Minggu, 21 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Gunung Agung Erupsi 1.000 Meter, Ini Langkah Panitia Panca Wali Krama

15 Maret 2019, 19: 31: 17 WIB | editor : I Putu Suyatra

Gunung Agung Erupsi 1.000 Meter, Ini Langkah Panitia Panca Wali Krama

ERUPSI: Gunung Agung di Rendang, Karangasem mengalami erupsi dengan tinggi kolom abu 1.000 meter pada pukul 18.27, Jumat (15/3). (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, AMLAPURA - Gunung Agung di Rendang, Karangasem mengalami erupsi lagi. Data di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVBG), erupsi Jumat (15/3) terjadi pukul 18.27 dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 1.000 meter di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas sedang condong ke arah barat. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi sekitar 1 menit 23 detik.

Aktivitas gunung tertinggi di Bali itu tetap level III (Siaga). Masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apapun di zona perkiraan bahaya, yaitu di seluruh area di dalam radius 4 kilometer dari kawah puncak gunung. 

Kepala Pelaksana  Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karangasem Ida Bagus Ketut Arimbawa menegaskan, masyarakat tidak panik dengan aktivitas gunung tersebut. Meskipun setelah erupsi, sejumlah daerah terpapar abu vulkanis. Salah satunya wilayah Desa Ban, Kecamatan Kubu.

Aktivitas  Gunung Agung, Karangasem yang berada di level III (Siaga), itu membuat panitia Karya Tawur Agung Panca Wali Krama dan Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Besakih melakukan langkah antisipasi skala maupun niskala. Dari sisi niskala secara rutin mohon agar Gunung Agung tidak erupsi. Meskipun harus erupsi agar tidak berdampak terhadap jalannya karya. Upacara khusus digelar di Pura Bangun Sakti yang masih berada di kawasan Pura  Besakih. 

Ketua Panitia Karya Jro Mangku Widiartha, Jumat (15/3) mengungkapkan, upacara digelar di Pura Bangun Sakti karena pura itu ada kaitan dengan  Gunung Agung. Meskipun tidak merinci upacara termasuk upakaranya, Mangku Widiartha menegaskan bahwa upacara rutin digelar tiap hari sejak negtegang karya, 6 Februari 2019.

I Gusti Mangku Sandi, pemangku di pura setempat bertanggung jawab terhadap upacara itu. Upacara digelar hingga rangkaian Panca Wali Krama dan Ida  Bhatara Turun Kabeh selesai digelar atau masineb. Seperti diketahui, karya masineb 12 April 2019. Selain upacara khusus di Pura Bangun Sakti, setiap penganyar juga membuat banten khusus nunasica agar Gunung Agung tetap tenang.

"Kalau penganyar ini di Padma Tiga," ujar Bendesa Adat Besakih itu. 

Sedangkan antisipasi secara skala, pihak panitia sudah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait kebencanaan. Baik pemerintah maupun relawan. Sudah ada pos khusus untuk kebencanaan. Hal itu penting karena Pura Besakih berada sekitar 6 kilometer dadi puncak kawah Gunung Agung. "Bilamana terjadi sesuatu supaya cepat. Kami berharap karya berjalan dengan baik," harapnya. 

Sementara itu, disinggung terkait erupsi yang terjadi, Mangku Widiartha menegaskan bahwa situasi di areal pura dan Desa Adat Besakih pada umumnya tetap kondusif. Tidak ada kepanikan. "Kebetulan pamedek juga masih sepi di pura. Mereka yang ada di sana tetap tenang. Aktivitas yang tidak diperkenankan itu 4 kilometer dari puncak gunung Sedangkan Pura Besaakih sekitar 6 kilometer," tegasnya. 

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia