Senin, 16 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Kolom
LOLOHIN MALU

Wisata Bakso Multikultur di Jalur Singaraja-Denpasar

Oleh: Made Adnyana Ole

09 Maret 2019, 04: 20: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Wisata Bakso Multikultur di Jalur Singaraja-Denpasar

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

ADA sebuah cerita. Empat pemuda sekawan berangkat bersama dalam satu urusan dari Singaraja ke Denpasar via Bedugul. Mereka terdiri dua orang Hindu, seorang Kristiani, dan satu lagi Muslim. Agama mereka  harus disebutkan di tulisan ini karena hal itulah yang membuat cerita ini jadi punya hikmah.

Sejak dari Singaraja empat orang itu sepakat singgah di antara perjalanan untuk makan bakso. Tampaknya mereka sama-sama penggemar bakso. Tapi yang jadi masalah, mereka punya selera bakso yang berbeda-beda. Satu dari dua pemuda Hindu sangat ingin bakso babi, satu lagi penyuka bakso ayam. Yang Muslim tentu saja memilih makan bakso ayam atau sapi. Sementara yang Kristiani sebenarnya ingin bilang terserah apa saja, tapi ia tetap mengaku suka bakso sapi.      

Oke, itu gampang. Mereka sepakat makan bakso di tepi ruas jalan yang berbeda, di tempat yang berbeda-beda. Tentu karena di jalur Singaraja-Denpasar tak ada pedagang bakso babi, bakso ayam dan bakso sapi di satu tempat yang sama. Tapi di jalur penghubung Bali selatan dan Bali utara itu, ketiga jenis bakso dari daging hewan yang berlainan itu memang ada.

Mari saya beritahu. Jika ingin makan bakso babi singgahlah di puncak Wanagiri, terutama di jalur menuju Desa Munduk atau di tepi utara Danau Buyan. Di situ terdapat berbagai jenis bakso babi, dari bakso campur balung hingga bakso babi campur tetelan dan dilengkapi sate, tentu saja sate babi.  

Di tepi jalan raya, masih di wilayah puncak Wanagiri, di wilayah yang banyak monyetnya itu, memang berderet pedagang makanan berbahan daging babi, namun kebanyakan yang dijual adalah sate babi dan raon babi (bukan bakso). Ada memang bakso di sela-sela pedagang sate, tapi itu bakso ayam. Tak ada bakso sapi.

Jika ingin makan bakso ayam, mampirlah di sekitar Danau Beratan, di dekat Pura Ulun Danu dan Masjid besar dan tinggi di tepi sebelah barat jalan. Terutama di tikungan setelah melewati danau, tepatnya di sebelah selatan jalan, akan berderet-deret pedagang bakso ayam. Para penggemar bakso ayam tak perlu cemas, hingga malam pun setidaknya satu dari sederet pedagang itu pastilah buka dengan setia.

Di mana bakso sapi? Sabarlah sebentar. Bedugul harus dilewati dulu untuk kemudian tiba di Pasar Baturiti. Nah, di pasar itulah terdapat pedagang bakso sapi, lengkap dengan eso. Tahu eso? Eso itu usus muda sapi yang disajikan dengan cara dipotong-potong, rasanya gurih dan eksotik. Yang di dalam pasar itu biasanya buka mulai siang hingga sore.

Jika dagang dengan rombong yang di dalam pasar tutup, di sebelah selatan pasar terdapat ruko yang juga menjual bakso sapi dengan rasa yang nyaris sama dengan bakso yang di dalam pasar. Tentu saja rasanya nyaris sama. Kedua pedagang itu memang bersaudara kandung. Atau jika sempat melewati jalur itu pada pagi-pagi benar, dagang bakso sapi terdapat di sekitar Kantor Camat Baturiti. Yang jualan bakso sepagi itu adalah pedagang yang sama dengan pedagang di dalam Pasar Baturiti. Pagi dia jualan di sekitar kantor camat, siangan ia pindah ke dalam pasar.

Nah, empat sekawan itu memilih makanan dengan penuh rasa toleransi dan semangat multikultur. Mereka bersama-sama berhenti di deretan pedagang bakso di puncak Wanagiri, namun hanya satu orang yang makan bakso babi dengan lahap, yakni si pemuda Hindu. Yang tiga orang lain sibuk memantau pemandangan danau yang indah. Mereka juga berhenti bersama di tepi Danau Beratan, namun hanya dua orang yang makan bakso ayam di daerah itu, yakni si pemuda Hindu dan Muslim. Yang dua lainnya mungkin sibuk menghitung mobil lewat di tikungan mesra di ujung danau. Di Pasar Baturiti mereka juga berhenti bersama, dan hanya satu orang yang makan bakso dengan pentol padat dan eso sapi yang lezat.

Sepulang dari Denpasar menuju Singaraja, hari telah malam. Dagang bakso sudah pada tutup, sehingga satu pun dari mereka tak punya niat makan bakso. Mereka singgah di Pasar Baturiti, mereka turun  bersama dan makan bersama dengan menu yang sama, yakni nasi jinggo dengan sesuir ikan mujair goreng. Tempatnya tepat di depan Pasar Baturiti.

Cerita empat sekawan itu diceritakan oleh seorang kawan dari Singaraja. Cerita itu tak sepenuhnya nyata, namun mungkin juga tak sepenuhnya fiksi. Fakta atau fiksi, cerita itu toh tetap ada hikmahnya. Bahwa sebaiknya di Bali dibangun wisata multikultur atau wisata toleransi, di mana dalam satu satu tempat terdapat beragam menu makanan, beragam budaya, beragam pedagang, tentu saja dengan beragam tamu dan pembeli yang boleh masuk atau yang mau masuk ke tempat itu.

Jika bakso babi, bakso ayam dan bakso sapi dikumpulkan dalam satu tempat bernama kawasan wisata toleransi, maka empat sekawan itu tentu akan berhenti dan singgah dalam satu tempat saja, karena mereka bisa makan bersama di satu tempat, meski dengan pilihan menu yang berbeda-beda. Lokasinya mungkin di tepi danau, dilengkapi tempat duduk yang alamai, juga dijajakan kopi dari seluruh Nusantara.

Selain di jalur Singaraja-Denpasar atau jalur Denpasar-Singaraja, kawasan wisata multikultur atau toleransi bisa juga dibangun di sejumlah daerah di seluruh kabupaten di Bali. Namanya boleh saja wisata toleransi, boleh wisata multikultur, atau jika ingin agak slengekan bisa disebut wisata campur-baur.

Di Jembrana misalnya terdapat desa yang sangat penting bagi penyebaran spirit toleransi dan kebersamaan, yakni Desa Palasari. Di Badung dan Denpasar tentu lebih banyak lagi kantong wilayah yang bisa digarap menjadi wisata jenis multikultur semacam itu, karena di banyak wilayah memang budaya multikultur telah sejak dulu kala terpelihara dengan baik.

Di kawasan Pelabuhan Buleleng dulu pernah digadang-gadang hendak dibangun wisata multikultur. Syarat naturalnya sudah terpenuhi dengan baik. Di kawasan itu terdapat Kampung Bugis dan kampung-kampung lain dengan mayoritas warga Muslim, lengkap dengan masjid tuanya. Di situ juga terdapat Klenteng tua dengan kampung-kampung dengan komunitas warga keturunan Tionghoa. Di situ juga terdapat Pura Segara yang disungsung dengan setia oleh warga Hindu dari Desa Pakraman Buleleng dan desa-desa adat di sekitarnya.

Tempat yang mirip seperti di Pelabuhan Buleleng itu ada banyak di Bali. Ada juga Pura Hindu yang punya sentuhan sejarah Muslim sehingga, misalnya, di Pura itu tak boleh ada sesajen yang berisi unsur daging babi. Itulah modal wisata toleransi, atau wisata multikultur, atau wisata campur-baur. Tapi kenapa jarang sekali ada pejabat yang mewacanakan jenis pariwisata semacam itu dengan serius dan berulang-ulang, malah yang diwacanakan beberapa kali justru wisata halal? (*)        

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia