Minggu, 16 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Features

Para Tentara Belajar Budidaya Jamur Tiram di Dusun Tampuagan, Bangli

11 Maret 2019, 07: 44: 17 WIB | editor : I Putu Suyatra

Para Tentara Belajar Budidaya Jamur Tiram di Dusun Tampuagan, Bangli

MENGGIURKAN: Para anggota Satgas TMMD di Desa Peninjoan belajar budidaya jamur tiram di kumbung milik Pasek Suryawan. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Para tentara Kodim 1626/Bangli pun tertarik membudidayakan jamur tiram usai mendapat ilmu baru tentang pengembangan jamur di Dusun Tampuagan, Desa Peninjoan, Kecamatan Tembuku, Bangli. Mereka ingin mengembangkannya di rumah sembari mengisi waktu luang sepulang tugas.

Para pria berseragam loreng tiba di sebuah gudang besar, tempat budidaya jamur tiram di sebuah dusun di wilayah timur Bangli itu. Tumpukan jamur yang dikemas plastik tampak berjejer rapi. Para tentara ini mulai memandangi satu persatu deretan rak bambu yang menjulang tinggi.

Mereka mulai tertarik. Bahkan hendak mencoba bagaimana cara Pasek Suryawan, ketua kelompok pengembang di desa itu membuat jamur agar tidak terserang hama. Bahkan mereka tertarik mengembangkannya di rumah.

Salah seorang anggota Satgas TMMD, Peltu Kadek Somanada merasa tertantang memelihara jamur. Sebab, dirinya juga doyan hal-hal berbau cocok tanam. Jika dilihat secara ekonomis juga lumayan buat menambah pundi rupiah. Modalnya di bawah Rp 20 juta, namun dapat untung lumayan.

Tak sekadar memelihara. Apabila ditekuni, Somadana yakin kegiatan berikut akan berkembang jadi bisnis. Karena itu Somadana semangat ikut pelatihan budidaya jamur di induk semang, sebutan rumah penduduk yang dijadikan tempat tinggal sementara bagi para tentara.

"Lumayan untuk isi waktu luang. Kalau libur bisa dimanfaatkan. Suruh keluarga ikut mengembangkan jamur kan lumayan. Apalagi bisa berkembang, punya dasar ilmu berbisnis, ya harus dimanfaatkan," jelasnya.

Banyak ilmu yang diperoleh. Para anggota Satgas TMMD baru paham, pengembangan jamur tiram mesti menyesuaikan suhu dan lokasi. Ternyata, pengembangan jamur sangat baik dilakukan di daerah beriklim sejuk, seperti wilayah lembap atau dataran tinggi.

Seperti yang dikatakan ketua kelompok pengembang jamur tiram Pasek Suryawan. Jelas dia, jamur tiram harus mendapat perawatan khusus. Setiap hari wajib dicek apakah jamur berair atau tidak. Terutama jamur yang terserang hama, butuh waktu khusus untuk membersihkannya.

"Wilayah Tampuagan lokasinya termasuk dataran tinggi. Hawanya sejuk, jadi cocok untuk budidaya jamur," ungkap Pasek.

Mengapa bisnis jamur tiram diminati? Menurut Pasek, kebutuhan jamur di pasaran meningkat. Semua orang suka jamur. Jamur punya kandungan gizi yang cukup bagi tubuh. Ada vitamin, asam amino, protein, antibiotik, dan banyak lagi.

Bahkan, kata dia, jamur sudah merambah ke pasar ekspor dan masuk ke restoran dan hotel-hotel. Jamur dapat diolah jadi berbagai makanan enak. "Makanya penjualan jamur meningkat tajam," kata dia bersemangat.

Modalnya relatif terjangkau. Butuh biaya Rp 10 juta untuk membuat rumah jamur yang disebut kumbung. Kebanyakan orang juga menggunakan ruang tak terpakai sebagai kumbung untuk menekan biaya. Belum lagi untuk alas tempat jamur yang disebut bag log. Bahan bag log terdiri atas serbuk gergaji, tepung jagung, kapur dan lainnya.

Menurut Pasek Suryawan, dari hasil pengembangan jamur tiram, perekonomian masyarakat Dusun Tampuagan semakin bergairah. Masyarakatnya sebagian sudah beralih dari petani menjadi pengembang jamur.

"Sekali modalnya, bisa naik dua kali lipat. Tapi setelah panen, hasil produksi naik 10 kali lipat," ungkapnya.

Dilihat dari potensinya, kemungkinan besar, kata Pasek, pembudidaya jamur di desanya bakal bertambah. "Kalau berminat, mungkin para anggota Satgas mau budidaya jamur, mengikuti jejak kami," tukasnya.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia