Jumat, 19 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Bali Under The Moon

Enam Seniman Lukis Bali Berpameran di India

14 Maret 2019, 20: 29: 04 WIB | editor : Hakim Dwi Saputra

Enam Seniman Lukis Bali Berpameran di India

EKSEBISI : Enam perupa Bali antara lain Made Duatmika, Ketut Suwidiarta, Djaja Tjandra Kirana, Wayan Redika, Made Wuradana, dan GM Wisatawan bersama salah seorang seniman India, Ashok Kumar (tengah), saat pembukaan pameran Art[i]Factual di India (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Puluhan lukisan karya enam orang perupa dari Bali dipamerkan di Indira Gandhi National Centre for The Arts, New Delhi, India, sepanjang 13 Maret hingga 20 Maret 2019 mendatang.

Keenam perupa yang terlibat dalam pameran bertajuk Art[i]Factual antara lain Djaja Tjandra Kirana, Wayan Redika, Made Wiradana, Made Duatmika, I Ketut Suwidiarta dan IGM Wisatawan.

Seperti diungkapkan salah seorang peserta yang terlibat, I Wayan Redika, eksebisi yang dilaksanakan secara bekerja sama dengan India Council for Cultural Relations (ICCR) ini telah dipersiapkan sejak tiga bulan lalu.

Sesuai judulnya, kata Redika saat dihubungi Bali Express (Jawa Pos Group), pameran ini mengusung tema yang merupakan senyawa liar antara kata art, artifact, dan factual yang secara imajiner dimaksudkan sebagai upaya untuk menggali keagungan karya seni dan kebudayaan masa lampau.

“Yang kemudian menjadi titian jejak dan memberikan pengaruh besar dalam proses penciptaan menuju karya kekinian yang aktual,” ujar Redika saat mengulas tema dari pameran ini, Kamis kemarin (14/3).

Diusungnya tema itu bukannya tanpa dasar. Menurutnya, tema itu tidak lepas dari kondisi kebudayaan Bali dan India yang kaya dan memiliki kemiripan visual dalam berbagai hal.


Karena itu, eksebisi tersebut menjadi media bagi perupa yang terlibat di dalamnya maupun pengunjungnya untuk membuka wawasan budaya yang lebih luas. Terutama dalam hal kedekatan kultur religi antara dua bangsa.

“Bali memang memiliki pertalian penting dengan India. Namun apa yang terjadi di ruang yang lebih nyata akan menjadi fokus interaksi para seniman Bali dalam kegiatannya selama berpameran di negara (India) yang kaya akan sejarah ini,” tutur seniman kelahiran Desa Ababi, Kecamatan Abang, Karangasem ini.

ICCR melalui perwakilannya di Bali, sambung Redika, memberikan kesempatan kepada para seniman untuk mengeksplorasi sejumlah peninggalan besar yang tercatat pada wiracarita Ramayana dan Mahabharata. Dua di antara simpul kedekatan sosial dengan peradaban masyarakat Bali.

Tema Art[i]Factual boleh memberikan bayangan kreasi. Namun maknanya yang lebih dalam tentu memerlukan daya jelajah, intuisi, dan renungan fikiran yang lebih khusus. Dan hal yang terkesan sederhana itu tidak selalu mudah untuk diwujudkan.  


“Ini memerlukan kepekaan, kecerdasan imajinatif , dan wawasan kebudayaan yang mendalam,” tutur Wayan Redika. Terlebih, India memang sudah menjadi rujukan religi bagi masyarakat Bali.

“Kedua daerah ini selain kaya akan ilham juga sarat peninggalan sejarah. Lalu bagaimana ilham itu direduksi menjadi gagasan visual. Inilah yang menjadi tujuan pameran Art[i]Factual,” imbuhnya.


Menurutnya, kesempatan untuk saling berbagi adalah tantangan bagi para seniman untuk meyakinkan orang banyak. Bahwa, kekuatan seni memang memiliki rasa dan tempat yang sama dari subyek yang lain. Seni memiliki fungsi penyadaran ketika peradaban yang terluka karena ketidaksadaran manusia.

“Jadi di sini, Art[i]Factual berupaya menjadi penyambung dan penyeimbang citra persaudaraan antara Bali dan India. Dan, harapannya bisa memperluas wawasan penciptaan bagi seniman Bali dan meneguhkan hubungan kebudayaan Indonesia khususnya Bali dengan India,” tutupnya.

(bx/vir/aim/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia