Rabu, 18 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

Pebisnis Prediksi Tahun Politik Tidak akan Pengaruhi Kebijakan Ekonomi

18 Maret 2019, 08: 52: 31 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pebisnis Prediksi Tahun Politik Tidak akan Pengaruhi Kebijakan Ekonomi

Alex Purnadi Chandra (AYU AFRIA UE/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Para pebisnis yang merupakan nasabah BPR Lestari mengadakan pertemuan 4th Bali Business Round Table di BNDCC Nusa Dua, Kabupaten Badung Sabtu (16/3) malam. Selain memaparkan pertanggungjawaban kinerja selama ini, kumpulan pebisnis ini membahas pengaruh tahun politik Pemilu pada 17 April mendatang terhadap kebijakan ekonomi yang menentukan bisnis mereka.

Menurut Alex Purnadi Chandra, pendiri BPR Lestari dan Sekolah Akutansi dan Keuangan Perbankan saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) menjelaskan, pihaknya sengaja menghadirkan dua orang narasumber kompeten khusus untuk membahas masalah tersebut dan pengaruhnya terhadap ekonomi Indonesia.

“Kita ini kan lagi tahun politik. Apakah ekonomi Indonesia in on right track apa enggak sebenarnya ini. Apa akibatnya kalau 01 yang terpilih. Kalau 02 yang terpilih kayak apa. Gitu kan? Kami ini pebisnis bukan politikus, kami hanya ingin tahu oh kalau Pak Prabowo yang menang apakah terjadi perubahan kebijakan ekonomi yang besar?. Kalau Pak Jokowi apakah yang dikerjakan selama ini sudah baik?,” paparnya.

Tidak dipungkiri pihaknya ingin para pemegang saham BPR Lestari cukup mendapatkan informasi yang akurat terkait pengaruh tahun politik tersebut terhadap kebijakan ekonomi. Sehingga dengan diselenggarakannya acara ini, akan memberikan input bagi para pebisnis khususnya pemegang saham dan nasabahnya di Bali. Mengingat pemegang saham di bank sebenarnya hanya mengusai kurang lebih sebesar 13 sampai 15 persen dari total asetnya. Sisanya 80 persen adalah dipegang oleh nasabah.

 “Selama ini direksi membuat RUPS untuk menyampaikan pertanggungjawaban kepada para nasabahnya. Nasabah itu merupakan  pemegang saham terbesar sebenarnya,” tegasnya.

Dalam acara yang dihadiri lebih dari 1000 orang ini, Alex menyampaikan ekonomi itu bersifat cyclical, ada naik dan ada turun. Dan tidak terlepas dari kondisi makro, yang memang harus diikuti. Dalam lima tahun belakangan ini diakuinya is the worst atau is the hardest years dalam dunia BPR. Dimana kala pemerintahan SBY sebelumnya pertumbuhan ekonomi dikatakannya tinggi berkisar enam sekian persen. Namun pada era pemerintahan Jokowi pertumbuhan tersebut turun.

Mengapa justru turun?, Alex menyebut penurunan ini bukan kesalahan dari kebijakan Jokowi melainkan karea siklus ekonomi yang mengalami penurunan. Oleh karena itu sebagai pebisnis harus bisa menyiasati gelombang ekonomi tersebut. Dan setiap bankers atau pengusaha harus memahami siklus ini dan harus mengantisipasinya.

“Akan terjadi krisis nggak?, Pasti akan terjadi krisis. Pasti. Ini unpredictable. Akan berubah nggak perekonomian?, Akan berubah,pasti. Jadi yang penting adalah mempersiapkan diri terhadap perubahan-perubahan. Mempersiapkan diri kalau ada krisis dan seterusnya. Ini PR-nya,” jelasnya.

Sekarang ini perubahan sangat tergantung dengan teknologi. Sementara itu bagaimana BPR bisa beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan kedepannya, diakuinya ini merupakan tantangan terbesar. Sehingga siapapun yang menang dalam tahun politik ini tidak akan menjadi masalah. Lantaran bank juga mempunyai independensi dan ukurannya sendiri.

BPR Lestari sendiri telah bertranformasi tahun ini, diantaranya digitalisasi sebagai upaya target menjadi bank transaksional. Mengingat BPR itu sebenarnya hanya melayani deposito bukan untuk transaksional. Selama 20 tahun BPR Lestari menjalankan produknya hanya untuk deposito, akibatnya akan berpengaruh pada kreditnya yang mahal.

“Jadi kalau dilihat NPL BPR lebih tinggi dari bank umum. Iya pasti lebih tinggi, karena ia memberikan kredit kepada segmen yang lebih resiko dibandingkan perbankan umum. Kenapa masuk kesitu, karena cost-nya mahal,” ucapnya.

Sehingga pihaknya sekarang ingin menghidupkan dana murah di BPR Lestari, dengan teknologi yang ada. Sehingga jika rekening transaksi di BPR hidup, cost-nya akan turun dan berefek pada kreditnya turun. Jika nantinya berhasil bertranformasi dalam hal ini, maka BPR Lestari disebutnya akan Bankable.

 “Lihat BPR Lestari sudah punya Credit Consumer Loan (KPR). KPR-nya sudah 9,75 lho ya. Bersaing dengan bank umum. Profitnya tipis sekali ini karena cost-nya tipis. Hampir tidak ada untung, oke. Tapi resikonya kecil. Di unbankable resikonya besar tapi profit marginnya besar. Kalau kita bisa mengelola resikonya, ini makanan,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu narasumber Faisal Bahri selaku Indonesian Ekonomist Analyst menyampaikan bahwa ekonomi Indonesia anteng tumbuh disekitar 5 persen saja. Sehingga pertumbuhan tidak mengalami stagnasi. Dengan inflasi nasional 3 persen, sementara Bali 1 persen.

"OK pengangguran di Bali rendah dan kualitas hidup baik. Ini yang patut di contoh. Kalau ada apa-apa dengan ekonomi nasional, Bali nggak akan terdampak karena struktur ekonomi beda," ungkapnya.

Siapapun presidennya tidak akan mempengaruhi pada ekonomi. Siapapun presidennya ekonomi tumbuh 4,8 persen. Masyarakat ini kuat, fondasi belanja dengan kenaikan 5 persen stabil. Mau pertumbuhan sejelek-jelekya belanja masyarakat masih bagus. Pemerintah belanja naik 5 persen, sementara 4,8 persen sudah di tangan. Siapapun presidennya. Kalaupun turun 4,9 persen itu karena resep kedua capres sama, sambungnya.

(bx/afi/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia