Minggu, 21 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Features

Sempat Layu dan Mati, Mau Ditebang, Pohon Asem Karamat Hidup Lagi

15 Maret 2019, 16: 02: 51 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sempat Layu dan Mati, Mau Ditebang, Pohon Asem Karamat Hidup Lagi

TUMBANG: Pohon Asam yang tumbang di Pura Dalem Desa Pakraman Joanyar mulai dibersihkan cabangnya. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Pohon Asem keramat yang tumbang di areal jeoran Pura Dalem Desa Pakraman Joanyar, Kecamatan Seririt perlahan mulai dibersihkan. Keputusan itu dilakukan setelah prajuru adat mendapat pawisik jika pohon berusia dua abad itu boleh di bersihkan dan kayunya dijual. Namun rupanya ada sekelumit kisah menarik terkait pohon asam keramat itu. Bagaimana kisahnya?

Sejumlah pelinggih masih tertutupi rimbunnya pohon asam yang tumbang di areal Pura Dalem Desa Pakraman Joanyar, Jumat (15/3) siang. Beberapa warga mulai perlahan membersihkan cabang pohon yang menutupi pelinggih tersebut. Mereka menggunakan alat seadanya seperti kapak. Pembersihan dipimpin oleh Wakil Prajuru Desa Adat Joanyar, Nyoman Mangku.

Seperti diketahui,Pohon asam setinggi 45 meter dengan diameter 1,5 meter itu tumbang Selasa (12/3) malam. Kendati demikian prajuru belum berani membersihkan secara langsung, lantaran masih nunas rawos (memohon petunjuk niskala, Red). Namun pada Kamis (14/3) malam prajuru akhirnya mendapat pawisik dari yang bersthana di Pura Dalem.

“Taru (kayu, Red) ini sudah kepaica (diperbolehkan dibersihkan, Red) oleh Ida Bhatara Lingsir Sakti yang berstana di Pohon Asam. Kalau dijual boleh, tapi kalau ada krama yang berkenan meminta kayunya juga boleh. Intinya sudah diijinkan untuk dibersihkan” ujar Nyoman Mangku, saat ditemui di areal Pura Dalem Joanyar.

Hanya saja petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng sudah menawarkan diri untuk membantu membersihkan pohon yang telah tumbang. Sehingga tidak mengganggu areal pura dalem.

“Sekarang kami bersihkan cabangnya yang menimpa pelinggih. Nah untuk batangnya karena ukurannya besar ini perlu penanganan khusus menggunakan gergaji mesin. Tetapi kami masih rembug dulu dengan kelian bagaimana baiknya. Memang dari petugas BPBD Buleleng sudah siap membantu kalau dibutuhkan,” akunya kepada Bali Express (Jawa Pos Group)

Wayan Mangku menambahkan sejatinya Pohon Asam tersebut sempat layu dan daunnya meranggas pada Mei 2018 lalu. Bahkan krama bersama prajuru adat sempat mengadakan paruman. Tujuannya untuk nunas Pohon Asam untuk ditebang lantaran dikira sudah mati sehingga tidak mengganggu areal Pura Dalem.

Setelah prajuru dan krama sepakat untuk menebang, justru keajaiban terjadi. Pohon Asam keramat kembali hidup seperti sediakala. Daunnya yang awalnya layu kembali hijau dan segar. Bahkan pohon itupun kembali berbuah.

“Hidupnya itu tiga hari setelah kami menggelar paruman bersama prajuru dan krama. Tetapi setelah Jero Mangku Dalem datang ke pura, ternyata malah hidup lagi. Nah akhirnya kami mengurungkan niat untuk menebangnya,” imbuh Mangku.

Lalu apa langkah selanjutnya setelah pohon berhasil dibersihkan? Lebih lanjut Mangku menambahkan prajuru akan membuatkan tulus lumbung untuk mengganti pelinggih yang rusak total secara sementara. Setelah itu barulah dibuatkan upacara ngulapin dan disertai dengan upacara pecaruan eka sata.

“Kelanjutannya karena masalah dana, ya kami hentikan dulu. Nanti pada tahun 2020, jika ada dana baru dilakukan perbaikan,” ungkapnya.

Akibat musibah inipun pujawali yang sedianya akan dilaksanakan bertepatan dengan Buda Manis Anggarkasih Prangbakat atau pada tanggal 27 Maret nanti urung dilakukan. Pertimbangannya mengingat perbaikan terhadap sejumlah pelinggih belum bisa dilakukan.

“Ya kami tidak bisa melaksanakan pujawali yang biasanya setiap enam bulan sekali kami lakukan. Tetapi kami sudah mepiuning dan sepakat untuk tidak menggelar pujawali pada Buda Manis Prangbakat ini, karena pelinggih belum bisa diperbaiki,” tutupnya.

Diberitakan sebelumnya Pohon Asam yang berada di areal jeroan Pura Dalem Desa Pakraman Joanyar, Kecamatan Seririt tumbang. Sejumlah pelinggih pun rusak tertimpa pohon yang telah berusia lebih dari dua abad ini. Bahkan salah seorang masyarakat sempat kerauhan lantaran penghuni di pohon keramat ini telah bergeser.

Adapun sejumlah pelinggih pun mengalami keruskan seperti piasan pura dalem dan pelinggih taru asam mengalami kerusakan berat. Begitu pula denang pelinggih sekepat sari, surya dan taksu yang tak luput dari kerusakan. Hanya saja masih kategori ringan.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia