Selasa, 16 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Demi Keselamatan Semesta, Warga Sukawati Mapeed

13 Maret 2019, 12: 19: 54 WIB | editor : I Putu Suyatra

Demi Keselamatan Semesta, Warga Sukawati Mapeed

MAPEED: Mapeed di Desa Pakraman Sukawati tak hanya diikuti wanita, pria pun turut melebur. Mapeed wajib dilakukan, karena warga percaya segala sesuatu upacara yang berhubungan dengan Pura Kahyangan Tiga diyakini sebagai paneduh jagat. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Mepeed merupakan tradisi  unik yang ada di masing-masing desa di Bali. Seperti yang dilakukan warga Desa Pakraman Sukawati, Gianyar. Namun, kali ini agak beda. Tidak dilakukan empat hari berturut, dan yang ikut pun tak hanya wanita.

Peserta Mapeed biasanya diikuti wanita yang berjalan beriringan dengan rapi, sambil membawa Gebogan menuju pura. Namun berbeda dengan tradisi Mapeed di Desa Pakraman Sukawati, Gianyar, dimana pesertanya dari pria maupun wanita dengan tata rias agung hingga mengenakan kostum  Bondres, seperti yang terlihat Sabtu (9/3) lalu.

"Mapeed kali ini dilakukan serangkaian Pujawali di Pura Desa lan Puseh Desa Pakraman Sukawati. Mapeed juga  tradisi yang sakral dan sudah berlangsung sejak zaman kerajaan," ujar Bendesa Pakraman Sukawati, I Nyoman Suwantha  kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin. Mapeed dilakukan dengan berjalan kaki beriringan sejauh tiga kilometer oleh krama Desa Pakraman Sukawati menuju sumber mata air suci di Pura Taman Beji yang berada di perbatasan Desa Guwang dengan Sukawati.

Mapeed di Desa Sukawati, lanjutnya, dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Karena enam bulan odalanya dilakukan secara sepen, dan enam bulannya lagi baru odalan nadi. "Jadi, Mapeed dilakukan saat piodalan nadi saja,” paparnya.

Menurut Nyoman Suwantha, tidak pernah Mapeed tidak dilakukan,  karena segala sesuatu upacara yang berhubungan dengan Pura Kahyangan Tiga diyakini sebagai paneduh jagat (penyelamat semesta secara niskala), khususnya di Desa Pakraman Sukawati. "Paneduh jagat tersebut dikaitkan dengan keberadaan warga desa yang selalu selamat dari mara bahaya. Sehingga Mapeed  sangat diyakini sebagai tradisi yang sakral untuk mengiringi pamendakan tirta ke Beji saat piodalan berlangsung," terangnya.

Tradisi ini, lanjutnya, sudah turun temurun dilakukan. " Kami tidak berani tidak melakukannya. Itupun satu tahun sekali ketika Pujawali Nadi di Pura Dalem Gede Sukawati yang jatuh setiap Anggara Kasih Tambir. Begitu juga saat Pujawali di Pura Desa lan Puseh Desa Sukawati yang jatuh setiap Buda Kliwon Matal,” paparnya.

Pujawali Nadi dilakuakn selama empat hari sesuai rentetannya. Begitu juga pelaksaan Peed selalu dilaksanakan setiap sore hari mulai pukul 16.00 hingga pukul 19.00. 
Krama desa yang ingin Mapeed, sejak pagi sudah melakukan persiapan dengan merias diri.Pesertanya beragam, mulai dari usia terkecil 12 tahun hingga lanjut usia. “Terpenting hatinya tulus ikhlas ngayah, mereka pasti ikut Mapeed. Tidak ada batasan usia khusus, yang penting sudah bisa mengikuti prosesinya,” tandas Suwantha.


Dijelaskannya, Mapeed dimulai dari Jaba Pura Desa dan Puseh. Perlengkapan berupa umbul-umbul, lelontekan, dan sarana upakara lain berada di barisan terdepan.  Selanjutnya disusul dengan babarungan gamelan, barulah Peed mengikuti, membentuk barisan panjang ke belakang yang juga ditutup oleh bebarungan gamelan.


Tradisi Mapeed yang dilakukan pekan lalu lebih menarik dari sebelumnya, karena untuk
pertama kalinya dimeriahkan keikutsertaan Komunitas Pecinta Alam Sukawati (Kompas). Komunitas yang terdiri dari 25 orang se-Banjar Kebalian Desa Sukawati itu, berhias ala Babondresan. “Mereka ada yang dihias menjadi patih, Bondres, Hanoman, dan pedanda,” jelasnya. Salah satu anggota komunitas Kompas, I Kadek Widi Dika Setiawan, mengaku memang tulus untuk ngayah.  Apalagi  kesempatan kali sebagai daya tarik dari penonton.
"Anggota komunitas  I Ketut Katek alias I Ketut Sumerta, turut dirias wajahnya seperti Bondres. Seperti namanya,  Ketut Katek memiliki tubuh pendek. Namun antusiasnya untuk ngayah Mapeed sangat tinggi," ujarnya.


Bahkan, sepanjang perjalanan Mapeed, komunitas tersebut menjadi tontonan menarik masyarakat. Apalagi kali ini tak hanya wanita yang terlibat, tapi ada sejumlah sosok pria
dengan riasan Bondres. “Keikutsertaan ngayah dan dirias Bondres ini merupakan spontanitas,” ujarnya. Kadek Widi juga mengaku untuk berhias, mereka pun meluangkan waktu sejak pukul 09.00 hingga pukul 15.00. “Ini ngayah mepeed kami yang pertama kali dari komunitas. Berdasarkan rasa tulus, kami ikut ngayah,” jelasnya.


Bendesa Pakraman Sukawati, Nyoman Suwantha menambahkan, dikarenakan pujawali bertepatan dengan rahina Tilem Kasanga, maka tradisi Mapeed tidak digelar pada hari pertama dan kedua Pujawali.


Meskipun situasinya beda, namun  pihaknya tidak berani tidak melaksanakan tradisi yang berlangsung sejak zaman kerajaan tersebut. “Biasanya ada Mapeed empat hari berturut-turut. Tetapi kali ini hanya dua hari saja. Karena saat piodalan bertepatan dengan hari suci Pangrupukan dan besoknya juga Nyepi,” pungkasnya.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia