Minggu, 15 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Tumpek, Antara Esensi dan Pergeseran Praktik

16 Maret 2019, 08: 16: 46 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tumpek, Antara Esensi dan Pergeseran Praktik

KANDANG : Tumpek Kandang nyaris terlupakan oleh sebagian orang, lantaran berdalih tak punya ternak. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Seiring bergulirnya waktu, praktik agama Hindu juga ikut bergulir. Namun, pergerakannya tanpa disadari justru menggerus esensinya, seperti soal Tumpek yang mulai salah kaprah.

Segala praktik keagamaan bersumber dan mengacu pada sastra. Namun, praktik di lapangan selalu berkembang. Ada inovasi yang bergeser dari esensi sastra. Demikian diungkapkan Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Badung, I Gede Rudia Adiputra kepada Bali Express (Jawa Pos Group) belum lama ini di Denpasar.


Rudia  mencontohkan soal  Tumpek Landep. Kata Rudia, Landep yang bermakna tajam, berhubungan dengan idep (pikiran). Sehingga Tumpek Landep sesungguhnya momentum untuk mempertajam pikiran dan jnana (kemampuan spiritual). Kemudian ritual diberikan kepada pusaka-pusaka yang bertuah. Lantaran pusaka-pusaka bertuah dominan berbahan besi, pemikiran kemudian berkembang. Ritual bergeser ke peralatan lainnya, seperti alat dapur, sepeda, motor, mobil, dan sebagainya. Sementara esensinya menyampaikan ucapan angayubagia kepada Sang Hyang Pasupati, tidak dilakukan. "Justru dilakukan di kendaraan, mobil, motor, dan lainnya. Tapi, kepada Beliau yang memberikan kita ketajaman pikiran, sepertinya dikesampingkan, karena ketidaktahuan," terangnya.


Oleh karena itu, pihaknya ingin mengembalikan esensi Tumpek Landep, yakni mengucapkan terima kasih kepada Sang Hyang Pasupati. Dimana? Di merajan. Tepatnya jika memiliki Padmasana. Sementara secara spirit, dilakukan dengan belajar dan berlatih keterampilan. "Soal senjata atau kendaraan yang kita miliki, silakan diprayascitta. Tujuannya, agar mala (kotor) diruwat oleh Sang Hyang Pasupati," jelas mantan Rektor IHDN Denpasar ini.


Selanjutnya, Tumpek Uye atau Tumpek Kandang, lanjut Rudia, untuk memberikan hormat kepada Sang Hyang Iswara. Tujuannya agar Beliau senantiasa menjaga keberadaan sarwa prani, binatang, dan sebagainya agar bisa menjadi sumber energi kehidupan. "Nah, sekarang banyak teman-teman kita yang hidup di perumahan, di BTN, sepertinya merasa bebas, karena tinggal beli saja. Tapi melalui Tumpek Kandang, kita mengucapkan terima kasih kepada Sang Hyang Iswara yang telah menciptakan sarwa prani itu. Bukan karena tidak beternak, kemudian mengabaikan esensi hari suci tersebut," paparnya.


Pada Tumpek Wariga, lanjutnya, umat Hindu di Bali juga mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Sang Hyang Sangkara yang tujuannya memuliakan tumbuh-tumbuhan. "Karena tumbuh-tumbuhan adalah juga ciptaan-Nya. Siapa sih yang bisa hidup tanpa tumbuh-tumbuhan," tanyanya.
Nah, inilah yang telah didiskusikan kembali oleh pihaknya dalam pasamuhan PHDI Badung tentang Tumpek beberapa waktu lalu. Hasilnya akan segera disosialisasikan. "Kami dalam pasamuhan sudah mohon petunjuk dan arahan-arahan sulinggih," ucapnya.


Muaranya nantinnya adalah terbitnya buku penuntun. Karena menurutnya sumber sastra sudah ada, tinggal menyambungkan kepada masyarakat di era sekarang. "Kami memohon masukan-masukan, kemudian disinkronkan dengan sastra, nanti praktiknya di lapangan seperti apa," pungkasnya.

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia