Selasa, 20 Oct 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Tak Ikuti Tradisi Nyeeb, Bisa Berakibat Fatal karena Sanksi Niskala

11 Maret 2019, 18: 24: 53 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tak Ikuti Tradisi Nyeeb, Bisa Berakibat Fatal karena Sanksi Niskala

RITUAL: Salah satu prosesi dalam Tradisi Nyeeb di Desa Tajun, Kubutambahan, Buleleng, Senin (11/3). (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Meski tidak ada sanksi sosial bagi pasangan suami istri yang tidak mengikuti Tradisi Nyeeb di Desa Pakraman Tajun, Kubutambahan, Buleleng setelah menikah, namun dampak secara niskala akan tetap diterima bagi mereka yang nekat dan berani tidak mengikuti tradisi ini. Apa itu?

Kelian Adat Desa Tajun, Jro Made Sumerta menegaskan jika ada pasutri yang berani tidak mengikuti tradisi Nyeeb maka sudah pasti akan menerima hukuman secara niskala. Entah itu sakit yang berkepanjangan, tidak memiliki keturunan, tidak pernah akur dengan keluarga, keterpurukan ekonomi dan bahkan bisa meninggal dunia. Kasus inipun banyak terjadi bagi pasutri yang tak mengikuti tradisi ini.

“Nah meskipun nanti pasutri meninggal dunia, maka akan tetap diwajibkan mengikuti tradisi Nyeeb ini. Nanti melalui adegan itulah akan digunakan sebagai simbol orang yang sudah meninggal untuk mengikuti tradisi ini. Artinya akan dilakukan oleh anak atau keturuannya,” jelasnya.

Lalu bagaimana dengan pasutri yang sudah kawin-cerai, atau cerai karena meninggal? Sumerta menambahkan selama pasutri masih utuh perkawinannya, maka wajib mengikuti tradisi ini. Dengan harapan segera bisa melaksanakan kewajibannya sebagai krama desa.

“Kalau salah satu (suami atau istri, Red) dari mereka meninggal, kemudian menikah lagi maka wajib hukumnya mengikuti tradisi Nyeeb lagi. Begitu juga kalau dimadu. Kedua-duanya harus mengikuti tradisi Nyeeb ini,” imbuhnya.

Di sisi lain, Desa Adat Tajun juga memberikan kebijakan bagi pasutri yang tinggal jauh di luar desa atau yang berhalangan hadir saat Nyeeb berlangsung untuk diwakilkan kepada orang lain. Dengan catatan pasutri yang mewakili itu hanya datang untuk nunas tirta. Selanjutnya tirta itu diberikan kepada pasutri yang memang seharusnya mengikuti.

Dana tradisi Nyeeb ini murni datang dari urunan para pasutri yang mengikuti tradisi ini. mereka akan dikenakan sesuai dengan besaran biaya yang dihabiskan. “Nanti berapa habisnya akan dibagi rata kepada pasutri yang Nyeeb. Sedangkan Desa Adat sifatnya memfasilitasi dan menyiapkan sarana upakaranya,” kata dia.

Sementara itu Gede Murjasa, salah seorang pasutri yang mengikuti tradisi Nyeeb mengaku baru empat bulan menikah. Dirinya memilih lebih cepat mengikuti tradisi ini dengan harapan segera bisa ngayah dan menek medesa.

“Biar segera bisa ngayah di desa. Karena kalau masih reged kami belum bisa ngayah. Jadi cepat atau lambat pasti akan mengikuti tradisi ini,” ungkapnya.

Ditanya terkadi besaran urunan yang dibayar, Murjasa mengaku hanya membayar urunan Rp 200 ribu saja untuk biaya banten. Menurutnya dana tersebut sangatlah terjangkau ketimbang dilakukan secara swadaya. “Biayanya tidak seberapa. Kalau banyak pesertanya malah lebih murah kenanya. Sekarang karena 41 pasangan maka kena segitu,” singkatnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news