Jumat, 19 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Kongco Pura Penyagjagan; Saksi Lahirnya Dusun Lampu, Desa Catur

14 Maret 2019, 09: 43: 07 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kongco Pura Penyagjagan; Saksi Lahirnya Dusun Lampu, Desa Catur

SESAJI: Warga keturunan Tionghoa di Dusun Lampu, Desa Catur, Kecamatan Kintamani, Bangli menghaturkan sesaji pada perayaan Imlek, beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Akulturasi budaya dan agama kental terasa di Dusun Lampu, Desa Catur, Kintamani, Bangli. Suasana  keberagaman itu bisa dirasakan di Pura Penyagjagan, karena  di dalam pura terdapat kongco di antara palinggih yang dipuja umat Hindu setempat. Kenapa ada palinggih bersanding dengan kongco?

Kongco di utama mandala Pura Penyagjagan Dusun Lampu, Desa Catur, Kintamani, Bangli, jadi saksi bertumbuhnya koloni warga Tionghoa pada masa lampau. Di kawasan ini, warga keturunan etnis China menjadi penjaga perbatasan antara Kerajaan Bangli dengan Badung dan Buleleng.
Bahkan, kongco itu dibangun berdasarkan wahyu para leluhur sebagai tempat pemujaan para dewa kepercayaan umat Tionghoa. Ini erat kaitannya dengan Kerajaan Badung yang ingin ekspansi ke dataran tinggi Bangli di Kintamani.

Ketua Perkumpulan Tionghoa Banjar Lampu, Desa Catur, Ayusta Wijaya, 45, mengatakan, cerita tentang warga keturunan yang diberi tugas menjaga wilayah perbatasan Bangli, sudah digariskan secara turun-temurun. Diakuinya, catatan sejarahnya memang tiada. Tapi, masyarakat setempat percaya, keberadaan mereka di Dusun Lampu sudah lebih dari 300 tahun. "Kami memang datang menjaga wilayah perbatasan. Ibaratnya kami mendapat tugas mengisi wilayah di daerah terluar untuk mengawasi musuh. Saya tahu ceritanya dari leluhur saya, lalu dari kakek ke ayah saya, dan cerita ayah turun ke saya," ujar Ayusta menceritakannya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin.


Disebutkan pula, keberadaan kongco di pura itu menjadi cikal-bakal lahirnya nama Lampu sebagai nama dusun. Ayusta menjelaskan, pada saat menghadapi perang dengan pasukan lawan di perbatasan, masyarakat keturunan wajib membawa obor sebagai sumber cahaya.

Tak sekadar perintah, membawa obor adalah sabda para leluhur kepada warga Tionghoa yang bersiap menghadang musuh. Konon, apabila obor menyala, musuh akan kelimpungan. "Obor itu juga jadi penghalang buat musuh menyerang wilayah kami. Karena musuh mengira ada pasukan yang banyak sekali. Padahal, obornya yang banyak," terang Ayusta.


Namun, karena warga etnis China merasa hanya diberi tugas menjaga wilayah saja (bukan ikut bertempur), mereka pun kembali ke satu wilayah yang kini dibangun Pura Penyagjagan. Di pura itu, mereka beristirahat. Mereka masih membawa obor. Ketika itu, warga mendapat sabda. "Leluhur kami saat itu mendapat sabda. Untuk membangun satu perkampungan, kami harus membawa obor ini agak ke selatan dari tempat yang jadi kongco sekarang. Kalau obor mati di wilayah itu, maka di sanalah tempat membangun perkampungan. Demikian sabda yang diterima warga kala itu," tutur bapak tiga anak ini.


Dan, akhirnya warga keturunan bermukim di wilayah yang saat ini menjadi Dusun Lampu. Di tempat koloni beristirahat, dibangun pula kongco untuk pemujaan leluhur, sekaligus dibangun pula Pura Penyagjagan. Masyarakat setempat menglaim sebagai penduduk yang pertama datang ke wilayah itu, sebelum akhirnya Desa Catur berkembang seperti saat ini. "Kami berbaur dengan warga Hindu di banjar lain di Desa Catur. Mulai dari upacara, kegiatan adat, kami sudah menyatu. Bahkan, warga Tionghoa masuk jadi pecalang, ikut sekaa gong. Pura Penyagjagan jadi saksi dua umat beda darah jadi satu saudara," kata Ayusta yang juga Kelian Pecalang Desa Catur.


Kongco berdiri di sebelah timur area utama mandala pura. Di dalam utama mandala terdapat meru tumpang solas. Uniknya, pura tersebut masih mempertahankan arsitektur aslinya, dan terasa kuat pencampuran dua budaya antara Bali dan Tionghoa.


Terkait upacara, warga keturunan menggelar ritual terbesarnya pada Tahun Baru Imlek. Kemudian bertepatan dengan perayaan Chem Beng yang jatuh setiap tanggal 5 April, umat keturunan Tionghoa menggelar pemujaan terhadap leluhur. Biasanya dihaturkan sesaji berupa buah, makanan, kue, dan yang lain. Semuanya mirip seperti umat Hindu, termasuk prosesinya.
Ritual Chem Beng dimulai sejak pukul 10.00 Wita, kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan dimulai pukul 13.00 Wita dengan didahului persembahan Pajati di tiap palinggih Pura Penyagjagan. Usai sembahyang dan menghaturkan sesaji, umat Hindu dan Tionghoa mengumpulkan sesaji yang sebelumnya dihaturkan. Daging dan sayuran mentah dimasak bersama-sama di area pura. Mereka juga makan bersama setelah masak.

"Kami memang beragama Budha. Tapi kami mengikuti semua ritual Hindu. Mulai lahir sampai mati, tidak ada yang saling meniadakan. Kami berpakaian adat Hindu dan sembahyang ala Hindu," pungkasnya.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia