudah menjadi ciri khas tersendiri. “Keakraban” mereka tak terbantahkan.

Koming mengaku, si Fat Lady dibeli di Melbourne, Australia 14 tahun silam. Harganya sekitar 17 juta kala itu. Mahalkah? Soal harga, tentu relatif.

Siapakah Fat Lady tersebut? Ya, Fat Lady memang salah satu seri gitar akustik merek Cole Clark yang rilis tahun itu. Fat Lady memang menjadi gitar kesayangan Koming saban manggung.

Koming mengisahkan, dirinya mulai jatuh cinta secara tak sengaja dengan Fat Lady ketika jalan-jalan ke Melbourne pada tahun 2005. Dalam perjalanannya tersebut, matanya tertarik kepada sebuah gitar akustik. Yang dipajang cantik sesuai performanya.

Dan sejak saat itu pula gitar akustik Cole Clark jatuh ke dalam pelukan lelaki 42 tahun itu. Gitar  seksi gitar akustik ini langsung saja dibuat main di Meulborne untuk pertama kalinya. Walhasil, kekagumannya terhadap suara yang dihasilkan sangatlah maksimal.

Lelaki yang lahir 42 tahun lalu ini mengaku begitu sayang dan klik dengan Fat Lady. Sehingga tak berencana menggantinya. Gitar kesayangan Koming ini setiap tiap tahunnya pasti diupacarai Tumpak Landep, sebagai rasa terima kasih rasa timbal balik atas jasanya selama ini.

"Itu yang aku pake di Santafe, udah 15 tahunan aku pakai. Hehehe. Dari pertama main akustik," ungkapnya ditemui usai manggung pada Senin lalu (4/3).

Lengkap sudah ketika perform didampingi Fat Lady yang super spesial. Suaranya sebanding dengan kualitasnya, menengah ke atas. Enak didengar.

Saat ditemui koran ini di Santafe dan ditanya apakah ada niatan untuk mengganti dengan gitar baru, Koming menjawabnya no!. Kenapa enggak? Udah "dapet" soalnya. Baginya Fat Lady itu seperti istri. Sudah dapat satu yang klik ya sudah. Itu prinsipnya.

Lalu apa yang terjadi sepanjang waktu dengan Fat Lady hingga saat ini tetap menjadi miliknya. Diapain aja? tentunya Fat Lady ini nggak pernah dibanting. Justru dielus setiap hari. Seperti nyawanya.

"Ndak diapa-apain. Udah dibawa melanglang buana. Ke Australia, Singapura, Jakarta dan terakhir tahun kemarin ku buat main di Frankfurt Jerman tahun 2018 lalu. Gitar ini buat nyari uang, kalau nggak ada gitar ini nggak kerja saya. Part of my life. Sangat berartilah. Dan saya suka banget dengan gitar ini," ungkapnya.

Saking berartinya, Koming pun tak berencana mengecat ulang gitarnya. Sebab baginya semakin relic, semakin hidup story-nya. Diganti uang berapa aja ogah, dibarter dengan gitar lainnya tak akan membuat Koming goyah menukar Fat Lady-nya. Selama 15 tahun ini baru tercatat dua kali ganti fret dan ganti senar setiap sebulan sekali. Setiap ganti senar setidaknya Koming merogoh koceknya Rp 100 sampai Rp 250 ribu.

"Minjam gitar orang seperti minjam istri orang. Kalau pun ada gitar yang lain, makainya nggak sebanyak pakai ini. Kayak kamu sukanya apa, pasti ada salah satunya yang lebih klik. Yang lain nomor sekian," ungkapnya sambil tersenyum lebar.

(bx/afi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia