Selasa, 16 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Bali

2019, Museum Subak Dapat Dana DAK untuk Pembiayaan Non Fisik

14 Maret 2019, 21: 56: 36 WIB | editor : I Putu Suyatra

2019, Museum Subak Dapat Dana DAK untuk Pembiayaan Non Fisik

USANG: Papan nama Museum Subak yang sudah usang, Kamis (14/3). (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, TABANAN - Di tahun 2019 ini Museum Subak Tabanan mendapatkan bantuan dana Rp 450 juta untuk pengelolaan koleksi, program publik dan perbaikan fisik. Sayangnya dana tersebut belum cukup untuk melakukan perbaikan fisik secara menyeluruh, padahal Museum Subak satu-satunya di Bali ini sangat memerlukan penataan.

Kepala UPTD Museum Subak, Ida Ayu Ratna Pawitrani menjelaskan dana Rp 450 Juta tersebut bersumber dari DAK Non Fisik yang digelontorkan oleh Kemdikbud. Selain dialokasikan untuk pengelolaan koleksi dan program publik, dana tersebut juga digunakan untuk perbaikan fisik. Namun hanya sedikit dengan nilai kurang dari Rp 50 Juta. "Tetapi perbaikam fisiknya hanya sedikit yaitu perbaikan plafond, genteng dan saluran irigasi. Dan fokus pada pengelolaan koleksi dan program publik," jelasnya Kamis (14/3).

Menurutnya dana tersebut memang diberikan untuk Meseum Pemda dengan tipe C. Dan memang tidak bisa sepenuhnya digunakan untuk perbaikan fisik, padahal Museum Subak sendiri sangat perlu dilakukan penataan. Apalagi Museum Subak memang tidak mendapatkan dana khusus dari Pemprov Bali. "Kalau Pemda Tabanan memberika biaya operasional setiap tahun yang dianggarkan di Dinas Kebudahaan Tabanan, jadi tidak ada dana yang langsung ke Museum," lanjutnya.

Disisi lain, Museum Subak yang terletak di Banjar Sanggulan, Desa Banjar Anyar, Kecamatan, Kediri Tabanan, ini juga merupakan salah satu obyek wisata edukasi yang ramai dikunjungi pelajar. Karena didalamnya terdapat miniatur subak, ruang pameran, ruang film dan sebagainya yang berkaitan dengan subak yang merupakan sistem pengairan tradisional Bali. 

Namun nyatanya saat ini wajah museum subak utamanya dibagian luar terkesan kurang terawat, apalagi jalan masuk menuju Museum sudah sangat

rusak hingga bagian kerikil terlihat. Hal tersebut diduga menjadi salah faktor terus menurunnya jumlah kunjungan wisatawan ke Museum Subak. Setiao harinya rata-rata hanya dikunjungi 5 sampai 15 orang.  Dan sesuai dengan data tahun 2018 kunjungan mencapai 5.629, sementara di tahun 2017 turun hanya diangka 4.105. "Wisatawan yang dominan ke mesum adalah domestik kategori pelajar, sementara untuk manacanegara lebih sedikit dan kebanyakan wisatawan Eropa," tandasnya.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia