Kamis, 22 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Kolom
LOLOHIN MALU

Pilih Mana, Bali Juara Satu di Dunia atau Satu-satunya di Dunia?

Oleh: Made Adnyana Ole

16 Maret 2019, 07: 52: 07 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pilih Mana, Bali Juara Satu di Dunia atau Satu-satunya di Dunia?

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

SETIAP ada berita Pulau Bali berada di peringkat pertama atau juara satu di dunia -- tentu saja dalam urusan pariwisata -- banyak orang Bali bergembira dan mengumbar rasa bangga bahkan kadang dengan kata bombastis. Itu tampak misalnya dari melimpahnya tanda jempol dan komentar ketika berita suka-cita itu diunggah di media sosial.

Lha, apa itu salah? Ya, tentu saja tidak salah. Mosok bangga sama pulau sendiri, cinta sama pulau sendiri, sayang sama pulau sendiri, itu salah? Tidak.

Hanya saja, ya, itu.  Kita gembira memasang jempol, atau mengunggah komentar dengan kata-kata “mantaf”, “top” dan “amazing”, atau mengetik kalimat lebih panjang, seperti: “Wah, pulau tercintaku kembali juara satu. Kecil tapi hebat”. Dan, setelah itu kita bahkan tak ingat atau tak tahu lagi kenapa Bali jadi juara satu?

Apakah karena hotelnya yang megah dengan pelayanan yang sangat memuaskan, atau karena warga pulaunya yang santun, sopan, ramah, dan selalu mencakupkan tangan seperti caleg jelang Pemliu. “Halo, Sir. Welcome to Bali.” Atau, apakah karena alamnya yang indah dengan sawah berundak dan pantai yang landai? Atau, apakah juara satu diraih karena sawah dan pantai sudah tak ada lagi akibat ditutupi hotel-hotel megah dengan pelayanan yang amat memuaskan?

Kita juga tak mau tahu, siapa yang berhak menyebut Bali menjadi juara satu, juara dua atau juara tiga?  Atau, kita benar-benar tak paham untuk apa Bali jadi juara satu, apa gunanya Bali juara satu? Atau, apakah Bali buruk jika ia menjadi juara dua atau juara tiga?

Saya sih  kerap bertanya-tanya seperti itu. Mungkin karena saya kurang kerjaan saja maka saya punya waktu banyak untuk bertanya-tanya. Tapi, itu bukan pertanyaan sinis. Terus terang, saya bangga juga jika Bali diberitakan dapat peringkat satu, apalagi saat Desa Penglipuran disebut sebagai salah satu desa terbersih di dunia. Hanya untuk juara katagori tertentu, jempol saya sering terlalu berat untuk saya unggah di media sosial.

Saya sebenarnya lebih bangga jika Bali tetap menjadi satu-satunya di dunia, meski tak ada lembaga yang menyebutnya sebagai juara satu di dunia. Siapa yang tak bangga punya spot selfie paling indah dan satu-satunya di dunia, seperti spot selfie di tangga berundak menuju Penataran Agung Pura Besakih? Pura Besakih boleh saja tak masuk daftar 7 Keajaiban Dunia, tapi bangunan di lereng Gunung Agung itu adalah satu-satunya di dunia. Jika ia satu-satunya di dunia, maka ia akan terus-terusan jadi juara satu.

Meski di sejumlah tempat di luar Bali terdapat banyak pulau kecil di tengah laut, lalu ada yang mencoba membangun Pura di atasnya agar mirip-mirip dengan Tanah Lot di Tabanan, tetaplah Tanah Lot menjadi satu-satunya di dunia. Meski terdapat banyak terasering persawahan di sejumlah daerah di Indonesia, atau di sejumlah negara di dunia, tapi Jatiluwih di lereng Gunung Batukaru tetap menjadi satu-satunya di dunia.

Orang bisa saja membangun Pura atau semacam tempat suci lain di pulau kecil tengah laut, atau memiliki warisan terasering persawahan di lereng bukit, tapi jarang orang bisa melakukan dengan instans bagaimana memberi spirit atau jiwa pada tempat itu. Tanah Lot bukan sekadar Pura di tengah laut, dan Jatiluwih bukan sekadar sawah di lereng bukit, tapi Tanah Lot dan Jatiluwih adalah tempat yang terhubung secara misterius dengan orang-orang di sekitarnya, baik secara nyata maupun maya. Hubungan-hubungan misterius itulah yang membuat tempat itu menjadi satu-satunya di dunia.

Bukankah subak sebagai sebuah tempat dan organisasi tradisional kerap dibangga-banggakan sebagai satu-satunya dan tiada duanya di dunia? Itulah kebanggaan yang harus dirawat agar ia tetap menjadi kebanggaan. Meski misalnya Bali tak disebut juara satu.

Syahdan, Antonin Artaud, seorang dramawan terkemuka Prancis, sangat kaget menyaksikan drama tari Calonarang.  Itu terjadi sekitar tahun 1931. Saat itu dialngsungkan pementasan Calonarang oleh para seniman Bali yang dipimpin oleh Cokorda Gede Raka Sukawati di arena Paris Colonial Exhibition. Artaud dan para pekerja seni pertunjukan di Eropa gempar.

Banyak tokoh teater kemudian menyebut calonarang, apalagi jika dipentaskan di kuburan di Bali, adalah sebuah pementasan yang melampaui batas-batas modern, atau disebut sebagai bentuk teater postmodern. Calonarang bisa disebut sebagai satu-satunya bentuk teater yang mendobrak batas-batas teori seni pertunjukkan yang dipegang teguh para seniman modern.

Lihat bagaimana  bangkai matah (orang hidup yang berperan sebagai bangkai) diarak keluar arena pementasan lalu diikuti oleh penonton, bahkan ikut masuk ke ke kuburan. Lalu di akhir pertunjukan para pemain ngunying, menusuk dirinya dengan keris secara bersama-sama. Semua itu adalah bentuk pertunjukkan satu-satunya di dunia, dan kita menyebutnya sebagai kesenian tradisional bahkan kuno.

Jadi, dengan begitu, apakah kita memerlukan lagi julukan sebagai juara satu, atau julukan sebagai terbaik di dunia, padahal kita memiliki sesuatu yang tak dimiliki negara lain di dunia? Banyak hal satu-satunya di dunia yang kita miliki sejak dulu. Dan itulah sesungguhnya daya tarik Bali sehingga pelancong datang ke Bali.

Namun, kini, mungkin dengan alasan menarik wisatawan sebanyak-banyaknya, Bali lantas ditambah-tambahi hal-hal yang sesungguhnya sudah jamak ada di dunia. Kebun binatang ada di mana-mana dan Bali merasa harus ikut memilikinya.  Water park (orang desa menyebutnya tukad-tukadan/sungai-sungaian) dibangun di mana-mana. Banyak yang bangkrut, banyak dibangun kembali.

Apa yang ada di negara lain, seakan-akan harus ada juga di Bali. Kita seakan tak percaya diri punya banyak hal yang satu-satunya di dunia.  Kita seakan harus punya semua hal yang ada di dunia, dengan begitu seluruh turis di dunia, apa pun seleranya, dianggap akan mau berbondong-bondong ke Bali.

Padahal membangun yang satu-satunya di dunia itu amatlah susah. Karena susah, maka leluhur kita hanya melimpahkan tugas kepada kita untuk merawatnya agar ia tetap istimewa jadi satu-satunya di dunia. Membangun yang sudah banyak terdapat di dunia itu mudah. Bahkan membangun taman bersalju pun  pasti bukan pekerjaan sulit. Apalagi membangun gedung-gedung seperti di AS. Itu pekerjaan kecil alias cenik gae to alias CGT. 

Tunggu dulu. Ada sesuatu yang mungkin sulit dibangun di Bali. Apa itu? Padang gurun pasir berhektar-hektar seperti di Timur Tengah. Tapi, jika sawah hilang, bukit  gundul, hutan bakau punah, dan mata air menghilang, maka gurun pasir mungkin akan terbangun dengan sendirinya. (*)

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia